Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an yang dikenal sebagai surat Makkiyah, yang artinya diturunkan sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Surat ini sarat dengan kisah-kisah para nabi terdahulu, penegasan tentang keesaan Allah SWT, serta peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Salah satu ayat kunci yang sering dibahas dalam konteks peringatan dan fungsi wahyu adalah ayat keenam, yaitu **QS Al-Hijr ayat 6**.
Ayat 6 dari Surah Al-Hijr ini berfungsi sebagai penegasan historis dan teologis yang sangat penting. Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi penolakan keras, terutama dari kaum musyrikin Mekkah yang menganggap wahyu yang dibawanya adalah karangan atau kebohongan, Allah SWT memberikan respons melalui ayat ini. Inti dari ayat ini adalah penegasan bahwa tradisi pengutusan rasul, pemberin peringatan, dan penurunan kitab suci bukanlah hal baru. Ini adalah pola ilahi yang telah diterapkan secara konsisten sejak zaman dahulu kala.
Frasa "وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا" (Walaqad arsalnā) mengandung penekanan yang kuat, menunjukkan kepastian dan kebenaran mutlak dari fakta bahwa Allah telah mengutus para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Pengutusan ini tidak dilakukan secara sporadis, melainkan ditujukan kepada "فِرَقِ الْأَوَّلِينَ" (firaqil-awwalīn), yaitu kelompok-kelompok atau umat-umat yang hidup sebelum masa kenabian Muhammad. Ini menunjukkan bahwa setiap periode sejarah peradaban manusia yang memiliki kehendak bebas dan mencapai tingkat kedewasaan intelektual, pasti telah didatangi oleh utusan ilahi.
Mengapa penegasan ini penting? Tujuan utama pengutusan rasul adalah untuk membawa peringatan (tadzkirah) dan petunjuk (huda). Dengan mengingatkan kaum Quraisy bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini—bahwa umat-umat terdahulu juga telah diperingatkan—Allah SWT memberikan dua pelajaran penting. Pertama, ini memvalidasi klaim kenabian Muhammad SAW sebagai kelanjutan dari rantai kenabian. Kedua, ini berfungsi sebagai ancaman sekaligus harapan. Ancaman bagi mereka yang menolak, dan harapan bagi mereka yang mau mendengarkan.
Kisah-kisah kaum terdahulu yang disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti kaum Nabi Nuh, kaum 'Ad, kaum Tsamud, dan lainnya, selalu berakhir dengan kehancuran bagi mereka yang mendustakan. Ketika Al-Hijr ayat 6 menyebutkan "firaqil-awwalīn," ia secara implisit merujuk pada konsekuensi yang mereka terima. Kaum musyrikin saat itu diperingatkan: jangan samakan diri Anda dengan generasi yang telah lalu. Jika mereka dihancurkan karena kekafiran, maka kalian juga akan menghadapi takdir serupa jika terus bersikeras menolak wahyu.
Ayat ini menegaskan bahwa siklus penolakan, kesombongan, dan akhirnya azab, bukanlah fenomena yang baru muncul di zaman Nabi Muhammad SAW. Ini adalah pola perilaku manusia yang berulang dalam sejarah. Ketika manusia merasa cukup dengan pengetahuan atau kekuatan mereka sendiri, mereka cenderung menolak bimbingan transenden yang datang dari luar lingkup pemikiran mereka. Dalam konteks modern, pelajaran ini tetap relevan: seringkali, kita merasa bahwa masalah atau solusi kontemporer kita begitu unik sehingga tidak bisa diselesaikan dengan prinsip-prinsip dasar kebenaran yang telah diwariskan.
QS Al-Hijr ayat 6 menuntut introspeksi kolektif. Ia memaksa pendengar untuk melihat ke belakang, merenungkan nasib generasi yang telah lenyap, dan menyadari bahwa peringatan yang dibawa oleh rasul bukanlah opini baru, melainkan kebenaran abadi yang diulang-ulang karena manusia cenderung lupa dan jatuh dalam kekeliruan yang sama. Ketaatan pada risalah adalah jaminan kelangsungan peradaban, sementara penolakan adalah jalan menuju kehancuran yang telah terbukti dalam catatan sejarah ilahi. Dengan demikian, ayat ini adalah fondasi pembenaran bagi dakwah Nabi SAW, sekaligus peringatan keras yang mengharuskan setiap umat untuk menimbang baik-baik respons mereka terhadap seruan kebenaran.
Pemahaman mendalam terhadap ayat ini membuka pintu untuk menelaah ayat-ayat berikutnya dalam Surah Al-Hijr, di mana Allah SWT kemudian memberikan contoh spesifik mengenai bagaimana kaum-kaum terdahulu tersebut merespons para rasul yang diutus kepada mereka, memperkuat pesan bahwa jalan kebenaran selalu sama, namun jalan penolakan selalu berujung pada kerugian abadi.