Gambar Ilustrasi: Sikap Rendah Hati dan Pengabdian
Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, memuat banyak sekali pelajaran penting mengenai etika, moralitas, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Salah satu ayat yang sering ditekankan dalam kajian akhlak dan adab adalah ayat ke-24, yaitu QS Al-Isra Ayat 24. Ayat ini memberikan perintah fundamental yang menjadi pilar dalam membangun hubungan sosial dan spiritual yang harmonis.
Ayat ini berbunyi:
Perintah ini secara spesifik ditujukan kepada seorang anak mengenai bagaimana seharusnya ia memperlakukan kedua orang tuanya. Ayat ini menegaskan bahwa penghormatan dan kasih sayang harus terus mengalir kepada orang tua, bahkan ketika mereka sudah memasuki usia renta.
Fokus utama dari QS Al-Isra ayat 24 terletak pada dua kata kunci: "tawadhu'" (merendahkan diri) dan "rahmah" (kasih sayang). Kerendahan hati di sini bukanlah berarti menjadi lemah atau tidak berdaya, melainkan sebuah sikap menghargai dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang yang telah membesarkan kita. Ketika orang tua mencapai usia lanjut, mereka mungkin mengalami penurunan fisik dan mental. Pada fase inilah, seorang anak dituntut untuk menunjukkan empati tertinggi.
Kewajiban berbakti kepada orang tua (birrul walidain) tidak berakhir ketika anak beranjak dewasa atau ketika orang tua menjadi lemah. Sebaliknya, tuntutan untuk berbuat baik justru semakin besar. Kesabaran dan kelembutan hati menjadi kunci utama dalam menjalankan amanah agung ini. Penggunaan kata "sayangilah mereka" menunjukkan bahwa perlakuan harus didasari oleh rasa cinta yang tulus, bukan sekadar kewajiban formal semata.
Setelah memerintahkan tindakan konkret (merendahkan diri dan penuh kasih sayang), Allah SWT mengajarkan doa spesifik dalam kelanjutan ayat tersebut. Permintaan seorang anak agar Allah menyayangi kedua orang tuanya "sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil" adalah puncak dari pengakuan atas jasa pengorbanan mereka.
Doa ini memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa ketaatan seorang anak bukan hanya diukur dari tindakan fisik, tetapi juga dari kesadaran spiritualnya. Mengingat betapa besar usaha orang tua dalam membesarkan, mendidik, dan merawat kita saat kita lemah—suatu proses yang sering kali penuh kesulitan dan pengorbanan diri—maka doa semacam ini adalah bentuk terima kasih yang paling murni dan abadi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, di mana nilai-nilai individualisme sering kali mendominasi, pengingat dari QS Al-Isra ayat 24 ini menjadi sangat vital. Fenomena penelantaran orang tua lansia, meskipun tidak selalu disadari, seringkali terjadi akibat kesibukan duniawi atau kurangnya pemahaman tentang prioritas spiritual.
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Kita harus berbakti kepada Allah (sebagaimana diperintahkan di ayat sebelumnya, yaitu beribadah kepada-Nya), namun bakti tersebut harus diimbangi dengan bakti luar biasa kepada kedua orang tua. Islam menempatkan kedudukan orang tua hampir setara dengan hak Allah dalam konteks perlakuan harian.
Menerapkan ayat ini berarti kita harus proaktif. Kita tidak boleh menunggu orang tua meminta bantuan, melainkan harus senantiasa mendahului mereka dengan pelayanan terbaik. Kerendahan hati mencegah kita dari sikap meremehkan nasihat atau bahkan pandangan mereka, mengingat pengalaman hidup mereka jauh lebih kaya dibandingkan kita.
Keluarga adalah unit dasar masyarakat. Ketika hubungan anak dan orang tua harmonis berdasarkan ajaran ayat ini, maka stabilitas sosial akan tercipta. Anak yang terbiasa bersikap lembut dan hormat kepada orang tuanya cenderung akan menjadi pribadi yang santun dalam lingkup sosial yang lebih luas. Sebaliknya, kerusakan dalam hubungan domestik seringkali berawal dari hilangnya rasa hormat dan empati terhadap orang yang melahirkan kita.
Oleh karena itu, QS Al-Isra ayat 24 bukan sekadar tuntunan ritual, melainkan cetak biru (blueprint) untuk membangun karakter mulia. Ia adalah pengingat abadi bahwa sebelum kita mengharapkan rahmat dari Allah, kita harus menunjukkan rahmat dan pengabdian tertinggi kita kepada dua manusia yang paling berjasa dalam eksistensi kita. Dengan demikian, keberkahan hidup akan mengalir dari fondasi penghormatan yang kokoh ini.