Pelajaran dari QS. Al-Isra Ayat 80

Ilustrasi Jalan dan Cahaya Gambar siluet jalan lurus membentang menuju titik terang di kejauhan, melambangkan petunjuk. Petunjuk

Teks Al-Qur'an (QS. Al-Isra: 80)

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

Terjemahan

"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang menolong'."

Penjelasan Ayat

Ayat ke-80 dari Surah Al-Isra’ (Bani Isra’il) merupakan doa yang sangat mendalam, diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW, namun memiliki makna universal yang dapat diamalkan oleh setiap Muslim yang menghadapi transisi atau menghadapi tantangan kehidupan. Doa ini mencakup tiga permohonan inti yang berkaitan dengan integritas, keberhasilan, dan dukungan Ilahi.

1. Memohon Tempat Masuk yang Benar (Mudkhala Sidqin)

Permintaan pertama, "masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar", sering ditafsirkan sebagai permohonan agar setiap permulaan atau langkah awal yang diambil seorang mukmin selalu berada di jalan yang diridai Allah SWT. Ini bukan hanya tentang lokasi fisik, tetapi lebih kepada kondisi spiritual dan moral. Apabila seorang muslim memulai sebuah usaha, pekerjaan baru, hijrah, atau bahkan memasuki sebuah situasi, ia memohon agar permulaan itu didasari oleh kebenaran (sidq) dan kejujuran, menjauhkannya dari tipu daya atau niat yang buruk.

2. Memohon Tempat Keluar yang Benar (Mukhraja Sidqin)

Permintaan kedua adalah kebalikannya, memohon "keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar". Ini adalah permohonan agar ketika masa atau situasi itu berakhir, keluar darinya pun harus dalam keadaan terhormat dan selamat, baik secara fisik maupun spiritual. Misalnya, ketika meninggalkan suatu tempat, ketika pensiun dari pekerjaan, atau bahkan saat menghadapi kesulitan, seorang mukmin berharap akhir dari keadaan tersebut membawanya pada kebaikan dan kebenaran, bukan pada kehinaan atau dosa. Ini mengajarkan pentingnya melihat konsekuensi akhir dari setiap tindakan awal.

3. Memohon Pertolongan Ilahi (Sultanan Nasiro)

Permohonan terakhir adalah yang paling fundamental: "dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang menolong." Kata 'Sultan' di sini tidak selalu berarti kekuasaan politik, melainkan merujuk pada otoritas, kekuatan, atau bukti yang nyata yang dapat menopang kebenaran. Ini adalah pengakuan bahwa usaha manusia terbatas. Untuk mencapai keberhasilan sejati dalam memasuki dan keluar dari kebenaran, dibutuhkan dukungan langsung dari Allah SWT, yaitu pertolongan yang efektif dan pasti membuahkan hasil yang diharapkan.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

QS Al-Isra ayat 80 sangat relevan dalam konteks kehidupan modern yang penuh ketidakpastian. Dalam dunia karier, investasi, atau bahkan memilih lingkungan sosial, ayat ini mengingatkan kita untuk selalu memulai dengan niat yang lurus (mudkhala sidqin). Kita tidak bisa hanya fokus pada keuntungan jangka pendek tanpa memikirkan bagaimana kita akan keluar dari situasi tersebut (mukhraja sidqin). Ketika menghadapi tekanan persaingan atau godaan, kita diingatkan bahwa sumber kekuatan sejati bukanlah popularitas atau kekayaan, melainkan 'pertolongan yang menolong' (sultan nasir) yang datang hanya dari Allah. Doa ini menjadi fondasi bagi setiap Muslim untuk menjalani hidup sebagai perjalanan yang terarah, bukan sekadar kumpulan peristiwa acak.

🏠 Homepage