Surat Al-Isra (atau Al-Isra wal Mi'raj) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 9 hingga 15 mengandung janji kabar gembira bagi orang-orang yang beramal saleh dan peringatan keras bagi mereka yang lalai atau zalim. Ayat-ayat ini menekankan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk lurus menuju jalan yang paling benar.
(9) Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.
Ayat ini menegaskan fungsi utama Al-Qur'an: menjadi kompas moral dan spiritual yang menuntun manusia menuju kebenaran tertinggi (akwam). Bagi mereka yang mematuhi petunjuk ini dengan tindakan nyata (amal saleh), Allah menjanjikan balasan yang tiada tara besarnya.
(10) Dan bahwasanya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.
Sebagai penyeimbang ayat sebelumnya, ayat 10 berisi peringatan. Pengingkaran terhadap Hari Pembalasan (Akhirat) adalah akar dari segala kesesatan, dan konsekuensinya adalah azab yang menyakitkan, menekankan pentingnya pertanggungjawaban akhirat.
(11) Dan manusia berdoa untuk kejahatan seakan-akan ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia itu tergesa-gesa.
Ayat ini menyoroti sifat dasar manusia yang cenderung terburu-buru (ʿajūl). Seringkali, dalam emosi (marah atau putus asa), manusia memohon hal-hal yang merugikan dirinya sendiri tanpa menyadari dampak jangka panjangnya, berbeda dengan memohon kebaikan yang memerlukan kesabaran.
(12) Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang terang benderang, agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan serinci-rincinya.
Allah mengatur siklus alam (malam dan siang) sebagai bukti kekuasaan-Nya dan sebagai sarana bagi manusia. Siang hari diciptakan untuk bekerja mencari rezeki (karunia), sementara pergantian waktu membantu manusia dalam perhitungan waktu, kalender, dan sejarah. Ketertiban kosmik ini adalah bukti detail perancangan Ilahi.
(13) Dan tiap-tiap manusia telah Kami kalungkan (catatan perbuatannya) padanya, dan Kami akan memperlihatkan kepadanya kitab (catatan amal) pada hari kiamat, lalu ia dapat melihatnya dalam keadaan terbuka.
(14) (Dikatakan kepadanya): "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu sendiri".
Konsep pertanggungjawaban individu ditekankan di sini. Setiap perbuatan (baik atau buruk) telah dicatat dan melekat pada diri manusia ("dikukuhkan di lehernya"). Pada Hari Kiamat, catatan itu akan diserahkan, dan manusia tidak memerlukan saksi lain; catatan itu sendiri sudah cukup sebagai bukti penghitungan.
(15) Barangsiapa mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri; dan barangsiapa tersesat, maka kerugiannya kembali padanya; dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Ayat pamungkas dalam rangkaian ini adalah pilar keadilan Ilahi. Hasil dari petunjuk atau kesesatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu pelakunya. Tidak ada konsep dosa warisan atau menanggung beban orang lain. Lebih lanjut, Allah menetapkan prinsip rahmat-Nya: tidak ada hukuman tanpa adanya peringatan terlebih dahulu melalui utusan (rasul).
Ayat 9 hingga 15 Surat Al-Isra berfungsi sebagai panduan komprehensif mengenai konsep iman, amal, waktu, dan keadilan. Al-Qur'an adalah petunjuk lurus (Ayat 9); manusia harus berhati-hati terhadap sifat tergesa-gesanya (Ayat 11); dan pertanggungjawaban di akhirat bersifat personal dan adil (Ayat 13-15). Keseimbangan antara janji pahala bagi yang taat dan ancaman azab bagi yang ingkar menjadi penekanan utama, sambil menegaskan bahwa rahmat Allah selalu mendahului hukuman melalui pengutusan para nabi.
Memahami ayat-ayat ini membantu seorang Muslim menata hidupnya berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Allah, menyadari bahwa setiap tindakan dicatat, dan bahwa tujuan akhir adalah meraih karunia-Nya di akhirat.