Tawakal, Kepercayaan, dan Jalan Kehidupan
(QS. Al-Isra: Ayat 3)
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran moral dan spiritual. Salah satu ayat yang paling sering direnungkan adalah ayat ketiga, yang berbicara tentang konsep tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT setelah berusaha semaksimal mungkin. Ayat ini memberikan landasan kuat bagi umat Islam untuk menjalani kehidupan dengan keyakinan penuh bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman dan perhitungan Tuhan.
Ayat ini dimulai dengan penegasan yang sangat mendalam: "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah (menjadikan) itu sesuatu yang mencukupi baginya." Ini adalah janji ilahi yang tidak bersyarat bagi mereka yang menempatkan kepercayaan mereka sepenuhnya pada Sang Pencipta. Dalam konteks kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, tekanan ekonomi, dan tantangan sosial, pesan ini menjadi penyejuk jiwa. Tawakal bukan berarti pasif atau menolak ikhtiar. Sebaliknya, tawakal adalah puncak dari ikhtiar. Kita diperintahkan untuk bekerja keras, merencanakan dengan matang, dan berusaha sekuat tenaga, namun hasil akhir diserahkan kepada kehendak-Nya.
Konsep "mencukupi baginya" (حَسْبُهُ) memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga ketenangan batin, perlindungan dari musibah, dan kemudahan dalam menghadapi kesulitan. Ketika seseorang telah melakukan bagiannya, kekhawatiran yang muncul setelahnya adalah tanda kurangnya tawakal. Allah menjamin bahwa Dia akan menjadi Penolong dan Pelindung yang paling setia bagi hamba-Nya yang berserah diri.
Kepastian Ketetapan Allah
Bagian selanjutnya dari ayat tersebut memberikan penegasan kedua yang tak kalah kuat: "Sesungguhnya Allah Maha Pelaksana urusan-Nya." Kalimat ini menggarisbawahi sifat Al-Qadir (Maha Kuasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana) dari Allah. Tidak ada satu pun perkara di alam semesta ini yang luput dari rencana-Nya. Jika Allah telah menetapkan sesuatu terjadi, maka tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghalanginya. Hal ini menumbuhkan rasa aman; jika Allah menghendaki kebaikan bagi kita, rencana buruk makhluk lain tidak akan pernah berhasil menimpanya.
Puncak dari ayat ini terletak pada frasa penutup yang agung: "Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu." Frasa ini memperkenalkan konsep qadar atau ketetapan. Setiap peristiwa, dari yang paling kecil hingga yang paling besar, telah diukur dan ditentukan oleh ilmu Allah yang maha luas. Dalam Islam, pemahaman akan qadar memberikan dua manfaat besar. Pertama, ia mendorong kita untuk bersyukur atas nikmat yang diterima, karena itu adalah karunia yang telah ditetapkan. Kedua, ia menenteramkan hati saat menghadapi musibah, karena kita menyadari bahwa di balik kejadian tersebut terdapat hikmah yang mungkin belum kita pahami saat ini.
Implikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengamalkan QS. Al-Isra ayat 3 secara praktis menuntut keseimbangan antara usaha (ikhtiar) dan penerimaan (ridha). Seorang pelajar harus belajar giat, tetapi tidak boleh terlalu cemas akan hasil ujiannya—ia telah bertawakal. Seorang pengusaha harus berinovasi dan bekerja keras, namun ia harus menerima fluktuasi pasar sebagai bagian dari ketetapan Allah.
Inti dari ayat ini adalah menggeser fokus dari "apa yang akan terjadi" (yang berada di luar kendali manusia) menjadi "bagaimana saya merespons saat ini" (yang berada dalam kendali kita). Ketika kita meyakini bahwa Allah mencukupi kita, energi yang tadinya habis terkuras oleh kekhawatiran dapat dialihkan untuk amal ibadah dan kebaikan lainnya. Dengan demikian, Al-Isra ayat 3 bukan sekadar doktrin teologis, melainkan panduan praktis menuju kehidupan yang lebih tenang, berintegritas, dan penuh pengharapan, didasarkan pada kepercayaan abadi kepada Sang Pemberi Takdir.