Al-Qur'an senantiasa menyajikan pelajaran moral dan etika universal yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang sangat kuat dalam memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran adalah Surah Al-Maidah ayat ke-28. Ayat ini sering kali menjadi sorotan dalam diskusi mengenai hubungan sosial, keadilan, dan penghakiman ilahi.
"Sesungguhnya pembalasan (hukuman) bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang, atau diasingkan dari negeri (tempat mereka). Itu (pilihan hukuman) adalah kehinaan bagi mereka di dunia, dan bagi mereka di akhirat disediakan siksa yang besar."
Ayat 28 dari Surah Al-Maidah ini turun dalam konteks hukum pidana Islam yang tegas, terutama ditujukan kepada kelompok yang melakukan perbuatan ekstrem. Ayat ini tidak berbicara mengenai sengketa biasa atau kesalahan kecil, melainkan menargetkan perilaku yang disebut sebagai muharabah (perang melawan Allah dan Rasul-Nya) dan ifsad fil ardh (penyebaran kerusakan di muka bumi).
Dalam penafsiran klasik, "memerangi Allah dan Rasul-Nya" sering diartikan sebagai tindakan perampokan bersenjata yang disertai pembunuhan atau terorisme. Tujuannya adalah menciptakan ketidakamanan ekstrem, mengancam eksistensi komunitas Muslim, dan merusak sendi-sendi peradaban yang dibangun di atas prinsip ketuhanan dan keadilan.
Allah SWT dalam ayat ini menetapkan empat kategori sanksi berat yang bersifat alternatif (pilihan, tergantung sifat kejahatan yang dilakukan), menunjukkan betapa seriusnya kejahatan yang dibicarakan:
Penting untuk ditekankan bahwa penerapan hukuman ini memerlukan proses peradilan yang sangat ketat, pembuktian yang sahih, dan penentuan jenis hukuman harus sesuai dengan kadar kerusakan yang ditimbulkan. Ayat ini adalah batasan tegas terhadap anarki dan terorisme dalam pandangan Islam.
Salah satu poin paling menohok dalam ayat ini adalah konsekuensi ganda yang menanti para pelaku. Di dunia, mereka akan menerima khizyan (kehinaan). Kehinaan ini bisa berupa rusaknya reputasi, hilangnya rasa hormat di mata masyarakat, hingga sanksi fisik yang dijatuhkan oleh otoritas yang sah. Kehinaan ini adalah cerminan dari sifat kejahatan mereka yang telah menentang tatanan Ilahi.
Namun, ancaman yang lebih besar terletak di akhirat. Disebutkan bahwa mereka akan menghadapi 'adzabun 'adzim (siksaan yang besar). Ini menegaskan bahwa hukuman duniawi, meskipun berat, hanyalah prelude atau pengantar bagi pertanggungjawaban abadi di hadapan Allah SWT. Kejahatan terhadap sesama, yang pada dasarnya adalah perlawanan terhadap hukum yang ditetapkan Pencipta, tidak akan terhapuskan hanya dengan hukuman duniawi.
Meskipun penerapannya sangat spesifik pada masa kenabian dan kekhalifahan yang menegakkan syariat secara penuh, semangat ayat ini tetap relevan. QS. Al-Maidah ayat 28 mengajarkan bahwa komunitas manapun, termasuk negara modern, memiliki hak dan kewajiban untuk melindungi warga negaranya dari ancaman eksistensial seperti terorisme, kekerasan berskala besar, dan perusakan sistematis. Ayat ini menuntut respon keras dan terukur terhadap aktor-aktor yang secara terang-terangan ingin menghancurkan kedamaian sosial dan moralitas publik.
Ini adalah pengingat bahwa kebebasan berpendapat atau bertindak memiliki batas ketika ia berubah menjadi senjata untuk menindas, merampok, dan menebar teror. Keadilan harus ditegakkan dengan ketegasan agar masyarakat dapat hidup dalam ketenangan, terlindungi dari mereka yang memilih jalan kehancuran.