Mengurai Pesan Agung: QS Al-Maidah Ayat 91

Pendahuluan

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk Ilahi yang komprehensif bagi kehidupan umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang sarat hikmah, Surat Al-Maidah—yang berarti "Hidangan"—menyimpan banyak pelajaran penting, termasuk dalam ayat ke-91. Ayat ini sering kali menjadi titik fokus diskusi mengenai pentingnya menjaga hubungan spiritual dan menghindari perbuatan yang merusak. Memahami konteks dan makna mendalam dari QS Al-Maidah ayat 91 sangat krusial bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat.

بِسْمِ اللهِ Visualisasi Keseimbangan dan Peringatan

Teks dan Terjemahan QS Al-Maidah Ayat 91

Ayat ini secara tegas membahas larangan keras terhadap praktik perjudian (maysir) dan perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai kekejian serta termasuk perbuatan setan. Berikut adalah teks Arab beserta terjemahannya:

إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah (azlam) itu adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Rincian Unsur yang Dilarang

Ayat ini memperkenalkan empat kategori praktik yang harus dijauhi umat Islam. Keempatnya memiliki benang merah yang sama: menjauhkan manusia dari mengingat Allah dan menuntun pada kerugian dunia maupun akhirat.

  1. Khamr (Minuman Memabukkan): Ini mencakup segala zat yang menghilangkan akal dan kesadaran. Dampaknya adalah hilangnya kontrol diri, yang sering kali berujung pada perbuatan dosa lainnya.
  2. Maysir (Perjudian): Maysir adalah segala bentuk pertaruhan atau permainan untung-untungan di mana pihak yang menang mengambil harta pihak yang kalah tanpa adanya usaha yang produktif. Ini menimbulkan sifat serakah dan menghilangkan semangat bekerja keras.
  3. Anshab (Berhala/Batu untuk Kurban): Ini merujuk pada praktik syirik, yaitu menyembah atau mempersembahkan kurban kepada selain Allah SWT, seringkali di atas batu atau monumen tertentu. Ini adalah pelanggaran paling fatal dalam akidah.
  4. Azlam (Mengundi Nasib dengan Panah): Dahulu, orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah tanpa mata untuk menentukan nasib mereka. Ini menunjukkan ketergantungan kepada takhayul daripada kepada ketetapan dan kehendak Allah.

Mengapa Ini Disebut "Rijsun" (Perbuatan Keji)?

Allah SWT mengklasifikasikan keempat hal tersebut sebagai "rijsun", yang berarti kotoran, kekejian, atau sesuatu yang menjijikkan. Kenapa? Karena praktik-praktik ini secara inheren merusak tatanan sosial dan spiritual. Perjudian dan khamr merusak harta dan kesehatan individu, menghancurkan keluarga, dan menciptakan permusuhan. Sementara itu, pemujaan berhala dan mengundi nasib merusak fondasi tauhid, yaitu inti ajaran Islam.

Lebih lanjut, ayat tersebut menegaskan bahwa semua praktik tersebut adalah "min 'amalis syaithan" (termasuk perbuatan setan). Setan berupaya keras agar manusia saling bermusuhan dan melupakan ibadah. Perjudian menghasilkan kebencian antara pemenang dan pecundang, sementara khamr membuka pintu bagi perilaku seksual terlarang dan kekerasan.

Jalan Menuju Keberuntungan (Falah)

Puncak dari ayat ini adalah seruan yang sangat jelas dan tegas: "Fajtanibuhu la'allakum tuflihun" (maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan). Kata kunci di sini adalah "jauhi", bukan sekadar "hindari". "Jauhi" menyiratkan upaya menjauhkan diri secara total, tidak hanya dari melakukan, tetapi juga dari mendekati segala hal yang bisa menyeret pada perbuatan tersebut. Ini berarti menjauhi lingkungan, teman, dan kesempatan yang terkait dengan judi atau khamr.

Keberuntungan (falah) yang dijanjikan di sini bersifat menyeluruh. Dalam konteks Islam, falah bukan sekadar kesuksesan duniawi berupa harta atau jabatan, melainkan pencapaian tertinggi, yaitu mendapatkan keridhaan Allah SWT di dunia dan balasan surga di akhirat. Dengan menjauhi perbuatan keji yang disyariatkan setan, seorang mukmin menjaga kemurnian hati dan kesucian amalnya, membuka jalan bagi rahmat Ilahi untuk mengalir dalam kehidupannya. Pemahaman mendalam terhadap QS Al-Maidah ayat 91 menjadi pengingat abadi bahwa ketenangan sejati datang dari ketaatan total kepada perintah Ilahi.

🏠 Homepage