Surah Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil (mengingat ayat pembukanya), adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Surah ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa, diawali dengan peristiwa monumental yang menjadi salah satu pilar akidah umat Islam: perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra Mi'raj. Namun, isi Surah Al-Isra jauh melampaui narasi perjalanan tersebut; ia adalah kompendium etika, hukum, dan peringatan ilahi yang sangat relevan hingga akhir zaman.
Mukjizat Isra Mi'raj Sebagai Pembuka
Ayat pertama langsung menyingkap keagungan Allah SWT yang mampu memindahkan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Al-Isra), dan kemudian naik ke langit ketujuh (Al-Mi'raj). Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga merupakan peneguhan spiritual bagi Nabi Muhammad SAW di tengah masa-masa sulit dakwah. Keajaiban ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan Allah selalu menyertai para utusan-Nya, memberikan harapan dan ketenangan bagi kaum mukminin.
Prinsip Etika dan Larangan Utama
Setelah membahas Isra Mi'raj, Al-Isra beralih fokus ke tatanan kehidupan sosial dan moralitas individu. Surah ini memuat serangkaian perintah dan larangan yang menjadi pilar masyarakat Islami. Beberapa poin krusial yang ditekankan antara lain:
- Larangan Syirik: Penegasan bahwa menyekutukan Allah adalah kezaliman terbesar (Ayat 22).
- Berbakti kepada Orang Tua: Perintah untuk menghormati kedua orang tua dengan tutur kata yang mulia dan sikap rendah hati (Ayat 23-24).
- Keadilan Ekonomi: Larangan mendekati harta anak yatim (kecuali dengan cara terbaik) dan perintah untuk menunaikan timbangan secara adil (Ayat 31-35).
- Larangan Zina dan Pembunuhan: Menjaga kesucian jiwa dan kehormatan (Ayat 32-33).
Pelajaran Tentang Kesempurnaan Hukum
Surah Al-Isra secara tegas menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan untuk memberikan penerangan penuh mengenai segala sesuatu—hukum, hikmah, dan pedoman hidup. Ayat yang sering dikutip adalah Ayat 89: "Dan sungguh Kami telah mengulang-ulang dalam Al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan bagi manusia, tetapi kebanyakan manusia enggan kecuali mengingkari." Ini menegaskan bahwa kebenaran telah disajikan dengan berbagai cara, namun penolakan seringkali datang dari kesombongan atau hawa nafsu.
Selain itu, surah ini juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak (Ayat 37), mengingatkan bahwa kesombongan adalah jalan menuju kehancuran. Islam menekankan pentingnya tawadhu (kerendahan hati) sebagai ciri utama seorang hamba yang diridhai Allah.
Kisah Bani Israil dan Peringatan Historis
Sebagian besar pertengahan surah ini mengisahkan sejarah Bani Israil setelah masa kenabian Musa AS. Kisah mereka disajikan sebagai pelajaran historis. Mereka diberikan kemudahan dan kekuasaan di bumi, namun karena melanggar janji-janji ilahi dan melakukan kerusakan, mereka kemudian dibalas dengan hukuman. Allah mengirimkan kepada mereka hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar untuk membalas kerusakan yang mereka perbuat.
Penutup dan Konsekuensi Iman
Surah Al-Isra ditutup dengan penekanan kuat tentang perlunya bersyukur, mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Surah ini memanggil manusia untuk merenungkan penciptaan langit dan bumi (Ayat 44) sebagai bukti keesaan-Nya. Inti dari pesan Al-Isra adalah panggilan untuk hidup seimbang, menghormati orang tua, menjaga keadilan sosial, dan selalu menyandarkan segala urusan kepada Allah SWT, sebagaimana Nabi Muhammad SAW diperjalankan di malam hari sebagai persiapan untuk tanggung jawab besar yang menantinya. Memahami QS Al-Isra berarti memahami cetak biru perilaku seorang Muslim yang utuh di tengah masyarakat global.