Kisah kenabian dalam berbagai tradisi spiritual menegaskan satu tujuan utama yang fundamental: diutusnya para rasul oleh Tuhan adalah untuk memimpin umat manusia menuju kesempurnaan, khususnya dalam bidang moralitas dan etika, atau yang sering disebut dengan **akhlak**. Jika kita melihat sejarah, peradaban sering kali maju pesat secara materi, namun tanpa pondasi moral yang kuat, kehancuran selalu membayangi. Rasul hadir sebagai jangkar spiritual yang mengajarkan tata krama tertinggi.
Akhlak bukan sekadar ritual atau kepatuhan formal terhadap aturan lahiriah. Ia adalah cerminan sejati dari keimanan seseorang yang termanifestasi dalam tindakan nyata, interaksi sosial, dan cara memperlakukan sesama makhluk. Rasulullah Muhammad SAW, misalnya, diutus ketika masyarakat Arab sedang terjerumus dalam kekerasan suku, ketidakadilan sosial, dan kebobrokan moral. Misi beliau yang paling sering ditekankan adalah penyempurnaan karakter. Beliau sendiri bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
Fondasi Etika Universal
Pesan para rasul selalu membawa standar etika universal yang melampaui batas-batas geografis dan budaya. Prinsip-prinsip seperti kejujuran (amanah), keadilan (insaf), kasih sayang (rahmah), kesabaran (sabr), dan kerendahan hati adalah inti dari ajaran mereka. Rasul berperan sebagai model hidup (uswatun hasanah). Mereka tidak hanya menyampaikan perintah, tetapi menjalaninya secara konsisten, sehingga ucapan dan perbuatan mereka selaras sempurna.
Kesempurnaan akhlak yang dibawa oleh para rasul berfungsi memperbaiki tiga dimensi hubungan manusia: hubungan dengan Tuhan (vertikal), hubungan dengan sesama manusia (horizontal), dan hubungan dengan alam semesta (lingkungan). Dalam aspek vertikal, akhlak yang baik menuntut ketulusan hati dan pengabdian total. Dalam aspek horizontal, ia menuntut empati, toleransi, dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan. Tanpa panduan rasuli, moralitas cenderung menjadi relatif, mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat atau kekuasaan.
Mewarisi Teladan dalam Kehidupan Modern
Di era modern yang serba cepat dan sering kali materialistis, relevansi misi penyempurnaan akhlak ini semakin terasa mendesak. Isu-isu kontemporer seperti penyebaran hoaks, kesenjangan sosial yang ekstrem, dan degradasi lingkungan sering kali berakar pada kegagalan etika individu maupun kolektif. Para rasul mengajarkan bahwa kemajuan teknologi atau kekayaan materi tidak akan membawa kedamaian sejati jika jiwa manusianya rusak.
Menghidupkan kembali ajaran rasul berarti menginternalisasi bahwa setiap individu adalah agen perubahan. Menyempurnakan akhlak dimulai dari introspeksi diri. Apakah kita berlaku adil saat berbisnis? Apakah kita menjaga lisan saat berinteraksi di media sosial? Apakah kita bertanggung jawab terhadap warisan alam yang kita tinggali? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah cerminan dari seberapa jauh kita telah mengadopsi akhlak yang dibawa oleh para diutus Ilahi.
Pada akhirnya, misi kenabian adalah sebuah tawaran bagi umat manusia untuk mencapai potensi tertinggi mereka sebagai makhluk berakal budi. Rasul diutus bukan untuk mengubah struktur langit dan bumi, melainkan untuk mengubah hati dan perilaku manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju keindahan karakter. Kesempurnaan akhlak adalah warisan abadi yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.