Representasi visual sederhana dari cairan yang diamati (bukan gambar medis aktual).
Air mani, atau semen, adalah cairan biologis yang memiliki peran krusial dalam reproduksi pria. Komposisinya kompleks, terdiri dari sperma (yang hanya menyumbang sekitar 2-5% volume total) dan cairan seminal plasma yang berasal dari vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral. Memahami rupa air mani—termasuk warna, konsistensi, dan volume—adalah salah satu cara termudah bagi pria untuk memonitor kesehatan reproduksi mereka secara umum.
Secara umum, air mani yang sehat memiliki penampilan yang konsisten dari waktu ke waktu. Warna normal yang diharapkan adalah putih keruh hingga sedikit keabu-abuan atau kekuningan muda. Warna ini disebabkan oleh kandungan protein, enzim, dan mineral yang ada dalam cairan prostat dan seminal.
Segera setelah ejakulasi, air mani cenderung menggumpal atau menjadi lebih kental (koagulasi) selama beberapa menit, kemudian mencair kembali (likuefaksi). Perubahan warna yang drastis atau persisten, bagaimanapun, bisa menjadi indikasi adanya masalah yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Meskipun warna putih keruh adalah standar, beberapa variasi minor masih dianggap wajar, namun perubahan signifikan harus diperhatikan.
Air mani yang tampak lebih kuning sering kali disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, jika terjadi penundaan ejakulasi yang cukup lama, cairan yang tertahan di dalam saluran bisa teroksidasi atau terkontaminasi dengan sedikit urine yang tersisa di uretra. Kedua, warna kuning juga bisa disebabkan oleh konsentrasi sperma yang sangat tinggi atau adanya cairan dari epididimis. Namun, jika warna kuning sangat pekat atau disertai bau menyengat, ini bisa menjadi tanda infeksi (seperti prostatitis atau infeksi menular seksual/IMS) atau kondisi medis yang disebut *jaundice* (penyakit kuning) yang mempengaruhi hati.
Darah dalam air mani disebut hemospermia. Meskipun terdengar mengkhawatirkan, dalam banyak kasus (terutama pada pria muda), hemospermia bersifat sementara dan tidak berbahaya. Penyebabnya bisa termasuk peradangan ringan pada uretra atau epididimis, cedera kecil pada area panggul, atau trauma saat berhubungan seksual. Namun, hemospermia yang berulang, persisten, atau disertai nyeri harus segera diperiksa oleh dokter spesialis urologi, karena kadang ini bisa menjadi gejala kondisi yang lebih serius seperti infeksi kronis, batu saluran kemih, atau, dalam kasus yang sangat jarang, kanker prostat atau testis.
Air mani yang menunjukkan rona kehijauan atau kebiruan sangat jarang terjadi dan hampir selalu mengindikasikan adanya infeksi yang signifikan. Warna ini biasanya disebabkan oleh akumulasi sel darah putih yang melawan infeksi bakteri, seringkali terkait dengan kondisi seperti prostatitis (radang kelenjar prostat) atau epididimitis. Konsultasi medis sangat disarankan jika muncul warna ini.
Selain warna, konsistensi atau viskositas air mani juga penting. Air mani normal seharusnya memiliki tekstur yang awalnya sedikit kental dan menggumpal, kemudian mencair dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah ejakulasi.
Perubahan rupa air mani tidak selalu merupakan tanda penyakit. Banyak faktor eksternal dan gaya hidup yang dapat memengaruhinya:
Kesimpulannya, pengamatan rutin terhadap rupa air mani dapat memberikan wawasan awal mengenai kesehatan sistem reproduksi. Selama warna dan tekstur tetap dalam batas normal (putih keruh, mencair setelah ejakulasi), umumnya tidak ada alasan untuk khawatir. Namun, perubahan warna yang mencolok, bau yang tidak biasa, atau kehadiran darah yang persisten memerlukan evaluasi medis profesional untuk memastikan tidak ada kondisi kesehatan yang mendasarinya.