Setelah Al Zalzalah: Memahami Urutan dan Makna Al 'Adiyat

Ketika kita mempelajari Al-Qur'an secara berurutan sesuai dengan susunan mushaf Utsmani yang kita kenal saat ini, setelah menyelesaikan Surah Az-Zalzalah (Surah ke-99), lembaran selanjutnya akan membawa kita pada Surah Al-'Adiyat (Surah ke-100). Kedua surah ini, meskipun berbeda tema utama, seringkali ditempatkan berdekatan karena keduanya membahas esensi pertanggungjawaban di Hari Kiamat, walau dengan penekanan yang berbeda.

Simbol Kuda Cepat Berlari 🏃💨

Visualisasi energi dan kecepatan yang disinggung dalam Al 'Adiyat.

Transisi dari Getaran Bumi ke Kecepatan Kuda

Surah Az-Zalzalah berfokus pada goncangan dahsyat bumi saat Kiamat tiba, di mana setiap perbuatan kecil akan diungkapkan ("Fa man ya’mal mitqala dzarrah khairan yarah, waman ya’mal mitqala dzarrah syarran yarah"). Ini adalah peringatan keras mengenai keadilan total.

Sementara itu, setelah ketenangan relatif pasca goncangan itu, Allah SWT memperkenalkan Al-'Adiyat. Al-'Adiyat sendiri berasal dari kata kerja 'adw', yang berarti berlari kencang atau menyerbu. Surah ini dibuka dengan sumpah Allah terhadap kuda-kuda yang berlari kencang dengan napas terengah-engah: "Demi kuda perang yang berlari terengah-engah." (QS. Al-'Adiyat: 1).

Mengapa sumpah dengan kuda perang? Para mufassir menafsirkan ini sebagai gambaran tentang semangat dan pengorbanan dalam medan jihad, atau lebih luas lagi, sebagai metafora untuk upaya keras manusia dalam mengejar duniawi. Sumpah ini menunjukkan betapa besarnya nilai suatu perbuatan yang dilakukan dengan usaha maksimal dan pengorbanan tinggi.

Karakteristik Manusia dalam Mengejar Dunia

Inti dari Surah Al-'Adiyat adalah kritik tajam terhadap sifat tamak dan kecintaan berlebihan manusia terhadap harta dunia. Setelah bersumpah atas kuda-kuda yang berlari itu, Allah melanjutkan ayat-ayat-Nya: "Dan kuda-kuda yang menjejakkan kaki dengan keras" (Ayat 2), "Dan kuda-kuda yang menyerbu dengan pagi hari" (Ayat 3), hingga puncaknya adalah tuduhan langsung: "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya," (Ayat 6).

Ayat-ayat ini menyoroti sebuah ironi tragis. Manusia mengerahkan seluruh energinya—secepat kuda perang yang berpacu—demi meraih kesenangan duniawi (harta, kekuasaan, kemuliaan). Mereka berlari kencang, melupakan waktu shalat, melupakan ibadah, karena terbuai oleh kesibukan mengejar dunia. Namun, ketika diperintahkan untuk bersyukur atau berkorban untuk tujuan akhirat, manusia justru menunjukkan sifat kekufuran dan ketidakpedulian.

Kebenaran yang Tersembunyi di Dalam Hati

Peringatan yang disampaikan oleh Al-'Adiyat semakin mendalam ketika Allah SWT mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam dada manusia. Ayat 7 dan 8 berbunyi: "Dan sesungguhnya ia (manusia) sangat mencintai harta dengan kerakusan. Maka apakah ia tidak mengetahui, apabila apa yang ada di dalam kubur dikacaukan."

Ini adalah jembatan penutup yang menghubungkan Al-'Adiyat kembali ke tema Al-Zalzalah. Kuda-kuda berlari kencang, harta dikumpulkan dengan tamak, tetapi pada akhirnya, semua itu akan berakhir ketika goncangan kubur dan kebangkitan terjadi. Semua rahasia hati, kecintaan buta terhadap dunia, dan pengingkaran terhadap nikmat Ilahi, akan disingkapkan.

Surah Al-'Adiyat berfungsi sebagai pengingat bahwa kecepatan berlari mengejar dunia harus diimbangi dengan kecepatan bertobat dan beribadah. Setelah goncangan besar bumi (Al-Zalzalah), kita diingatkan untuk waspada terhadap goncangan yang lebih personal: goncangan kesadaran akan tanggung jawab harta dan amal kita sendiri ketika kita menghadapi pengadilan terakhir. Urutan ini memaksa pembaca untuk segera mengoreksi orientasi hidupnya, dari fokus materialistik menuju persiapan ukhrawi.

Memahami transisi dari Surah Az-Zalzalah ke Surah Al-'Adiyat memberikan kita perspektif menyeluruh tentang akhir kehidupan. Pertama, kita dihadapkan pada peristiwa Kiamat yang universal. Kedua, kita diingatkan tentang penyakit hati (ketamakan) yang sering menjadi penghalang utama kita menyikapi peringatan pertama tersebut. Oleh karena itu, setelah membaca Al-'Adiyat, seorang mukmin dituntut untuk lebih bersyukur dan menyadari bahwa seluruh energi yang ia miliki, layaknya kuda yang berlari kencang, seyogianya diarahkan pada ketaatan, bukan sekadar pengumpulan dunia yang fana.

🏠 Homepage