Keagungan "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila" dan Mukjizat Isra Mi'raj

Representasi Simbolis Isra Mi'raj SVG yang menggambarkan bulan sabit, bintang, dan garis perjalanan dari masjid ke langit. مسجد الأقصى إلى السماء

Setiap kali umat Islam merenungkan kebesaran Allah SWT, satu frasa agung sering terngiang di benak, yaitu "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila". Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pembuka sebuah mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra Mi'raj. Terukir indah dalam Al-Qur'an, peristiwa ini menegaskan keagungan dan kekuasaan tak terbatas dari Sang Pencipta.

Pembuka Perjalanan Agung

Ungkapan "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila" terambil dari Surah Al-Isra ayat pertama, yang secara harfiah berarti, "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." Kata 'Subhanalladzi' adalah penegasan tauhid dan kekaguman mutlak atas kesempurnaan Allah yang mampu melakukan hal-hal yang di luar nalar manusia. Kata 'hamba-Nya' (Abdihi) merujuk pada Nabi Muhammad SAW, yang dipilih oleh Allah untuk menerima kehormatan tertinggi ini. Perjalanan ini terjadi di waktu malam (Laila), menunjukkan bahwa di tengah kegelapan dunia, Allah menurunkan cahaya wahyu dan kemuliaan kepada Rasul-Nya.

Perjalanan ini terbagi menjadi dua fase penting: Isra, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit lapis demi lapis hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tidak pernah dicapai oleh makhluk lain sebelumnya. Peristiwa ini terjadi pada periode yang sangat sulit dalam dakwah Rasulullah, setelah beliau kehilangan dua pilar utama pendukungnya, yaitu pamannya Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah RA.

Makna Spiritual dari Isra dan Mi'raj

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, Isra Mi'raj memiliki makna spiritual yang mendalam. Perjalanan Isra menunjukkan kemampuan Allah untuk memindahkan hamba-Nya melintasi jarak yang mustahil dalam hitungan waktu singkat. Ini adalah penegasan bahwa bumi dan waktu tunduk pada kehendak Ilahi. Ketika Nabi tiba di Al-Aqsa, beliau dipertemukan dengan para nabi terdahulu, di mana beliau mengimami salat. Ini adalah pengukuhan kenabian Muhammad SAW sebagai penutup para rasul.

Adapun Mi'raj adalah kenaikan vertikal yang membawa Nabi melampaui batas-batas materi. Di setiap tingkatan langit, beliau bertemu dengan nabi-nabi besar lainnya. Puncak dari perjalanan ini adalah penerimaan perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril. Inilah hadiah terindah bagi umat Islam, sebuah ritual penghubung langsung antara hamba dan Penciptanya. Kalimat "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila" menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati hanya diraih melalui ketaatan dan kedekatan dengan Sang Khalik.

Bukti Kekuatan Iman

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya, banyak yang meragukannya, terutama kaum kafir Quraisy yang menganggapnya sebagai khayalan. Namun, mukjizat ini juga dilengkapi dengan bukti konkret yang disampaikan Nabi, seperti deskripsi detail tentang kafilah dagang yang akan tiba di Madinah keesokan harinya, serta deskripsi Baitul Maqdis (Al-Aqsa) yang kemudian dibenarkan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan darat. Peristiwa ini menguji sejauh mana keimanan para pengikutnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq, misalnya, seketika membenarkan cerita Nabi tanpa keraguan, sehingga ia mendapat gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan).

Perjalanan agung yang diawali dengan puji-pujian "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila" ini memberikan pelajaran penting bagi kita. Pertama, bahwa segala kesulitan duniawi bersifat sementara, karena Allah mampu memberikan jalan keluar yang tak terduga. Kedua, salat adalah tiang agama dan jalur komunikasi langsung kita dengan Allah, sebagaimana yang diterima Nabi dalam Mi'raj.

Warisan Spiritualitas

Hingga kini, semangat Isra Mi'raj terus menginspirasi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak. Perjalanan malam yang penuh keajaiban itu menegaskan bahwa mukjizat adalah cara Allah meyakinkan para pembawa risalah-Nya, sekaligus menjadi pelajaran bahwa setiap mukmin memiliki potensi untuk mencapai derajat spiritual tertinggi melalui ketaatan yang konsisten. Mengingat firman pembuka tersebut, kita diajak untuk selalu merenungi kebesaran Allah dalam setiap langkah kehidupan kita, karena Dialah yang Maha Kuasa atas segala perkara.

Peristiwa ini adalah puncak penghormatan Allah kepada Rasul-Nya, sebuah perjalanan melampaui ruang dan waktu yang menunjukkan betapa dekatnya Rasulullah dengan Rabb-nya. Semoga kisah "Subhanalladzi Asro Biabdihi Laila" ini senantiasa menguatkan iman kita dan mendorong kita untuk lebih giat mendekatkan diri kepada-Nya.

🏠 Homepage