Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 111 ayat. Surah ini sarat dengan kisah-kisah kenabian, peringatan bagi umat manusia, serta penjelasan mendalam mengenai keadilan dan konsekuensi dari perbuatan. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena sifatnya yang profetik dan mengandung janji besar Allah SWT adalah ayat ketujuh.
Ayat ini secara khusus membahas konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk, memberikan kerangka moral yang jelas bagi setiap individu dan komunitas. Ayat ini sekaligus menjadi pengingat akan siklus pembalasan ilahi yang tidak pernah luput dari pengawasan-Nya.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْبَيْتَ كَمَا دَخَلُوهُ مَرَّةً أُولَىٰ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
"Jika kamu berbuat baik, (kebaikan itu) adalah untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan menimpamu (juga). Maka, apabila datang janji (pembalasan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajah-wajahmu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana ketika mereka memasukinya yang pertama kali, dan untuk menghancurkan segala sesuatu yang mereka kuasai dengan sehancur-hancurnya."
Ayat ini secara fundamental mengajarkan prinsip kausalitas moral. Ayat ini membagi respons Ilahi menjadi dua bagian utama: respons di dunia yang bersifat langsung dan janji pembalasan akhir yang bersifat historis dan profetik.
Bagian pertama ayat ini sangat jelas: "Jika kamu berbuat baik, (kebaikan itu) adalah untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan menimpamu (juga)." Ini adalah deklarasi universal mengenai akuntabilitas pribadi. Tidak ada perbuatan, baik maupun buruk, yang hasilnya terisolasi. Kebaikan yang dilakukan akan kembali memberikan manfaat, ketenangan, dan kebahagiaan bagi pelakunya, baik secara spiritual maupun dalam dimensi kehidupan sosial. Sebaliknya, kerusakan yang ditimbulkan akan kembali menerpa pelakunya sendiri, seringkali dalam bentuk kehancuran batin, kegelisahan, atau dampak sosial yang merugikan.
Bagian kedua ayat ini merujuk pada sebuah peristiwa spesifik yang telah dijanjikan Allah SWT, yang dikenal sebagai janji pembalasan yang kedua (Wa'd al-Ākhirah). Para mufassir umumnya menafsirkan ini merujuk pada penghancuran kedua Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa) oleh tentara yang diutus Allah sebagai hukuman atas kerusakan moral dan pembangkangan Bani Israil setelah fase pertama kemuliaan mereka.
Pembalasan ini ditandai dengan tiga hal:
Peristiwa ini berfungsi sebagai pelajaran bahwa kekuasaan dan superioritas fisik tidak menjamin kekekalan jika dibarengi dengan penyimpangan moral dan pengkhianatan terhadap perjanjian suci. Ayat ini mengajarkan bahwa Allah akan selalu menegakkan keadilan-Nya, meskipun perlu waktu bagi pembalasan itu terjadi.
Untuk menggambarkan konsep konsekuensi dan siklus perbuatan, berikut adalah representasi visual sederhana mengenai keseimbangan antara perbuatan dan hasilnya:
Meskipun bagian kedua ayat ini berbicara tentang peristiwa historis spesifik, pesan utamanya tetap relevan sepanjang masa: integritas moral adalah fondasi kemuliaan. Ketika sebuah komunitas atau bangsa menyimpang dari prinsip-prinsip keadilan dan moralitas, mereka pada dasarnya sedang membangun fondasi bagi kehancuran mereka sendiri, baik yang ditimpakan oleh pihak luar maupun yang timbul dari internal mereka.
Surah Al-Isra ayat 7 menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas untuk kebahagiaan. Keberhasilan sejati adalah buah dari perbuatan baik yang konsisten, yang akan menuai hasil positif bagi diri sendiri, terlepas dari janji pembalasan besar di akhirat. Sebaliknya, kerusakan yang dilakukan hari ini akan terukir sebagai cacat pada sejarah dan jiwa pelakunya sendiri. Ini adalah peringatan abadi tentang pentingnya menjaga amanah dan berlaku adil dalam setiap urusan.