Representasi visual dari keajaiban dan wahyu ilahi.
Setiap ayat dalam Al-Qur'an membawa pesan mendalam yang merupakan pilar utama dalam akidah seorang Muslim. Salah satu ayat yang seringkali menjadi sorotan karena mengandung janji dan kekuasaan Allah SWT adalah Surah Al-Isra ayat 2. Ayat ini secara eksplisit berbicara tentang bagaimana Allah memberikan mukjizat dan dukungan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Ayat kedua dari Surah Al-Isra ini adalah kelanjutan logis dari ayat pertama yang berbicara tentang perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Jika ayat pertama menguatkan kedudukan Nabi Muhammad sebagai hamba dan Rasul, maka ayat kedua ini kembali mengingatkan umat manusia, khususnya Bani Israil (keturunan Ya'qub), mengenai pentingnya menerima dan mengikuti petunjuk yang telah diturunkan sebelumnya, yaitu Kitab Taurat.
Pemberian Kitab Suci kepada Nabi Musa AS adalah salah satu manifestasi tertinggi dari rahmat dan kekuasaan Allah SWT. Kitab tersebut bukan sekadar kumpulan hukum, melainkan 'hudan' (petunjuk) yang jelas. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya tanpa panduan yang membedakan antara hak dan batil. Dalam konteks wahyu, Al-Qur'an menegaskan kesinambungan risalah kenabian, di mana Taurat menjadi fondasi bagi petunjuk-petunjuk selanjutnya.
Inti ajaran yang ditekankan dalam ayat ini adalah larangan tegas: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku (Allah)." Kata 'Wali' atau 'Wakil' di sini memiliki makna yang sangat luas, mencakup pelindung, penolong, penanggung jawab urusan, dan juga tumpuan harapan tertinggi. Ini adalah pondasi utama tauhid (mengesakan Allah).
Bagi Bani Israil pada masa itu, tantangan terbesar adalah godaan untuk bersandar pada kekuatan duniawi, entah itu kekuatan politik Mesir, sekutu suku lain, atau bahkan kekuatan spiritual palsu. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras agar mereka tidak menyimpang dari sumber kekuatan sejati. Jika mereka menjadikan selain Allah sebagai wali, maka semua harapan dan perlindungan yang mereka cari akan sia-sia dan bersifat sementara.
Meskipun ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Bani Israil terkait Kitab Taurat, maknanya bersifat universal dan abadi bagi seluruh umat Islam. Pesan "Jangan mengambil pelindung selain Aku" tetap relevan hingga kini. Dalam menghadapi tantangan hidup—baik itu kesulitan ekonomi, ancaman keamanan, maupun godaan hawa nafsu—seorang Muslim diajarkan untuk selalu menjadikan Allah sebagai tempat bergantung tertinggi.
Mengambil pelindung selain Allah dapat terwujud dalam berbagai bentuk modern: terlalu bergantung pada teknologi tanpa diimbangi ikhtiar spiritual, menempatkan kesetiaan buta pada kelompok atau ideologi di atas prinsip kebenaran ilahi, atau mencari solusi melalui cara-cara yang bertentangan dengan syariat. Ayat ini menuntut kejernihan spiritual agar hati tidak terbagi dalam mencari pertolongan.
Penegasan bahwa Allah adalah Pelindung satu-satunya didasari oleh bukti nyata kekuasaan-Nya yang telah ditunjukkan melalui para nabi. Kisah Nabi Musa AS dan peristiwa keluarnya mereka dari perbudakan Firaun adalah bukti bahwa dengan pertolongan Ilahi, tidak ada musuh yang mampu mengalahkan. Allah memberikan Kitab (hukum dan pedoman) sekaligus menjamin perlindungan bagi mereka yang taat.
Oleh karena itu, memahami Surah Al-Isra ayat 2 berarti memahami bahwa petunjuk (kitab) dan pertolongan (wali) selalu datang bersamaan dari sumber yang sama: Allah SWT. Kepercayaan penuh terhadap janji-Nya adalah kunci ketenangan jiwa dan keberhasilan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat ini menjadi pengingat abadi untuk senantiasa memurnikan orientasi ibadah dan tawakal kita hanya kepada-Nya.
Kepatuhan pada ajaran yang dibawa oleh para nabi—yang puncaknya termaktub dalam Al-Qur'an—adalah wujud nyata dari penerimaan kita terhadap Allah sebagai satu-satunya Wali yang layak disembah dan dijadikan sandaran.