Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf dan merupakan salah satu surah Makkiyah yang kaya akan hikmah, peringatan, serta mukjizat agung. Nama Al-Isra merujuk pada peristiwa perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Peristiwa ini menjadi titik awal dari Isra Mi'raj, sebuah perjalanan spiritual dan fisik yang mendalam.
Surah ini dibuka dengan ayat yang menegaskan keagungan Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya di waktu malam: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa..." (QS. Al-Isra: 1). Perjalanan ini terjadi ketika umat Islam mengalami tekanan hebat di Makkah, dan menjadi penegasan ilahiah atas status kenabian beliau. Masjidil Aqsa sendiri adalah kiblat pertama umat Islam, menggarisbawahi keterkaitan spiritual antara tiga masjid suci: Makkah, Yerusalem, dan Madinah (yang kelak menjadi kiblat kedua).
Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga sarana pembuktian dan penguatan iman bagi Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan tersebut, diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Allah, yang kemudian dilanjutkan dengan Mi'raj (naik ke langit) untuk menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.
Selain fokus pada peristiwa kenabian, Surah Al-Isra juga memuat serangkaian perintah dan larangan yang mendasar bagi kehidupan sosial dan moralitas umat manusia. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya akhlak yang mulia, menjadikannya semacam konstitusi etika Islam.
Beberapa pelajaran penting yang ditekankan antara lain:
Ayat 23 hingga 39 berisi prinsip-prinsip umum kehidupan yang universal, mengingatkan manusia untuk hidup dengan keseimbangan, menghindari pemborosan (israf), dan tidak membunuh anak-anak karena kemiskinan. Islam menolak konsep membunuh anak perempuan karena takut miskin, sebuah praktik jahiliah yang dicela keras oleh Al-Qur'an.
Surah Al-Isra juga mengingatkan manusia agar tidak berlaku sombong di muka bumi setelah melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Ayat-ayat selanjutnya menyoroti kisah-kisah kaum terdahulu yang diazab karena kesombongan dan pembangkangan mereka. Ini berfungsi sebagai peringatan bagi umat Nabi Muhammad SAW untuk selalu bersikap rendah hati dan bersyukur atas nikmat yang diberikan.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra adalah jembatan antara mukjizat spiritual tertinggi (Isra Mi'raj) dan aplikasi praktis ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa keimanan sejati harus tercermin dalam etika sosial, penghormatan terhadap orang tua, keadilan dalam berinteraksi, serta kesadaran akan kekuasaan mutlak Allah SWT. Membaca dan merenungkan surah ini memberikan panduan komprehensif tentang bagaimana menjadi hamba yang saleh baik secara vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia).