Representasi kerendahan hati dan penghormatan.
Surah Al-Isra (Al-Isra' / Al-Isra) Ayat 24 adalah salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang menggarisbawahi pentingnya etika dan sikap seorang anak terhadap kedua orang tuanya setelah perintah untuk menyembah Allah semata.
Ayat ini memberikan instruksi yang sangat jelas dan lembut mengenai bagaimana seorang mukmin harus memperlakukan ayah dan ibunya. Inti dari ayat ini adalah perintah untuk menunjukkan kerendahan hati dan kasih sayang yang mendalam. Kata kunci di sini adalah "وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ" (Wakhfid lahuma janahadh dhulli), yang secara harfiah berarti "rendahkanlah bagi keduanya sayap kehinaan (kerendahan hati) karena kasih sayang."
Ini adalah metafora yang sangat indah. Dalam dunia hewan, burung induk akan merendahkan sayapnya kepada anaknya sebagai bentuk perlindungan dan kelembutan. Dalam konteks manusia, ini diterjemahkan sebagai sikap yang sangat sopan, tidak membantah dengan nada tinggi, tidak bersikap angkuh, dan selalu menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka tiada.
Selain instruksi sikap fisik dan verbal, ayat ini melengkapi kewajiban tersebut dengan perintah untuk senantiasa mendoakan mereka: "وَيَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا" (Wa qul Rabbi irhamhuma kama rabbayani shaghira). Permintaan doa ini—"Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil"—mengandung hikmah yang mendalam. Seorang anak diperintahkan untuk mengakui dan mengingat semua pengorbanan orang tua ketika ia masih kecil dan lemah. Doa ini menjadi bentuk balas jasa tertinggi yang tidak terputus, bahkan ketika orang tua sudah wafat.
Surah Al-Isra ayat 24 mengajarkan bahwa bakti kepada orang tua bukan sekadar melaksanakan kewajiban agama, tetapi juga merupakan fondasi kesehatan psikologis seorang individu. Ketika seseorang mampu menahan ego dan kesombongannya di hadapan orang tua, ia sedang melatih jiwa untuk bersikap tawadhu (rendah hati). Sikap ini akan memancar ke aspek kehidupan lain. Dalam masyarakat, penghormatan terhadap orang tua yang ditekankan dalam ayat ini menciptakan harmoni sosial yang kuat. Orang tua merasa dihargai, dan anak-anak belajar nilai empati dan tanggung jawab jangka panjang.
Perintah untuk merendahkan diri ini juga sangat relevan dalam konteks perbedaan generasi. Seringkali, terjadi gesekan antara pandangan anak muda dan orang tua. Ayat ini mengingatkan bahwa meskipun pandangan berbeda, cara merespons harus selalu didasari oleh kasih sayang dan kerendahan hati, bukan superioritas intelektual atau usia.
Perintah ini selaras dengan ayat-ayat sebelumnya dalam Surah Al-Isra (ayat 23), di mana Allah melarang ucapan "ah" atau membentak. Jika ayat 23 melarang tindakan negatif (larangan), ayat 24 (Surah Al-Isra 24) memerintahkan tindakan positif (perintah untuk berbuat baik dan merendahkan diri). Keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama dalam kewajiban berbakti: menjauhi hal buruk dan mendekat pada kebaikan tertinggi.
Memahami dan mengamalkan Surah Al-Isra ayat 24 berarti menempatkan orang tua di posisi yang sangat mulia, setara dengan janji Allah untuk selalu menyayangi mereka melalui doa kita. Ayat ini adalah warisan abadi tentang bagaimana manusia harus bersikap terhadap sumber kasih sayang pertamanya di dunia.
Totalitas dari perintah ini menuntut kesabaran dan keikhlasan. Tidak mudah bagi seorang manusia untuk selalu merendahkan diri, terutama ketika usia bertambah dan posisi sosial mungkin berubah. Namun, janji pahala dari Allah SWT yang menyertai perintah ini menjadikan pengorbanan dalam menaati ayat ini sebagai investasi spiritual yang tak ternilai harganya.