Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, sarat dengan pelajaran sejarah, hukum, dan akidah. Khususnya pada rentang ayat 42 hingga 52, Allah SWT memberikan peringatan keras kepada kaum musyrikin yang menyekutukan-Nya, sekaligus memberikan penegasan mutlak tentang keesaan Allah dan kepastian adanya hari kebangkitan. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai koreksi fundamental terhadap keyakinan yang menyimpang.
Ayat 42 secara tajam menantang logika mereka yang menyembah selain Allah. Jika ada tuhan lain selain Allah Yang Maha Kuasa (Pemilik 'Arsy), niscaya tuhan-tuhan sembahan mereka itu akan berusaha mencari jalan mendekat kepada Tuhan Yang Maha Agung tersebut. Fakta bahwa tidak ada yang mampu menandingi atau menyaingi kekuasaan Allah menjadi bukti kuat bahwa Dia adalah satu-satunya Ilah yang berhak disembah. Ini adalah inti dari dakwah Tauhid yang dibawa oleh para Nabi.
Selanjutnya, Allah menjelaskan bagaimana makhluk yang mereka sembah itu sebenarnya adalah ciptaan-Nya sendiri yang tunduk dan membutuhkan-Nya. Ayat-ayat berikutnya menegaskan bahwa semua yang mereka jadikan perantara atau sesembahan—bahkan jika mereka adalah malaikat yang dekat atau Nabi yang mulia—semuanya adalah hamba Allah yang tunduk dalam ubudiyyah (perhambaan).
Kesesatan besar terjadi ketika manusia meyakini bahwa ciptaan yang lemah dapat memberikan manfaat atau menolak bahaya setara dengan Penciptanya. Al-Isra 44 menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, meskipun manusia tidak dapat memahaminya. Penolakan terhadap klaim kesekutuan ini menjadi landasan kokoh bagi akidah Islam.
Setelah membantah kesyirikan, ayat-ayat ini beralih menyinggung masalah hari kiamat dan kebangkitan. Kaum musyrikin seringkali meragukan kemungkinan adanya kebangkitan fisik setelah jasad telah hancur menjadi tulang belulang dan debu. Mereka bertanya dengan nada mengejek, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" (Al-Isra: 51).
Jawaban yang diberikan sangat tegas dan logis: Dzat yang mampu menciptakan manusia dari ketiadaan adalah sangat mampu untuk membangkitkannya kembali. Penciptaan yang pertama adalah bukti nyata dari Kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Keraguan mereka hanyalah karena kesombongan dan keengganan untuk tunduk pada kebenaran.
Ayat 52 menutup rentetan ini dengan janji pertanggungjawaban mutlak. Pada hari itu, Allah akan memanggil mereka dan bertanya, "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu sangkakan itu?" Mereka (yang disembah dan yang menyembah) tidak akan mampu memberikan jawaban, karena pada hakikatnya sekutu itu tidak pernah ada selain dalam khayalan mereka.
Rentang Surah Al-Isra ayat 42 hingga 52 ini mengajarkan umat Islam untuk senantiasa memurnikan ibadah, menolak segala bentuk penyekutuan, dan menanamkan keyakinan teguh pada janji hari akhir. Pesan ini relevan sepanjang masa, sebagai benteng akidah dari pemikiran yang menyimpang. Totalitas penyerahan diri hanya kepada Allah adalah kunci keselamatan abadi.