I. Pengantar: Kompleksitas Sebuah Angka Tunggal
Al-Qur'an, kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, merupakan sumber utama syariat dan petunjuk hidup bagi umat Islam. Sejak diturunkan, teks Al-Qur'an telah dijaga keotentikannya melalui transmisi lisan (hafalan) dan tulisan (mushaf). Meskipun keotentikan lafaznya tidak pernah diperdebatkan, satu pertanyaan fundamental yang sering muncul dan memiliki jawaban yang bervariasi adalah: Berapa jumlah pasti ayat di dalam Al-Qur'an?
Pada pandangan pertama, pertanyaan ini tampak sederhana. Namun, sejarah Islam mencatat bahwa penetapan jumlah ayat bukanlah proses statis. Ia melibatkan ijtihad ulama dan para penghafal di masa awal Islam (Generasi Salaf), yang kemudian melahirkan berbagai mazhab atau sistem penghitungan. Perbedaan ini, yang dikenal dalam ilmu Qira'at sebagai ‘Adad al-Ayat (hitungan ayat), sama sekali tidak memengaruhi keaslian lafaz Al-Qur'an, namun penting untuk dipahami demi menghargai kekayaan tradisi keilmuan Islam.
Secara umum, masyarakat Muslim modern, terutama mereka yang menggunakan Mushaf standar cetakan Madinah atau Mesir (mengikuti riwayat Hafs dari Ashim), terbiasa dengan satu angka baku. Namun, jika kita menelusuri sejarah, terdapat setidaknya enam sistem penghitungan utama yang diakui, menghasilkan angka yang sedikit berbeda, mulai dari 6204 hingga 6236, bahkan 6666 dalam beberapa riwayat yang kurang populer namun pernah eksis.
Ilustrasi Mushaf Al-Qur'an menunjukkan teks dengan penanda ayat (fawasil), yang merupakan fokus utama perbedaan perhitungan.
Tujuan dari artikel yang komprehensif ini adalah untuk mengupas tuntas latar belakang historis, metodologi, dan implikasi teologis dari perbedaan jumlah ayat tersebut. Kita akan memulai dengan menetapkan angka yang paling umum digunakan saat ini, sebelum menyelami akar perbedaan yang berasal dari kota-kota pusat ilmu pengetahuan Islam di masa lampau.
II. Angka Standar dan Konsensus Kufi (6236 Ayat)
Di dunia Islam kontemporer, angka yang paling dominan dan hampir universal digunakan adalah 6236 ayat. Angka ini berasal dari Mazhab Penghitungan Kufah (Kufi), yang diterima luas karena riwayatnya digunakan dalam Mushaf Utsmani standar dan diadopsi dalam Qira'at Imam Hafs dari Ashim. Penghitungan ini adalah basis dari mushaf-mushaf yang dicetak oleh Kompleks Percetakan Mushaf Raja Fahd di Madinah dan mayoritas percetakan di Timur Tengah, Indonesia, dan Malaysia.
2.1. Jalur Sanad Penghitungan Kufi
Penghitungan Kufi ini sanadnya bersambung kepada ulama besar Kufah. Secara ringkas, jalur transmisi hitungan ini adalah:
- Dari Ali bin Abi Thalib (r.a.)
- Kepada Abu Abdurrahman as-Sulami
- Kepada Ashim bin Abi an-Nujud (yang merupakan salah satu Qari' Sab’ah/Tujuh Qari’ utama)
- Kepada Abu Bakr bin Ayyash Syu’bah dan Hafs bin Sulaiman (Dua perawi utama dari Ashim)
Di antara dua perawi utama dari Ashim, yaitu Syu’bah dan Hafs, terdapat sedikit perbedaan dalam beberapa ayat tertentu, namun secara keseluruhan, hitungan Ashim yang dominan adalah 6236. Mayoritas Muslim mengikuti riwayat Hafs dari Ashim, sehingga angka 6236 menjadi patokan baku.
2.2. Mengapa Angka Ini Dominan?
Dominasi angka 6236 terkait erat dengan dominasi riwayat Qira'at Hafs ‘an ‘Asim. Sejak abad ke-13 Masehi (era Ottoman), riwayat Hafs secara bertahap menggantikan riwayat lain dalam mushaf publik karena kemudahan dan konsistensinya. Ketika Mesir dan kemudian Arab Saudi menstandardisasi pencetakan Al-Qur'an, mereka memilih jalur Hafs, dan otomatis mengadopsi hitungan Kufi 6236.
Penting untuk dicatat bahwa dalam hitungan 6236 ini, Basmalah (*Bismillahirrahmanirrahim*) hanya dihitung sebagai satu ayat tersendiri di Surah Al-Fatihah. Di 112 Surah lainnya (kecuali At-Tawbah), Basmalah dianggap sebagai pemisah dan bukan bagian dari hitungan ayat Surah tersebut.
III. Sejarah Perkembangan Ilmu ‘Adad Al-Ayat
Perbedaan jumlah ayat bukanlah produk perpecahan atau kontradiksi, melainkan hasil dari metode penandaan (Waqf) yang berbeda yang diajarkan oleh para Sahabat Nabi dan Tabi'in di berbagai pusat intelektual Islam. Ilmu yang mempelajari hitungan ayat ini disebut Ilmu Al-Fawasil (Ilmu Jeda) atau ‘Adad Al-Ayat.
3.1. Penentuan Ayat di Masa Nabi
Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, ayat-ayat diucapkan dan diturunkan secara bertahap. Penentuan batas akhir suatu ayat (*Fasilah*) didasarkan pada dua hal utama:
- Tawqifi (Otoritatif): Nabi Muhammad ﷺ sendiri yang menunjukkan di mana suatu ayat berakhir saat membacakan wahyu kepada para sahabat.
- Ijtihadi (Interpretatif): Dalam beberapa kasus, para ulama generasi selanjutnya (khususnya ahli Qira'at di kota-kota besar) melakukan ijtihad mengenai di mana *waqf* (berhenti) atau *fasilah* terjadi, terutama ketika penandaan Nabi tidak sepenuhnya eksplisit, atau ketika riwayat para Sahabat tentang penandaan Nabi sedikit berbeda.
Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa batasan ayat bersifat tawqifi, artinya telah ditetapkan oleh Allah melalui Nabi-Nya. Perbedaan muncul karena transmisi lisan yang berbeda mengenai di mana Nabi berhenti saat membaca. Apakah Nabi berhenti karena itu akhir ayat, atau sekadar mengambil napas?
3.2. Munculnya Mazhab Penghitungan Regional
Setelah wafatnya Nabi dan meluasnya kekhalifahan, Sahabat-sahabat besar menyebar ke kota-kota baru, membawa serta pengetahuan mereka tentang Al-Qur'an. Ini memunculkan enam mazhab penghitungan utama, yang masing-masing didasarkan pada tradisi guru-guru di kota tersebut:
Diagram menunjukkan empat dari enam sekolah utama perhitungan ayat (Adad Al-Ayat) dengan angka perkiraan total ayat.
Berikut adalah rincian enam mazhab utama dan angka yang mereka hasilkan, menurut mayoritas ulama *muhadditsin* (ahli hitungan ayat):
- Mazhab Madinah I (Madani Awal): Didasarkan pada riwayat Ubay bin Ka’ab. Jumlahnya adalah 6217 ayat.
- Mazhab Madinah II (Madani Akhir): Didasarkan pada riwayat Abu Ja'far Yazid bin Al-Qa'qa. Jumlahnya adalah 6214 ayat (beberapa riwayat menyebut 6219).
- Mazhab Makkah (Makki): Didasarkan pada riwayat Mujahid bin Jabr. Jumlahnya adalah 6219 ayat.
- Mazhab Kufah (Kufi): Didasarkan pada riwayat Ashim bin Abi an-Nujud (yang populer melalui Hafs). Jumlahnya adalah 6236 ayat. (Angka standar modern)
- Mazhab Basrah (Basri): Didasarkan pada riwayat Ashim bin Al-Hajjaj Al-Jahdari. Jumlahnya adalah 6204 ayat. (Angka terendah)
- Mazhab Syam (Syami): Didasarkan pada riwayat Abdullah bin Amir. Jumlahnya adalah 6226 ayat (beberapa riwayat menyebut 6250).
Perbedaan angka antara Madinah I (6217) dan Kufah (6236) adalah 19 ayat. Perbedaan antara Basrah (6204) dan Kufah (6236) adalah 32 ayat. Meskipun perbedaan ini tampak signifikan, perbedaan tersebut terjadi hanya pada penentuan *ujung* ayat (waqf), dan bukan pada hilangnya atau bertambahnya satu huruf pun dari teks Al-Qur'an.
IV. Sumber Utama Disparitas Penghitungan
Untuk memahami mengapa angka-angka tersebut berbeda, kita harus meneliti dua sumber utama perbedaan yang menjadi fokus ijtihad para ulama *fawasil*: *Basmalah* dan *Huruf Muqatta'ah*.
4.1. Debat Historis Mengenai Basmalah
Masalah Basmalah (*Bismillahirrahmanirrahim*) adalah penyumbang terbesar variasi angka. Ada tiga pandangan utama mengenai status Basmalah:
A. Basmalah sebagai Ayat Pertama Al-Fatihah Saja
Ini adalah pandangan Mazhab Kufah (6236). Basmalah dihitung sebagai ayat pertama dari Surah Al-Fatihah, namun tidak dihitung sebagai ayat tersendiri di permulaan 112 Surah lainnya. Di Surah selain Al-Fatihah, Basmalah dianggap sebagai pemisah (Fasilah) antar Surah, diturunkan untuk membedakan permulaan Surah, tetapi tidak termasuk hitungan ayat Surah tersebut.
B. Basmalah sebagai Ayat di Setiap Surah
Ini adalah pandangan beberapa ulama Makki dan Madani. Menurut pandangan ini, Basmalah adalah ayat pertama dari setiap Surah (kecuali At-Tawbah). Jika kita menggunakan hitungan ini, total ayat akan bertambah menjadi sekitar 6348 (6236 + 112 Basmalah tambahan), atau bahkan 6666 jika mengikuti riwayat Ubay bin Ka’ab yang paling ekstrem (riwayat ini mencampur hitungan Basmalah dan Huruf Muqatta'ah). Walaupun angka 6666 sangat populer di kalangan masyarakat awam, angka ini secara keilmuan dianggap sebagai penjumlahan yang keliru atau riwayat yang lemah dalam ilmu *‘Adad al-Ayat* yang standar.
C. Basmalah Bukan Ayat Sama Sekali
Ini adalah pandangan Mazhab Basrah dan beberapa ulama Syam. Mereka berpendapat bahwa Basmalah adalah sunnah (anjuran) untuk memulai bacaan Al-Qur'an, tetapi bukan bagian dari hitungan ayat Surah manapun, termasuk Al-Fatihah. Dengan demikian, ayat pertama Surah Al-Fatihah adalah *Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin*. Inilah salah satu alasan mengapa hitungan Basri (6204) menjadi yang terendah.
Singkatnya, perbedaan utama 6236 vs 6204 terletak pada Basmalah di Al-Fatihah, dan penentuan waqf di beberapa ayat panjang lainnya. Perbedaan total ayat antara mazhab-mazhab yang diakui tidak pernah melebihi 32 ayat, dan semuanya bermuara pada cara penandaan, bukan teks itu sendiri.
4.2. Peran Huruf Muqatta'ah
Sumber perbedaan kedua yang signifikan adalah *Huruf Muqatta'ah* (huruf-huruf terpisah) yang muncul di awal 29 Surah (seperti Alif Lam Mim, Kaf Ha Ya Ain Shad, dll.).
Perdebatan di sini adalah: Apakah Huruf Muqatta'ah dihitung sebagai satu ayat tersendiri?
- Mazhab Kufah (6236): Menghitung sebagian besar *Huruf Muqatta'ah* sebagai satu ayat tersendiri. Contoh: Alif Lam Mim di awal Surah Al-Baqarah dihitung sebagai Ayat 1.
- Mazhab Makki, Madani, dan Basri: Umumnya tidak menghitung *Huruf Muqatta'ah* sebagai ayat mandiri, melainkan menganggapnya sebagai bagian dari ayat berikutnya. Dalam sistem ini, Ayat 1 Surah Al-Baqarah adalah *Alif Lam Mim Dzalikal Kitabu la raiba fihi...*
Jika kita melihat Surah Maryam, yang diawali dengan *Kaf Ha Ya Ain Shad*, Mazhab Kufah menghitungnya sebagai 5 ayat berbeda (Kaf, Ha, Ya, Ain, Shad) sehingga Surah Maryam memiliki 98 ayat. Sementara Mazhab lain menghitungnya sebagai satu kesatuan ayat, atau bagian dari ayat berikutnya, sehingga Surah Maryam mereka hanya memiliki 97 ayat.
4.3. Penandaan di Ayat-Ayat Panjang
Selain dua sumber utama di atas, terdapat perbedaan kecil pada penentuan waqf (titik berhenti) di ayat-ayat yang sangat panjang. Ayat-Ayat ini sering kali memiliki jeda alami di tengahnya. Para ulama berbeda pendapat apakah jeda tersebut merupakan akhir dari satu ayat atau hanya jeda yang disunnahkan untuk mengambil napas sebelum melanjutkan ayat yang sama.
Contoh yang paling terkenal adalah Ayat tentang Utang (*Ayat ad-Dayn*), Surah Al-Baqarah [2]: 282. Ayat ini adalah ayat terpanjang dalam Al-Qur'an. Dalam Mazhab Kufah (6236), keseluruhan teks ini dihitung sebagai satu ayat. Namun, beberapa riwayat lain mungkin membaginya menjadi dua atau bahkan tiga ayat, menambah jumlah total ayat secara keseluruhan, meskipun ini adalah pandangan minoritas.
V. Implikasi Praktis dan Teologis dari Perbedaan Hitungan
Meskipun perbedaan angka ayat ini menarik perhatian akademisi, penting untuk menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak memiliki implikasi substantif terhadap akidah atau fiqih, dengan pengecualian kecil terkait shalat.
5.1. Keutuhan Teks Al-Qur'an
Perbedaan dalam ‘Adad al-Ayat adalah masalah teknis penetapan batas, bukan masalah teks. Setiap huruf Al-Qur'an, dari *Alif* hingga *Ya*, sama persis di antara semua mazhab penghitungan yang diakui. Apa yang dianggap sebagai akhir ayat oleh ulama Kufah tetap ada di teks ulama Basrah; hanya saja ulama Basrah menganggapnya sebagai bagian integral dari ayat berikutnya.
Para ulama sepakat: Al-Qur'an adalah satu, dan perbedaan hitungan ayat tidak menimbulkan sedikit pun keraguan terhadap keotentikan dan kelengkapan Kitabullah.
5.2. Dampak pada Shalat (Basmalah)
Satu-satunya area fiqih di mana perbedaan hitungan ini sedikit memengaruhi praktik adalah dalam shalat. Karena Basmalah dihitung sebagai ayat pertama Al-Fatihah dalam Mazhab Kufi (dan Syafi’i), membaca Basmalah dengan keras dalam shalat jahr (shalat subuh, maghrib, isya) menjadi wajib atau sunnah muakkadah menurut pandangan Syafi'i.
Sebaliknya, dalam mazhab Hanafi dan Maliki (yang cenderung mengikuti hitungan Madani dan Basri yang tidak memasukkan Basmalah sebagai ayat), Basmalah dibaca pelan atau tidak diucapkan sama sekali saat shalat, karena mereka tidak menganggapnya sebagai bagian integral dari Al-Fatihah yang harus dibaca keras.
5.3. Hafalan dan Pengelompokan
Dalam konteks hafalan (Hifzh) dan tilawah, penetapan batas ayat sangat penting karena berkaitan dengan *ruku'* (kelompok ayat yang biasanya dibaca dalam satu rakaat shalat) dan juga sebagai panduan bagi para penghafal. Perbedaan hitungan dapat memengaruhi kompetisi tahfiz, di mana peserta harus menunjukkan pengetahuan mereka tentang batas-batas ayat sesuai dengan riwayat yang dipelajari (misalnya, menghafal sesuai hitungan Hafs dari Ashim).
VI. Analisis Mendalam Perbedaan Spesifik Ayat
Untuk memahami sepenuhnya kompleksitas *‘Adad al-Ayat*, kita perlu melihat contoh-contoh spesifik Surah dan ayat yang menjadi titik perselisihan antara mazhab Kufah (Kufi) dan mazhab Madinah/Basrah.
6.1. Surah-Surah yang Mengandung Huruf Muqatta'ah
Sebanyak 29 Surah dimulai dengan *Huruf Muqatta'ah*. Dalam sistem Kufi, hampir semuanya dihitung sebagai ayat tersendiri. Inilah penyumbang utama perbedaan.
- Al-Baqarah (Alif Lam Mim): Kufi menghitungnya 1 ayat. Madani/Makki tidak menghitung, dan menggabungkannya dengan ayat berikutnya.
- Ya Sin (Ya Sin): Kufi menghitungnya 1 ayat. Madani/Makki/Basri tidak menghitung.
- Ash-Shura (Ha Mim. Ain Sin Qaf): Kufi membaginya menjadi dua ayat (Ha Mim = Ayat 1; Ain Sin Qaf = Ayat 2). Mazhab lain umumnya menghitungnya sebagai satu kesatuan yang menjadi bagian dari ayat berikutnya.
Perbedaan penandaan ini saja sudah menyumbang puluhan ayat. Jika Basrah tidak menghitung Basmalah di Al-Fatihah, dan tidak menghitung *Huruf Muqatta'ah*, otomatis jumlah total mereka akan menjadi yang terendah.
6.2. Surah Al-Fatihah: Tujuh atau Delapan Ayat?
Seluruh umat Islam sepakat bahwa Al-Fatihah memiliki tujuh ayat, berdasarkan hadits Nabi. Namun, cara mencapai angka tujuh inilah yang berbeda:
- Mazhab Kufi: Basmalah dihitung sebagai Ayat 1. Ayat terakhir adalah *Shirathalladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim wa ladhdhallin*.
- Mazhab Madani/Basri: Basmalah tidak dihitung sebagai ayat. Untuk mencapai angka tujuh, mereka membagi ayat terakhir menjadi dua ayat: (1) *Shirathalladzina an'amta 'alaihim* (2) *ghairil maghdubi 'alaihim wa ladhdhallin*.
Dengan demikian, meskipun jumlah total ayat Surah Al-Fatihah sama (tujuh), penandaan di dalamnya berbeda, menunjukkan bagaimana setiap mazhab berusaha menjaga kesesuaian dengan riwayat Nabi, hanya saja dengan pendekatan pembagian yang berbeda.
6.3. Kasus Surah Al-Kautsar
Surah Al-Kautsar (Surah 108) disepakati memiliki tiga ayat: *Inna a’thainaakal kautsar* (1), *Fasalli lirabbika wanhar* (2), *Inna shani’aka huwal abtar* (3). Tidak ada perbedaan di sini.
6.4. Kasus Surah Al-Muddaththir
Surah Al-Muddaththir [74] memiliki 56 ayat menurut hitungan Kufi. Namun, beberapa riwayat Makki dan Madani membaginya menjadi lebih banyak, mencapai 60 atau lebih. Perbedaan ini terjadi karena dalam ayat-ayat yang sangat panjang seperti: *‘Alaiha tis’ata ‘ashar* [74:30], beberapa mazhab membagi ayat tersebut menjadi beberapa bagian untuk menekankan jeda atau intonasi.
VII. Dimensi Struktural: Ayat Terpanjang dan Terpendek
Diskusi mengenai jumlah ayat tidak lengkap tanpa membahas variasi struktural yang ada dalam Al-Qur'an, mulai dari ayat yang hanya terdiri dari satu kata hingga yang mengisi hampir satu halaman penuh mushaf.
7.1. Ayat Terpanjang: Ayat ad-Dayn
Ayat terpanjang dalam Al-Qur'an adalah Surah Al-Baqarah, Ayat 282 (Ayat ad-Dayn, Ayat tentang Utang). Ayat ini berisi sekitar 130 kata Arab dan mengatur secara rinci tata cara pencatatan utang piutang, saksi, dan jaminan. Panjangnya ayat ini menunjukkan pentingnya akuntabilitas dan kejelasan dalam muamalah (transaksi) finansial dalam Islam.
7.2. Ayat Terpendek
Menentukan ayat terpendek sedikit lebih rumit karena tergantung pada mazhab penghitungan yang digunakan. Jika kita mengikuti hitungan Kufi (6236), ayat terpendek umumnya adalah:
- Ya Sin: (Surah Ya Sin [36]: 1) - Terdiri dari dua huruf (Ya dan Sin), dihitung sebagai satu ayat.
- Ha Mim: (Surah Ghafir [40]: 1) - Terdiri dari dua huruf, dihitung sebagai satu ayat.
Jika kita mengecualikan *Huruf Muqatta'ah* (sesuai mazhab Basri/Madani), ayat terpendek yang mengandung makna lengkap adalah:
- Summa nazhara: (Surah Al-Muddaththir [74]: 21) - "Kemudian dia memandang (berpikir)".
- Mudhaammatan: (Surah Ar-Rahman [55]: 64) - "Hitam kehijauan".
Namun, dalam Mushaf standar (Kufi), *Huruf Muqatta'ah* yang dihitung sebagai ayat mandiri tetap merupakan ayat terpendek secara literal.
VIII. Hubungan Jumlah Ayat dengan Jumlah Surah dan Kata
Al-Qur'an terdiri dari 114 Surah. Meskipun jumlah Surah bersifat *mutawatir* (disepakati tanpa keraguan), jumlah ayat dan jumlah kata (dan huruf) merupakan hasil penghitungan ulama, yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga teks.
8.1. Jumlah Kata dan Huruf dalam Al-Qur'an
Ulama telah berupaya keras menghitung tidak hanya ayat, tetapi juga kata dan huruf. Angka-angka ini bervariasi tergantung pada metode penghitungan (misalnya, apakah *wa* (dan) dihitung sebagai kata terpisah atau bagian dari kata berikutnya).
- Jumlah Kata: Mayoritas ulama ahli hitungan, seperti Imam al-Fadl bin Syadhan, mencatat bahwa jumlah kata dalam Al-Qur'an adalah sekitar 77.439 kata.
- Jumlah Huruf: Jumlah huruf yang paling terkenal adalah 323.671 huruf. Penghitungan ini sering kali menjadi dasar untuk studi tentang statistik linguistik Al-Qur'an dan kemukjizatan numerik.
Fakta bahwa ulama telah mencatat angka hingga tingkat huruf menunjukkan upaya maksimum dalam melestarikan setiap detail wahyu, jauh melampaui standar perlindungan teks mana pun dalam sejarah.
8.2. Ayat: Jembatan antara Makna dan Bunyi
Ayat bukan hanya satuan hitungan; ia juga merupakan satuan makna. Biasanya, satu ayat berisi satu gagasan atau satu penggalan hukum. Ketika ulama berbeda pendapat tentang titik berhenti (waqf), seringkali ini adalah perbedaan interpretasi tentang di mana pemikiran teologis atau naratif tersebut mencapai titik henti yang paling tepat.
Sebagai contoh, memisahkan *Shirathalladzina an'amta 'alaihim* (Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat) dari *ghairil maghdubi 'alaihim wa ladhdhallin* (bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat) (seperti yang dilakukan Madani/Basri) dapat dipandang sebagai penekanan pada kategori orang yang diberi nikmat sebagai subjek yang terpisah sebelum menegaskan kategori orang yang harus dihindari.
IX. Kenapa Ketelitian Ini Begitu Penting?
Seseorang mungkin bertanya, mengingat semua angka riwayat yang berbeda, mengapa ulama begitu teliti dalam menghitung ayat, bahkan hingga ke Huruf Muqatta'ah yang maknanya pun hanya diketahui oleh Allah (menurut mayoritas tafsir)?
9.1. Menjaga Prinsip Tawqifi
Prinsip utama dalam Ilmu Al-Qur'an adalah *Tawqifi*—bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan pewahyuan (termasuk batas ayat) harus berasal dari Nabi. Ulama *‘Adad al-Ayat* bekerja keras mengumpulkan setiap riwayat dari Sahabat yang meriwayatkan bacaan Nabi. Karena Sahabat yang berbeda berada di lokasi yang berbeda, dan terkadang mendengar Nabi berhenti (waqf) di tempat yang berbeda (mungkin Nabi berhenti karena nafas, atau karena itu adalah akhir ayat), perbedaan riwayat ini kemudian diwariskan ke pusat-pusat ilmu regional.
Setiap mazhab penghitungan yang dihasilkan (Kufi, Basri, Makki, dll.) adalah upaya untuk secara jujur merefleksikan dan melestarikan riwayat yang mereka yakini paling kuat berasal dari Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah cerminan dari kesalehan dan ketelitian ilmiah yang ekstrem.
9.2. Penggunaan Numerik dalam Studi Modern
Di era modern, studi tentang jumlah ayat, kata, dan huruf sering digunakan dalam penelitian *I'jaz al-Qur'an* (kemukjizatan Al-Qur'an), terutama dalam bidang kemukjizatan numerik. Meskipun kajian ini harus didekati dengan hati-hati agar tidak jatuh pada takhayul, data numerik yang kokoh, seperti jumlah ayat Kufi 6236, memberikan dasar statistik yang penting bagi para peneliti.
9.3. Membedakan Tilawah
Dalam studi Qira'at, mengetahui di mana letak *Fasilah* (pemisah ayat) membantu Qari' untuk memahami kapan harus berhenti untuk menghindari pemutusan makna yang tidak pantas, dan juga untuk menjaga ritme (tajwid) saat tilawah, sesuai dengan tradisi kota asal Qira'at yang bersangkutan.
X. Kesimpulan: Persatuan di Balik Variasi
Pertanyaan mengenai berapa ayat Al-Qur'an membawa kita pada jawaban yang nuansanya kaya dan mendalam. Meskipun angka yang dominan secara global saat ini adalah 6236 ayat (sesuai Mazhab Kufah/Hafs), penting untuk memahami bahwa ini hanyalah salah satu dari enam sistem penghitungan yang sah, yang semuanya berakar pada riwayat yang otoritatif dari generasi pertama umat Islam.
Perbedaan angka, mulai dari 6204 (Basri) hingga 6236 (Kufi), timbul dari isu teknis penentuan batas ayat (*Fasilah*), terutama dalam hal status Basmalah dan Huruf Muqatta'ah, serta penandaan di ayat-ayat yang sangat panjang.
Variasi ini adalah bukti sejarah yang kuat akan ketelitian ulama *muqri'in* (ahli Qira'at) dan *muhadditsin* (ahli hitungan) dalam melestarikan setiap detail yang mereka terima dari Nabi Muhammad ﷺ. Pada akhirnya, variasi dalam jumlah ayat tidak mengubah substansi, lafaz, atau hukum syariat Al-Qur'an. Al-Qur'an tetaplah Kitab Suci yang satu, dan kekayaan tradisi *‘Adad al-Ayat* hanya menambah kedalaman dalam penghargaan kita terhadap ilmu-ilmu Islam yang luar biasa.
Simbol yang mewakili kesatuan Al-Qur'an meskipun ada perbedaan dalam perhitungan teknis ayat.
XI. Kajian Lebih Lanjut: Metodologi Ulama Fasilah
Ilmu *Al-Fasilah* atau *‘Adad al-Ayat* adalah cabang ilmu Al-Qur'an yang sangat teknis. Para ulama tidak hanya menghitung, tetapi juga mengembangkan kaidah-kaidah ketat untuk membenarkan riwayat hitungan mereka. Mereka mengacu pada ilmu *Ilmu al-Mutasyabih* (ayat-ayat yang serupa) dan *Ilmu al-Mawquf wal Mubtada'* (ilmu berhenti dan memulai).
11.1. Konsep I'dadi dan Ghayr I'dadi
Ulama membagi kalimat dalam Al-Qur'an menjadi dua kategori utama dalam konteks penghitungan:
- I'dadi (Dihitung): Kalimat yang diyakini sebagai akhir ayat, tempat Nabi ﷺ berhenti, dan memiliki kesesuaian fonetik atau makna yang menunjukkan penutup ayat.
- Ghayr I'dadi (Tidak Dihitung): Kalimat atau jeda yang dianggap hanya sebagai pemberhentian sementara (*Waqf Hasn* atau *Waqf Kafi*) yang dilakukan Nabi untuk bernapas, atau untuk memisahkan tema, tetapi bukan merupakan penutup ayat.
Perbedaan antara Mazhab Kufah dan Mazhab Basrah sering kali didasarkan pada apakah sebuah kata di akhir kalimat memiliki *I’dadi* atau *Ghayr I’dadi*. Jika ulama Kufah melihat kesamaan fonetik antara akhir ayat di Surah yang sama, mereka cenderung menganggapnya sebagai *Fasilah* (akhir ayat). Sebaliknya, ulama Basrah mungkin berpendapat bahwa secara makna, kalimat tersebut belum selesai, sehingga ia bersifat *Ghayr I’dadi*.
11.2. Kriteria Kesamaan dan Koherensi (Muwazana dan Musyakalah)
Salah satu kriteria terkuat yang digunakan oleh ulama *Fasilah* adalah kesamaan fonetik atau rima antar ujung ayat (*Muwazana* atau *Musyakalah*). Jika sebagian besar ayat dalam satu Surah berakhir dengan pola suara atau huruf tertentu, ulama cenderung menetapkan kata-kata dengan pola yang sama sebagai akhir ayat.
Contohnya, di Surah Al-Qadr (Surah 97), semua ayat berakhir dengan akhiran 'r'. Ulama Kufah cenderung menjaga konsistensi ini. Jika Nabi berhenti di suatu tempat yang rima dan polanya konsisten dengan ayat-ayat sekitarnya, maka mereka menjadikannya *Fasilah*. Jika Nabi berhenti di tempat yang rimanya berbeda, hal itu memperkuat argumen bahwa berhenti tersebut hanyalah jeda nafas.
Mazhab Basrah, di sisi lain, lebih memprioritaskan kesatuan makna teologis. Jika memisahkan kalimat akan merusak koherensi ide utama, mereka akan menggabungkannya, meskipun rima fonetiknya konsisten.
XII. Perdebatan Filosofis: Tawqifi Absolut vs. Ijtihad
Meskipun mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa penentuan ayat adalah Tawqifi Absolut (sepenuhnya ditetapkan oleh Allah dan diucapkan oleh Nabi), perdebatan historis menunjukkan adanya ruang bagi ijtihad dalam transmisi. Bagaimana ini bisa terjadi jika semuanya Tawqifi?
12.1. Tawqifi Transmisi
Inti permasalahannya bukan apakah Nabi menentukan batas ayat—Nabi pasti menentukannya. Masalahnya adalah bagaimana riwayat penetapan tersebut ditransmisikan dari para Sahabat ke Tabi’in di berbagai wilayah.
Ketika Nabi membacakan suatu bagian Al-Qur'an, beliau terkadang berhenti di akhir ayat, dan terkadang berhenti di tengah kalimat untuk mengambil napas, atau untuk tujuan tafsir. Para Sahabat yang hadir di saat itu mungkin menafsirkan berhenti tersebut secara berbeda. Sebagian menganggap itu adalah akhir ayat, sebagian lagi menganggap itu hanya waqf (berhenti) sementara.
Sebagai contoh, Abdullah bin Mas’ud, yang menjadi guru di Kufah, mungkin memiliki riwayat yang berbeda dari Ubay bin Ka’ab, guru di Madinah, mengenai satu atau dua titik berhenti. Kedua Sahabat ini tidak pernah mengklaim bahwa Al-Qur'an mereka berbeda. Mereka hanya memiliki transmisi yang berbeda mengenai *praktik tilawah* Nabi.
Oleh karena itu, sistem hitungan Kufi, Basri, Makki, dll., sebenarnya adalah upaya *Ijtihad* ulama Qira'at untuk menetapkan versi yang paling kuat dari riwayat Tawqifi di wilayah mereka masing-masing.
12.2. Studi Kasus: Surah Maryam [19]
Mari kita telusuri perbedaan dramatis di Surah Maryam, yang menjadi salah satu penyumbang perbedaan terbesar antara hitungan Kufi dan lainnya.
Surah ini dibuka dengan *Kaf Ha Ya Ain Shad*. Dalam hitungan Kufi, ini dipecah menjadi lima ayat terpisah, masing-masing terdiri dari satu huruf, dan Surah Maryam memiliki 98 ayat.
Mengapa ulama Kufah melakukan ini? Karena di bagian-bagian lain Surah Maryam, Nabi sering berhenti pada kata-kata yang mengandung rima serupa atau memiliki jeda alami. Ulama Kufah berargumen, untuk menjaga konsistensi fonetik dan ritme Surah, *Huruf Muqatta'ah* harus dianggap sebagai *Fasilah* (pemisah/akhir ayat) karena mereka berfungsi sebagai jeda yang kuat di awal Surah.
Sebaliknya, ulama Madinah/Basrah berpendapat bahwa memisahkan huruf-huruf tersebut menjadi lima ayat merusak makna dan keunikan Surah Maryam. Mereka menganggap seluruh rangkaian huruf itu sebagai satu kesatuan yang membuka Surah, dan mereka menggabungkannya dengan ayat berikutnya. Hasilnya, Surah Maryam menurut mereka hanya 97 ayat (atau lebih rendah jika Basmalah tidak dihitung).
Perbedaan ini menunjukkan bahwa metode penghitungan tidaklah serampangan, melainkan didasarkan pada prinsip-prinsip linguistik, ritmis, dan kehati-hatian dalam menerima riwayat *waqf* Nabi.
XIII. Meluruskan Angka Populer 6666 Ayat
Dalam budaya populer dan beberapa literatur keislaman tradisional (terutama yang berfokus pada keutamaan numerik), sering disebutkan bahwa Al-Qur'an memiliki 6666 ayat. Angka ini telah menyebar luas, tetapi dalam konteks ilmu *‘Adad al-Ayat* yang ketat, angka ini dianggap sebagai angka majmu’ (akumulasi) yang tidak digunakan dalam mushaf standar saat ini.
13.1. Asal Usul Angka 6666
Angka 6666 diduga berasal dari riwayat yang dikaitkan dengan Muqatil bin Sulaiman, yang menggabungkan berbagai sistem hitungan atau menambahkan hitungan Basmalah secara tidak konsisten.
Kemungkinan besar, angka 6666 diperoleh dari:
- Mengambil jumlah ayat Kufi (6236).
- Menambahkan 113 Basmalah (termasuk Al-Fatihah, dan menghitung Basmalah di Surah At-Tawbah meskipun tidak ada).
- Menambahkan Huruf Muqatta'ah yang dipecah secara maksimal.
Atau, menurut penelitian ulama kontemporer, angka ini mungkin berasal dari riwayat yang dilemahkan dari Ubay bin Ka'ab, di mana ia mencatat jumlah total ayat sebelum Mushaf disatukan secara resmi oleh Utsman bin Affan, dan angka tersebut mencakup pengulangan atau penandaan yang kemudian ditinggalkan oleh konsensus ulama Madinah dan Kufah.
13.2. Pentingnya Konsensus
Meskipun angka 6666 populer di kalangan tertentu, ia tidak didukung oleh salah satu dari enam mazhab hitungan baku yang diakui dalam Ilmu Al-Qur'an (Madani I/II, Makki, Kufi, Basri, Syami). Bagi para ulama *Qira'at*, angka yang paling otoritatif tetap 6236 (Kufi) atau 6214 (Madani), karena angka-angka tersebut memiliki sanad transmisi yang jelas kepada para guru Qira'at yang tsiqah (terpercaya).
XIV. Menghargai Perbedaan dalam Kehidupan Muslim Sehari-hari
Perbedaan dalam jumlah ayat ini, meskipun bersifat akademis, mengajarkan umat Islam tentang pentingnya toleransi ilmiah (*ikhtilaf*) dalam hal-hal teknis yang tidak memengaruhi dasar agama.
14.1. Tilawah dan Mushaf
Seorang Muslim di Mesir atau Indonesia yang membaca Mushaf Kufi (6236) akan memiliki titik berhenti yang berbeda dari seorang Muslim di sebagian Afrika Utara yang mungkin masih menggunakan Mushaf yang mengikuti riwayat Warsh dari Nafi' (Qira'at Madani I atau II, 6217 ayat). Kedua pembaca tersebut membaca teks yang sama persis, tetapi tanda lingkaran kecil yang menandakan akhir ayat akan diletakkan di tempat yang berbeda.
Jika pembaca Kufi berhenti setelah *Alif Lam Mim* di Al-Baqarah, itu benar. Jika pembaca Madani melanjutkan hingga *Dzalikal kitabu la raiba fih* dan baru berhenti, itu juga benar, sesuai dengan tradisi yang ia ikuti.
14.2. Warisan Intelektual
Kajian mendalam tentang ‘Adad al-Ayat adalah bukti kekayaan warisan intelektual Islam. Ia menunjukkan bahwa sejak awal, umat Islam telah menjaga teks suci mereka dengan standar ketelitian yang melampaui kebudayaan lain. Setiap perbedaan riwayat dipertahankan, dianalisis, dan dikatalogkan, bukan untuk memecah belah, tetapi untuk melestarikan setiap kemungkinan yang berasal dari Nabi. Ini adalah pengakuan akan otoritas kenabian yang mutlak (*Tawqifi*).
Penting bagi Muslim modern untuk menyadari bahwa ketika mereka membaca mushaf yang mencantumkan 6236, itu adalah jumlah yang sahih berdasarkan riwayat Ashim dari Kufah. Namun, mengetahui adanya hitungan lain (seperti 6204 Basri atau 6217 Madani) menambah pemahaman bahwa kekayaan Al-Qur'an terbentang dalam berbagai jalur transmisi yang autentik.
Pada akhirnya, terlepas dari perbedaan kecil dalam penandaan jumlah, inti dari ajaran Al-Qur'an, yaitu tauhid, risalah, dan syariat, tetap utuh, abadi, dan universal.