Menyingkap Hikmah Surat Al-Hijr Ayat 2

الٓر تِلْكَ ءَايَٰتُ Kebenaran Tertulis

Ilustrasi Kitab Suci dan Wahyu

Teks dan Terjemahan

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

(Surat Al-Hijr Ayat 2): "Orang-orang yang kafir itu, (pada suatu saat) akan mengharapkan seandainya mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Konteks Ayat: Penyesalan di Hari Pembalasan

Surat Al-Hijr, yang merupakan surat Makkiyah, dibuka dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT. Ayat kedua ini, Surat Al-Hijr ayat 2, menyajikan sebuah gambaran dramatis mengenai kondisi psikologis dan spiritual orang-orang yang selama hidupnya menolak kebenaran (orang kafir) saat mereka menghadapi kenyataan akhirat.

Ayat ini bukan sekadar narasi, melainkan sebuah peringatan keras. Kata "رُبَمَا" (rubbama) mengandung makna pengulangan atau kemungkinan yang sangat besar terjadi. Ini menunjukkan bahwa penyesalan tersebut bukan hanya sekadar kemungkinan, melainkan sebuah kepastian yang akan dialami oleh mereka.

Mengapa mereka berharap menjadi Muslim? Karena pada saat itu, semua bukti telah jelas, tipu daya dunia telah berakhir, dan mereka menyaksikan sendiri konsekuensi dari pilihan hidup mereka. Mereka melihat janji-janji Allah kepada orang-orang beriman terwujud, sementara azab bagi mereka yang ingkar mulai terasa. Harapan mereka saat itu adalah seandainya saja mereka mau menerima risalah Islam ketika masih diberi kesempatan di dunia.

Implikasi Spiritual dari Penyesalan

Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang urgensi iman saat masih berada di dunia. Keimanan, yang berarti berserah diri sepenuhnya kepada kehendak dan ajaran Allah (Islam), haruslah ditanamkan sedini mungkin. Di akhirat, pintu taubat dalam konteks penerimaan iman telah tertutup. Penyesalan di sana tidak lagi memberikan manfaat, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat lain yang menegaskan bahwa saat kematian datang, penyesalan tidak lagi diterima.

Bagi seorang Muslim yang membaca ayat ini, Surat Al-Hijr ayat 2 berfungsi sebagai penguat keyakinan dan pendorong untuk terus beristiqamah. Ini mengingatkan bahwa jalan Islam adalah jalan keselamatan, dan mereka yang berada di dalamnya harus bersyukur atas nikmat petunjuk tersebut.

Sebaliknya, ayat ini menjadi cermin refleksi bagi mereka yang masih ragu-ragu atau menunda-nunda untuk memeluk Islam. Gambaran penyesalan kolektif orang kafir tersebut seharusnya memicu kesadaran bahwa ada realitas abadi yang menanti setelah kematian fana.

Keistimewaan Pembukaan Al-Hijr

Surat Al-Hijr terdiri dari 99 ayat, dan dibuka dengan sumpah Allah terhadap Al-Qur'an sebagai Kitab yang jelas dan mengandung kebenaran. Pembukaan ayat (ayat 1 dan 2) ini menetapkan tema utama surat: kebenaran wahyu dan reaksi manusia terhadapnya.

Setelah menegaskan keagungan Al-Qur'an, Allah langsung menyajikan konsekuensi penolakan wahyu melalui pandangan orang kafir di akhirat. Kontras ini sangat tajam. Jika Al-Qur'an adalah kebenaran hakiki, mengapa banyak yang memilih untuk menolaknya? Ayat 2 memberikan jawabannya: mereka akan menyesalinya ketika terlambat.

Ayat ini juga menekankan bahwa Islam bukanlah sekadar agama ritual, melainkan sebuah sikap totalitas penyerahan diri ("berserah diri" atau muslim). Penyerahan inilah yang menjadi kunci untuk menghindari penyesalan abadi yang digambarkan dalam ayat ini.

Kata Kunci Terkait: Surat Al-Hijr Ayat 2, Penyesalan Orang Kafir, Keimanan, Berserah Diri, Al-Qur'an.
🏠 Homepage