Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang telah dilimpahkan) kepada kalian, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerang kalian, lalu Allah menahan tangan mereka dari kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman itu berserah diri.
Surah Al-Maidah, yang berarti "Al-Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan hukum, perintah, dan kisah-kisah penting dalam Islam. Ayat ke-10 dari surah ini merupakan pengingat yang kuat bagi umat Islam, memadukan antara rasa syukur atas pertolongan Allah di masa lalu, dengan penekanan abadi pada pentingnya takwa dan tawakal.
Ayat ini diawali dengan panggilan mulia: "Wahai orang-orang yang beriman!" (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا). Panggilan ini selalu menandakan akan datangnya perintah atau nasihat yang sangat fundamental bagi keimanan dan eksistensi seorang Muslim. Allah mengingatkan mereka untuk selalu mengingat nikmat-Nya, khususnya dalam konteks peristiwa historis tertentu.
Secara spesifik, ayat ini merujuk pada momen genting ketika sekelompok musuh (biasanya ditafsirkan merujuk pada suku Bani Kinanah atau musuh lain di masa awal Islam) bertekad kuat untuk menyerang dan mencelakakan kaum Muslimin. Ancaman fisik ini sangat nyata dan mengancam keberlangsungan komunitas Muslim saat itu. Namun, keajaiban terjadi: "lalu Allah menahan tangan mereka dari kalian." Ini adalah bukti nyata bahwa perlindungan tertinggi datang langsung dari Zat Yang Maha Kuasa, bukan semata-mata karena kekuatan persenjataan atau strategi manusia. Pertolongan ilahi ini harus selalu dikenang sebagai sumber utama rasa aman dan kemenangan.
Setelah mengingatkan tentang pertolongan masa lalu, ayat ini beralih memberikan dua perintah utama yang harus melekat pada diri setiap mukmin:
Kombinasi antara mengingat nikmat masa lalu (syukur), menjaga ketaatan (takwa), dan melepaskan hasil akhir (tawakal) merupakan formula kemenangan hakiki bagi seorang mukmin, baik dalam skala individu maupun kolektif. Surah Al-Maidah ayat 10 mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada hubungan yang teguh dengan Sang Pencipta, bukan pada kekuatan materi yang bersifat sementara.
Pelajaran dari Al-Maidah ayat 10 tetap relevan hingga kini. Dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan modern—baik itu krisis ekonomi, tantangan sosial, maupun tekanan psikologis—umat Islam diingatkan untuk tidak pernah melupakan pertolongan Allah yang telah dialami di masa lalu. Rasa syukur ini memompa semangat untuk tetap teguh dalam ketakwaan, bahkan ketika godaan dunia terasa kuat.
Ketika manusia berusaha sekuat tenaga memecahkan masalah, ayat ini mengingatkan bahwa ada batas kemampuan manusia. Di titik itulah, penyerahan diri total kepada Allah (tawakal) menjadi penentu kedamaian batin. Ketika seseorang telah melakukan yang terbaik sesuai koridor syariat, menyerahkan hasilnya kepada Allah akan menghilangkan kekhawatiran yang tidak perlu, karena ia percaya bahwa apa pun hasilnya, itu adalah yang terbaik yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Mengetahui segalanya. Ayat ini adalah fondasi ketenangan bagi jiwa yang beriman.