Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan sejarah kenabian. Bagian akhir dari surah ini, khususnya mulai dari ayat 100 hingga 120, membawa kita pada pembahasan mendalam mengenai hakikat kebenaran, pertanggungjawaban di hari kiamat, dan peran kepemimpinan.
Ayat 100: Perbandingan Orang Baik dan Orang Buruk
Ayat 100 memulai pembahasan ini dengan sebuah perbandingan kontras yang tajam:
(Katakanlah:) "Tidaklah sama antara yang jahat dan yang baik, meskipun banyaknya yang jahat itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapatkan keberuntungan." (QS. Al-Ma'idah: 100)
Ayat ini mengajarkan prinsip universal bahwa nilai sejati tidak diukur dari kuantitas atau penampilan luar. Kekafiran dan keimanan, keburukan dan kebaikan, tidak akan pernah setara, meskipun keburukan itu tampak banyak dan memukau. Inti pesannya adalah seruan untuk menggunakan akal (ulil albab) dalam menilai, karena hanya orang berakal yang mampu membedakan dan memilih jalan yang benar menuju Falah (keberuntungan sejati).
Ayat 101-105: Kehati-hatian dalam Bertanya dan Menjelajahi Batasan
Setelah penekanan pada akal budi, ayat-ayat berikutnya (101-105) menekankan pentingnya berhati-hati dalam bertanya dan bertindak.
Allah SWT melarang kaum mukminin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berlebihan, yang jika dijawab, dapat memberatkan mereka sendiri atau membuka pintu bagi hukum yang sulit dipatuhi. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya mengikuti batas syariat yang telah ditetapkan tanpa mencari kerumitan yang tidak perlu. Jika suatu masalah belum dijelaskan, umat Islam diperintahkan untuk diam dan tidak memperluas masalah tersebut. Ayat-ayat ini juga menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah prioritas utama, bukan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang menentang (seperti Yahudi dan Nasrani yang dianggap sebagai kaum Ahli Kitab yang banyak membuat masalah).
Fokus selanjutnya beralih pada pemimpin spiritual. Ayat 105 menegaskan bahwa ketika seseorang telah mendapatkan petunjuk (Al-Haqq), maka kesesatan orang lain tidak akan merugikan dirinya. Tanggung jawab utama adalah menjaga diri sendiri dari kesesatan.
Ayat 106-108: Etika Persaksian dan Peran Saksi
Bagian krusial dalam Al-Ma'idah adalah pembahasan mengenai kesaksian (persaksian) dalam pengadilan (ayat 106-108). Islam sangat menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran dalam memberikan keterangan.
Ayat-ayat ini memberikan tata cara spesifik mengenai bagaimana seorang muslim harus bersaksi, terutama saat seseorang menghadapi kematian. Dua orang laki-laki yang adil dari kalangan muslim harus dipanggil, atau jika tidak ada, dua orang dari luar komunitas jika ada kekhawatiran penyelewengan. Hal ini menunjukkan betapa ketatnya pengawasan Allah terhadap integritas kesaksian untuk menjaga hak-hak sipil dan perdata.
Ayat 109-112: Peran Kenabian dan Hari Pertanyaan
Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW tentang hari di mana semua rasul akan dikumpulkan. Ayat 109 berfokus pada hari kiamat ketika Allah bertanya kepada para nabi tentang hasil dakwah mereka.
Para nabi akan menjawab serempak, "Kami tidak mempunyai pengetahuan; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib." Ini menanamkan kerendahan hati bagi para pemimpin dan pengikut, menyadari bahwa segala pengetahuan hakiki hanya milik Allah SWT.
Ayat 110-112 kemudian membahas mukjizat Nabi Isa AS. Allah mengingatkan mukjizat yang diberikan kepadanya (menghidupkan orang mati dengan izin Allah), dan bagaimana mukjizat tersebut menjadi bukti nyata atas kebenaran risalahnya. Ini berfungsi sebagai penguatan tauhid dan penolakan terhadap konsep Trinitas yang disalahpahami oleh sebagian kalangan nasrani.
Ayat 113-120: Doa Penutup dan Kedudukan Nabi Isa di Akhirat
Menjelang akhir surat, ayat 113 membahas tentang reaksi hati orang-orang beriman setelah melihat mukjizat hidangan (ma’idah) yang diturunkan sebagai bukti keimanan mereka. Hati mereka menjadi tenang dan mereka yakin bahwa Allah Maha Benar.
Puncak pembahasan kenabian Isa AS terdapat pada ayat 114-118, di mana Nabi Isa memohon kepada Allah untuk menurunkan hidangan tersebut sebagai hari raya bagi kaumnya. Allah mengabulkan doa tersebut. Namun, janji Allah juga menyertakan konsekuensi: barangsiapa di antara mereka yang kafir setelah itu, maka akan diazab dengan azab yang sangat keras yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun dari seluruh alam.
Ayat terakhir dalam rentang ini (Ayat 119-120) adalah dialog final antara Allah dengan para Nabi. Allah bertanya kepada Nabi Isa AS di hadapan semua manusia: Apakah engkau yang mengatakan kepada manusia, "Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?"
Jawaban tegas Nabi Isa AS menegaskan penolakan total terhadap penyekutuan tersebut: "Maha Suci Engkau! Tidaklah pantas bagiku untuk mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib." (Ayat 116).
Ayat 120 menutup Surah Al-Ma'idah dengan penegasan bahwa kekuasaan di langit dan di bumi serta segala isinya hanyalah milik Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk, termasuk para nabi yang mulia, yang memiliki otoritas mutlak selain dari izin-Nya.
Hikmah Utama Ayat 100-120
Secara keseluruhan, rentang ayat ini memberikan landasan kuat bagi seorang muslim untuk:
- Mengutamakan substansi (kebaikan) di atas kuantitas atau kemasan (keburukan).
- Berhati-hati dalam bertanya dan patuh pada batasan syariat yang jelas.
- Menjaga integritas dalam persaksian demi tegaknya keadilan sosial.
- Memahami bahwa semua nabi dan rasul hanya menyampaikan wahyu, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib.
Pesan ini adalah pengingat abadi bahwa keberuntungan sejati hanya diraih dengan akal yang lurus dan ketaatan penuh kepada Sang Pencipta alam semesta.