Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, membawa banyak sekali pedoman penting, terutama mengenai hukum, etika sosial, dan hubungan antarmanusia. Salah satu ayat kunci yang menggarisbawahi fondasi moralitas Islam adalah ayat kedua, yang seringkali menjadi landasan utama dalam pembahasan muamalah (interaksi sosial) dan penegakan keadilan.
Ayat ini secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan, sambil melarang keras adanya kolaborasi dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Ayat ini adalah panggilan universal untuk membangun masyarakat yang adil, saling mendukung dalam kebaikan, dan menjauhi segala bentuk kezaliman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar (hukum) syiar-syiar Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan haram, jangan (mengganggu) hewan korban, jangan pula unta-unta yang dikalungi kalungan, dan jangan (mengganggu) orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya. Dan apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka berburulah! Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum yang pernah menghalangimu dari Masjidilharam mendorongmu untuk melanggar batas (berbuat zalim) kepada mereka. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Berat siksanya."
Meskipun ayat ini dibuka dengan larangan-larangan spesifik terkait ritual haji dan penghormatan terhadap kesucian tempat ibadah (seperti Bulan Haram dan Ka'bah), inti universal yang paling sering diangkat dalam konteks sosial adalah perintah di bagian tengahnya: "Wa ta'āwanū 'alal birri wat taqwā, wa lā ta'āwanū 'alal itsmi wal 'udwān." (Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.)
Perintah ini bersifat menyeluruh. Kata "birr" (kebajikan) mencakup segala perbuatan baik, mulai dari sedekah, menolong orang yang membutuhkan, menjaga persaudaraan, hingga menegakkan keadilan. Sementara "taqwa" (ketakwaan) adalah kesadaran akan Allah yang mendorong seseorang untuk selalu berada di jalan yang diridai-Nya.
Dalam konteks masyarakat modern, ayat ini mengajak umat Muslim untuk menjadi agen perubahan positif. Jika ada proyek kemanusiaan, upaya pelestarian lingkungan, atau inisiatif sosial untuk mengangkat derajat kaum yang tertindas, seorang Muslim wajib ambil bagian. Ini adalah prinsip gotong royong yang berlandaskan iman.
Di sisi lain, larangan untuk bekerja sama dalam "itsm" (dosa) dan "'udwan" (permusuhan/kezaliman) menjadi rem moral yang sangat kuat. Ini bukan hanya larangan melakukan dosa secara pribadi, tetapi larangan menjadi alat atau kaki tangan dalam kemaksiatan orang lain.
Contoh klasik dari larangan ini adalah tidak terlibat dalam sistem korupsi, tidak membantu proses penipuan, atau bahkan tidak mendukung secara diam-diam kebijakan yang jelas-jelas menindas kelompok lain. Ketika kebencian atau permusuhan (seperti yang disebutkan dalam konteks larangan menghalangi Masjidilharam) mendorong seseorang untuk berlaku zalim, ayat ini mengingatkan agar tidak membiarkan emosi negatif mengalahkan prinsip keadilan Ilahi.
Salah satu pelajaran paling mendalam dari Al-Maidah ayat 2 adalah penekanan pada keadilan, bahkan ketika berhadapan dengan musuh. Ayat tersebut berkata: "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum yang pernah menghalangimu dari Masjidilharam mendorongmu untuk melanggar batas (berbuat zalim) kepada mereka."
Ini menunjukkan bahwa hukum Allah dan prinsip keadilan bersifat absolut dan tidak terpengaruh oleh dendam masa lalu atau afiliasi kelompok. Jika suatu kelompok melakukan kesalahan besar di masa lalu, umat Islam tetap diperintahkan untuk tidak melampaui batas (melakukan kezaliman) saat berinteraksi dengan mereka di masa kini. Ini adalah standar etika tertinggi dalam hubungan internasional dan antar-komunitas.
Ayat ini ditutup dengan peringatan yang tegas: "Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Berat siksa-Nya." Peringatan ini berfungsi sebagai penguat bahwa perintah untuk berbuat baik dan menjauhi kezaliman bukanlah sekadar anjuran moral, melainkan kewajiban syar'i yang konsekuensinya sangat besar di akhirat. Kesadaran akan pengawasan dan pertanggungjawaban ini seharusnya menjadi pendorong utama bagi setiap mukmin untuk selalu memilih jalan kebajikan dan keadilan dalam setiap aspek kehidupannya.