Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang universal, mencakup aspek moralitas, hukum, dan janji ghaib. Salah satu ayat yang seringkali menjadi penyejuk hati bagi orang-orang beriman adalah yang terdapat dalam Surah Al-Hijr, khususnya ayat ke-47. Ayat ini, meskipun singkat, memuat janji besar mengenai balasan bagi mereka yang menjaga kesucian hati dan amal perbuatan mereka di dunia.
Catatan Penting: Teks di atas adalah gabungan dari kelanjutan ayat 47 dan 48 Surah Al-Hijr. Ayat 47 secara spesifik berbunyi: "Dan Kami cabut apa yang ada di dalam dada mereka sejenis kedengkian; (sehingga) mereka menjadi bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas ranjang-ranjang." Terjemahan yang sering dirujuk untuk konteks kebahagiaan penghuni surga adalah kelanjutan dari rangkaian ayat ini. Ayat 47 sendiri fokus pada pembersihan hati dari sifat-sifat negatif.
Surat Al-Hijr ayat 47 memberikan gambaran tentang kemuliaan yang akan diterima oleh ahli surga. Salah satu anugerah terbesar yang dianugerahkan Allah SWT di akhirat bukanlah sekadar kenikmatan fisik seperti sungai yang mengalir (yang dijelaskan di ayat-ayat selanjutnya), melainkan pemurnian jiwa. Kata "ghill" (غِلّ) dalam bahasa Arab berarti kedengkian, kebencian terpendam, atau rasa tidak suka yang mengganggu kedamaian batin.
Sifat dengki adalah racun sosial dan spiritual. Di dunia, dengki dapat memecah belah persahabatan, memicu permusuhan, dan menghalangi seseorang untuk bersyukur. Namun, di surga, Allah menjamin bahwa setiap mukmin akan dibersihkan sepenuhnya dari sifat tercela ini. Bayangkan sebuah komunitas di mana tidak ada sedikit pun rasa iri atau benci antar sesama. Keadaan ini menciptakan persaudaraan sejati—hubungan yang didasari oleh cinta murni kepada Allah dan sesama hamba-Nya.
Ketika hati telah bebas dari kotoran hasad dan dengki, konsekuensinya adalah terwujudnya persatuan yang sempurna. Ayat ini menyebutkan bahwa mereka akan duduk "bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas ranjang-ranjang." Ini bukan sekadar pertemuan biasa; ini adalah pertemuan para kekasih Allah yang saling memandang dengan penuh kasih sayang tanpa sedikit pun celaan atau rasa tidak enak hati.
Di dunia, menjaga persahabatan seringkali memerlukan kompromi dan pengampunan atas kesalahan kecil. Namun, di akhirat, dengan rahmat ilahi, segala potensi konflik telah dihilangkan. Mereka akan menikmati kemuliaan dalam kebersamaan, sebuah kondisi puncak dari harmoni sosial yang didambakan oleh setiap manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kedamaian batin (pembersihan hati) adalah prasyarat untuk menikmati kedamaian sosial di tempat peristirahatan abadi.
Meskipun ayat 47 fokus pada keadaan hati di surga, rangkaian ayat-ayat setelahnya (terutama ayat 48 dan 49) mempertegas bahwa nikmat agung ini diraih karena amal perbuatan yang dilakukan saat di dunia. Kebersihan hati dan amal saleh harus berjalan seiring. Seseorang tidak bisa mengharapkan pembersihan total di akhirat jika selama hidup ia sengaja memelihara kebencian dalam dadanya.
Oleh karena itu, Al-Hijr ayat 47 menjadi motivasi ganda:
Ayat ini mengajak umat Islam untuk melakukan introspeksi mendalam. Apakah masih ada rasa tidak suka yang terpendam terhadap rekan kerja, tetangga, atau bahkan kerabat? Mengelola ego dan menekan keinginan untuk iri hati adalah bagian dari jihad akbar (perjuangan besar) seorang mukmin.
Mengingat janji manis Allah berupa kebahagiaan yang sempurna tanpa ada gangguan emosi negatif, seharusnya mendorong kita untuk lebih aktif dalam beribadah dan berusaha menyebarkan kebaikan. Surga bukan hanya tempat yang indah secara fisik, tetapi ia adalah puncak kesempurnaan spiritual di mana hati manusia benar-benar tenang dan damai. Surat Al-Hijr ayat 47 menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati adalah ketenangan yang dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta setelah melalui proses pemurnian di dunia.