Kajian Mendalam Surah Al-Maidah Ayat 81

العِلْمُ Al-Ilmu (Ilmu) Ilustrasi terbuka Kitab Suci dengan cahaya kebijaksanaan

Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, membawa berbagai pelajaran penting mengenai hukum, etika, dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya serta sesama manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi fokus kajian adalah ayat ke-81. Ayat ini mengandung peringatan keras dan penekanan pada konsekuensi logis dari pilihan yang diambil oleh sekelompok orang dalam sejarah Islam.

Teks Surah Al-Maidah Ayat 81

وَلَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
"Dan sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai wali (pemimpin/pelindung), tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik (durhaka)."

Konteks dan Penjelasan Ayat

Ayat 81 Al-Maidah ini turun dalam konteks hubungan yang tegang antara umat Islam awal dengan kaum Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang musyrik Makkah. Ayat-ayat sebelumnya (khususnya ayat 51) telah melarang keras kaum mukminin menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai awliya' (pemimpin, pelindung, atau teman setia yang menempatkan kepentingan mereka di atas kepentingan Islam), terutama ketika mereka menunjukkan permusuhan.

Ayat 81 ini berfungsi sebagai penjelas atau penguat logika. Allah SWT menegaskan bahwa jika sekelompok orang (yang seringkali merujuk pada kelompok yang secara lahiriah tampak beriman tetapi perilakunya kontradiktif) benar-benar beriman kepada Allah, kepada Nabi Muhammad SAW, dan menerima seluruh wahyu yang diturunkan, mustahil bagi mereka untuk memilih atau menjadikan musuh-musuh Allah sebagai penolong utama atau pelindung sejati.

Pilar Keimanan yang Terabaikan

Ayat ini menggarisbawahi tiga pilar keimanan yang harus terintegrasi dalam tindakan seorang Muslim:

  1. Iman kepada Allah: Tauhid yang murni.
  2. Iman kepada Nabi: Mengikuti ajaran dan kepemimpinan Rasulullah SAW.
  3. Iman kepada Wahyu: Menerima dan mengamalkan Al-Qur'an.
Ketika tiga pilar ini tegak lurus, otomatis akan muncul kesetiaan total (wala') hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Keterikatan emosional atau strategis kepada pihak yang secara fundamental menentang kebenaran ilahi menjadi pertanda adanya kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam keimanan tersebut.

Kata "fasikun" (فاسقون) pada akhir ayat adalah vonis tegas. Secara harfiah, fasik berarti keluar dari ketaatan atau keluar dari jalur yang benar. Ketika seseorang yang mengaku beriman namun tetap memilih jalan yang bertentangan dengan inti keimanannya, ia telah keluar dari lingkaran ketaatan sejati. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan manifestasi dalam sikap politik, sosial, dan loyalitas sehari-hari.

Relevansi Kontemporer

Kajian Surah Al-Maidah ayat 81 sangat relevan hingga kini. Ia menjadi pengingat bahwa loyalitas sejati seorang mukmin harus terpusat. Di era globalisasi dan informasi, tantangan untuk menjaga integritas iman seringkali muncul dalam bentuk tekanan budaya, ideologis, atau politik dari luar. Ayat ini menuntut umat Islam untuk senantiasa melakukan evaluasi diri: Apakah pilihan pemimpin, teman diskusi strategis, atau sumber rujukan utama kita sejalan dengan prinsip yang diturunkan oleh Allah SWT?

Jika ditemukan adanya simpulan atau kecenderungan untuk bersandar pada kekuatan yang secara terang-terangan menentang nilai-nilai ilahi demi keuntungan duniawi sesaat, maka ayat ini mengingatkan bahwa tindakan tersebut merupakan ciri dari kefasikan. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini membantu umat membedakan antara pergaulan sosial yang diperbolehkan (muamalah) dengan bentuk loyalitas mutlak atau kepemimpinan (wala' dan ri'asah) yang hanya boleh diberikan kepada mereka yang teguh berada di jalan Allah. Dengan demikian, ayat ini adalah barometer kemurnian iman dalam konteks pergaulan dunia yang kompleks.

🏠 Homepage