Hubungan seorang hamba dengan Penciptanya, Allah SWT, adalah inti dari keberadaan seorang Muslim. Kesempurnaan hubungan ini bergantung pada kualitas iman dan, yang lebih mendasar lagi, kualitas akhlak tercela kepada Allah. Akhlak dalam konteks ini bukan sekadar etika sosial, melainkan adab dan sikap batin yang termanifestasi dalam keyakinan, ibadah, dan penghambaan.
Ketika kita berbicara mengenai akhlak, seringkali fokus tertuju pada perilaku terhadap sesama manusia. Namun, fondasi utamanya adalah bagaimana kita memosisikan Allah dalam hati dan pikiran kita. Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan tuntunan-Nya, sekecil apapun, merupakan bentuk akhlak yang tercela di hadapan-Nya.
Akhlak yang buruk terhadap Allah dapat dikategorikan menjadi beberapa bentuk utama, yang semuanya berakar dari kurangnya pemahaman atau pengabaian terhadap keagungan-Nya:
Ini adalah dosa terbesar dan puncak dari akhlak tercela kepada Allah. Syirik terjadi ketika kita menempatkan sekutu bagi Allah dalam hal Rububiyyah (kekuasaan), Uluhiyyah (hak untuk disembah), atau Asma’ wa Shifat (nama dan sifat-Nya). Contohnya adalah meminta pertolongan kepada selain-Nya dalam hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, atau meyakini bahwa ada kekuatan lain yang setara dengan-Nya.
Kufur adalah menutupi atau mengingkari nikmat dan kebenaran yang dibawa oleh Allah. Ini bisa berupa kekufuran yang jelas (menolak kebenaran Islam) atau kekufuran nikmat (tidak mensyukuri karunia Allah). Orang yang lisannya mengakui nikmat, namun hatinya menolak untuk tunduk atau berterima kasih, menunjukkan akhlak tercela kepada Allah dalam bentuk ingkar.
Riya’ adalah menampakkan amal ibadah agar dilihat dan dipuji manusia. Meskipun ibadah tersebut tampak benar di permukaan, motifnya telah ternodai. Ketika ibadah dilakukan bukan semata-mata karena Allah, maka itu adalah bentuk ketidakikhlasan, yang merupakan cacat parah pada akhlak seorang hamba terhadap Khaliq-nya.
Ujub terjadi ketika seseorang merasa bangga atau menganggap keberhasilan ibadahnya adalah murni hasil usahanya sendiri, tanpa menyadari bahwa kemampuan itu datang dari karunia Allah. Sikap ini meniadakan rasa ketergantungan total (tawakkal) kepada Allah.
Allah SWT Maha Pengampun. Namun, ketika seorang hamba merasa dosanya terlalu besar sehingga Allah tidak akan mengampuninya, ia telah melakukan akhlak tercela kepada Allah yang fatal. Putus asa menunjukkan keraguan terhadap sifat Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahman (Maha Penyayang).
Kebalikan dari putus asa adalah merasa terlalu aman. Ini terjadi ketika seseorang terus menerus berbuat maksiat sambil yakin bahwa Allah tidak akan menghukumnya karena amal baiknya di masa lalu atau karena merasa bahwa Allah terlalu baik untuk menghukumnya. Ini adalah kesombongan spiritual.
Seseorang yang terbiasa melakukan akhlak tercela kepada Allah akan mengalami degradasi spiritual yang signifikan:
Memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah memerlukan introspeksi mendalam dan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu). Langkah-langkah perbaikan meliputi:
Menjaga akhlak kepada Allah adalah investasi terbesar seorang Muslim. Ia memastikan bahwa seluruh amal perbuatan kita berlandaskan fondasi yang benar, yaitu ketaatan total dan ketundukan mutlak hanya kepada-Nya.