Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ke-98 ini menempati posisi penting dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas keesaan Allah, hukum, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta. Ayat ini secara eksplisit mengingatkan manusia tentang kemampuan Allah untuk menghidupkan kembali sesuatu yang tampak telah mati, sebuah metafora kuat yang menghubungkan antara kebangkitan alam (tanah kering menjadi subur) dengan kebangkitan manusia di hari akhir.
Perintah dalam ayat ini diawali dengan kata perintah, "Katakanlah" atau dalam tafsir lain "Ketahuilah", yang menekankan pentingnya pemahaman dan kesadaran. Allah SWT menjelaskan bahwa proses menghidupkan bumi setelah kekeringan panjang atau musim dingin yang mematikan adalah salah satu ayat-Nya yang nyata. Ketika hujan turun dan tanah yang tadinya tandus kembali menghijau, hal ini seharusnya menjadi bukti konkret bahwa Zat yang mampu melakukan transformasi dahsyat ini juga mampu membangkitkan kembali setiap makhluk hidup setelah kematian mereka.
Para mufasir seringkali menafsirkan bahwa perumpamaan ini memiliki dua tingkatan makna. Pertama, makna literal yang terkait dengan siklus alam yang kita saksikan secara empiris. Kedua, makna ukhrawi, yaitu sebagai persiapan mental bagi kaum mukminin bahwa hari kiamat dan kebangkitan (ba’ats) adalah sebuah keniscayaan, sama nyatanya dengan datangnya musim semi setelah musim paceklik.
Puncak dari ayat ini terletak pada penutupannya: "agar kamu (mau) berpikir" (لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ). Frasa ini menunjukkan bahwa keimanan sejati bukan hanya soal kepatuhan buta, melainkan hasil dari perenungan mendalam (tafakkur) terhadap ayat-ayat Allah, baik yang termaktub dalam wahyu (Al-Qur'an) maupun yang terbentang di cakrawala alam (ayat kauniyah).
Ayat ini menantang akal sehat manusia. Jika kita mudah menerima kenyataan bahwa biji yang mati di dalam tanah dapat tumbuh menjadi pohon besar setelah disiram, mengapa kita ragu dengan kemampuan Allah untuk mengumpulkan kembali tulang belulang manusia yang telah hancur untuk diadili? Pemahaman terhadap siklus alam semesta ini seharusnya memperkuat keyakinan tauhid dan hari akhir. Oleh karena itu, Al-Ma'idah ayat 98 berfungsi sebagai jembatan kognitif, mendorong umat Islam untuk menggunakan anugerah akal guna memahami kuasa Ilahi yang tersembunyi di balik fenomena sehari-hari. Ini adalah ajakan untuk menjadi pribadi yang reflektif, bukan sekadar penerima informasi pasif.