Surah Bani Israil, yang juga dikenal sebagai Al-Isra, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat pertamanya merupakan pembuka yang agung dan penuh makna, merujuk pada peristiwa mukjizat Isra Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat ini mengawali pembahasan tentang keagungan Allah SWT serta beberapa peristiwa penting dalam sejarah kenabian.
Ayat pertama Surah Al-Isra (Bani Israil) adalah sebuah pengakuan ketuhanan yang dimulai dengan pujian tertinggi: "Subhana" (Maha Suci). Kata ini menekankan kesempurnaan Allah SWT, menjauhkan-Nya dari segala kekurangan atau keraguan, terutama dalam menghadapi peristiwa luar biasa yang akan diuraikan.
Frasa "Aśrā bi-‘abdihi lailam" merujuk pada perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Perjalanan ini terbagi menjadi dua bagian utama:
Allah SWT tidak melakukan perjalanan ini tanpa tujuan. Tujuannya sangat jelas, yaitu "li-nuriya-hu min āyātinā" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami). Tanda-tanda kebesaran ini mencakup pemandangan spiritual yang tidak dapat diakses oleh indra manusia biasa. Perjalanan ini bertujuan untuk menguatkan keyakinan Nabi Muhammad SAW dan memberikan bukti nyata tentang kekuasaan dan kebesaran pencipta alam semesta.
Ayat ini secara khusus menyebutkan bahwa Masjidil Aqsa adalah tempat yang "telah Kami berkahi sekelilingnya". Keberkahan ini meliputi berbagai aspek: keberkahan spiritual, banyaknya para Nabi yang pernah berdiam di sana (seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa), serta sumber daya alam yang melimpah di wilayah Syam (Palestina).
Penutup ayat, "Innahū Huwas-Samī‘ul-Baṣīr" (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat), adalah penegasan ilahi. Setelah menggambarkan peristiwa yang hanya diketahui oleh Nabi dan Allah, penutup ini mengingatkan bahwa Allah mengetahui setiap detail perjalanan, setiap bisikan hati Nabi, dan setiap reaksi manusia terhadap berita mukjizat ini. Dia mendengar doa dan melihat setiap kejadian secara sempurna.
Secara keseluruhan, Surah Bani Israil ayat 1 adalah wahyu yang monumental, merangkum legitimasi kenabian, keagungan kosmos, dan pengawasan ilahi yang konstan terhadap setiap hamba-Nya.
Ayat ini memiliki implikasi mendalam bagi umat Islam: