Al-Qur'anul Karim adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, dan setiap ayat di dalamnya menyimpan hikmah dan pelajaran berharga. Salah satu ayat yang sering menjadi fokus perenungan, khususnya bagi mereka yang mencari jalan kebenaran dan menghindari kesesatan, adalah **Surat Al-Isra ayat 10**.
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ
"Dan adapun orang yang diserahkan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, dia berkata: 'Aduhai kiranya (dahulu) aku tidak diberikan kitabku (ini)'"
Ayat 10 dari Surah Al-Isra ini merupakan bagian dari rangkaian ayat (ayat 9 dan 10) yang berbicara mengenai nasib manusia pada hari kiamat, khususnya dalam konteks penerimaan catatan amal perbuatannya. Ayat ini secara spesifik menggambarkan kondisi psikologis dan penyesalan mendalam dari orang-orang yang dicatat amal buruknya dan diberikan kitabnya dari sebelah kiri.
Dalam tradisi Islam, menerima kitab amal dari sebelah kiri adalah simbol kehinaan dan pertanda bahwa orang tersebut akan menghadapi perhitungan yang berat karena dosa-dosanya yang mendominasi. Kontras dengan penerima kitab dari kanan yang penuh kegembiraan, penerima dari kiri diselimuti rasa putus asa.
Penerimaan kitab amal dari sebelah kiri bukanlah sekadar masalah posisi fisik, melainkan sebuah metafora mendalam tentang keadaan spiritual seseorang selama hidup di dunia. Ini menyiratkan bahwa di akhirat, segala tindakan, niat tersembunyi, dan penolakan terhadap petunjuk Ilahi akan disajikan secara transparan. Bagi mereka yang semasa hidupnya menolak kebenaran, ingkar terhadap perintah Allah, atau melakukan kezaliman, pembukaan catatan amal mereka akan menjadi kejutan yang mengerikan.
Ungkapan "Aduhai kiranya aku tidak diberikan kitabku (ini)" menunjukkan tingkat penyesalan yang ekstrem. Ini adalah penyesalan yang datang terlambat, ketika segala upaya untuk mengubah takdir telah tertutup. Mereka berharap seandainya saja mereka tidak pernah dilahirkan, atau seandainya saja catatan perbuatan mereka tidak pernah dibukukan, asalkan mereka tidak harus menghadapi konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan.
Surat Al-Isra ayat 10 berfungsi sebagai alarm keras bagi setiap Muslim. Pesan utamanya adalah bahwa kehidupan di dunia ini adalah ladang kesempatan. Setiap detik yang kita jalani adalah bahan baku untuk catatan amal yang akan menentukan nasib akhir kita. Ayat ini menegaskan prinsip keadilan ilahi: setiap perbuatan, baik atau buruk, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Ayat ini mendorong kita untuk senantiasa waspada terhadap perbuatan sehari-hari. Jangan sampai kita menunda-nunda taubat atau menyepelekan dosa kecil, karena akumulasi dosa kecil dapat berujung pada catatan buruk yang menyebabkan kita menyesal di akhirat. Sebaliknya, ayat ini juga memotivasi untuk berjuang mendapatkan catatan amal yang diserahkan dari sebelah kanan, yang menjanjikan kebahagiaan abadi.
Ayat 10 ini tidak berdiri sendiri. Ia berpasangan dengan ayat sebelumnya (Al-Isra: 9), yang menjanjikan rahmat bagi orang yang menunaikan shalat tepat waktu dan menjauhi perbuatan keji. Keduanya membentuk dikotomi akhirat yang jelas: jalan yang diterangi oleh ketaatan akan berujung pada kebahagiaan, sementara jalan yang dipilih oleh kemaksiatan akan berujung pada penyesalan yang tak terhingga sebagaimana digambarkan dalam ayat ini.
Oleh karena itu, mempelajari dan merenungkan makna dari surat 17 ayat 10 Al-Qur'an adalah cara kita untuk "memegang" kompas spiritual kita. Kita diingatkan bahwa masa kini adalah satu-satunya waktu kita untuk mempersiapkan diri. Penyesalan di hadapan Allah di hari perhitungan adalah penyesalan terburuk yang harus kita hindari dengan cara memperbaiki amal dan memperkuat iman kita saat ini juga.