Berapa Rakaat Sholat Dhuha? Panduan Lengkap dan Dalil Fiqih

Simbol Waktu Dhuha dan Cahaya Pagi

Sholat Dhuha adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat ditekankan (Sunnah Mu'akkadah) dalam Islam, berfungsi sebagai ungkapan syukur atas nikmat kesehatan dan rezeki yang diberikan Allah SWT di permulaan hari. Namun, ketika membahas implementasinya, pertanyaan paling mendasar yang sering muncul adalah: Berapa rakaat sholat Dhuha yang benar dan paling utama untuk dilaksanakan?

Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah tunggal, melainkan fleksibel dan memiliki rentang yang luas, didukung oleh beragam riwayat hadis dari Rasulullah SAW. Fleksibilitas ini adalah rahmat dalam syariat, yang memungkinkan setiap Muslim melaksanakannya sesuai dengan kemampuan dan waktu luang yang dimiliki.

Artikel ini akan mengupas tuntas seluruh spektrum jumlah rakaat Sholat Dhuha, mulai dari batas minimal, batas optimal, hingga batas maksimal yang pernah dipraktikkan atau diriwayatkan. Kami akan membedah dalil-dalil fiqih dari berbagai mazhab untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, sehingga ibadah Dhuha kita menjadi lebih sempurna dan berdasarkan ilmu yang sahih.

Definisi dan Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Secara bahasa, Dhuha berarti permulaan siang atau waktu pagi yang semakin meninggi. Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dilakukan pada waktu tersebut. Batas waktu pelaksanaannya sangat spesifik, dimulai ketika matahari telah naik kurang lebih setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbitnya matahari) hingga menjelang waktu zawal (tergelincirnya matahari, menandai masuknya waktu Sholat Zhuhur).

Waktu yang paling utama (afdhal) untuk melaksanakan Sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah semakin panas, yaitu menjelang akhir waktu Dhuha. Ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW:

"Sholat Awwabin (orang-orang yang bertaubat) adalah ketika anak unta merasa kepanasan." (HR. Muslim)

Konteks hadis ini merujuk pada puncak panasnya pagi hari, yang secara praktis terjadi sekitar pukul 9.30 hingga 11.00 pagi, tergantung lokasi geografis. Ini menunjukkan pentingnya memilih waktu di mana kebanyakan orang sedang sibuk dengan urusan dunia, sehingga ibadah yang dilakukan pada saat itu memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi.

Rentang Jumlah Rakaat Sholat Dhuha: Dari Minimal hingga Maksimal

Pembahasan tentang jumlah rakaat Dhuha sangat bergantung pada riwayat hadis dan interpretasi ulama. Terdapat lima pandangan utama yang diakui dalam fiqih Islam, masing-masing memiliki dasar dalil yang kuat.

1. Batas Minimal: Dua Rakaat (Sunnah Mu’akkadah)

Dua rakaat adalah jumlah minimal yang sah untuk melaksanakan Sholat Dhuha. Ini adalah batas yang disepakati oleh mayoritas ulama dan merupakan cara termudah bagi seorang Muslim untuk mendapatkan fadhilah Dhuha. Dalil utama yang mendukung dua rakaat ini sangat jelas dan sering dipraktikkan oleh para sahabat.

Dalil yang paling sering dijadikan sandaran adalah hadis dari Abu Hurairah RA, yang berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاثٍ: صِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
"Kekasihku (Nabi Muhammad SAW) berwasiat kepadaku tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, sholat Dhuha dua rakaat, dan sholat witir sebelum tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)

Wasiat ini menegaskan bahwa dua rakaat sudah cukup untuk memenuhi tuntutan ibadah Dhuha. Dalam konteks fiqih, dua rakaat ini sering kali disamakan dengan pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia.

Penjelasan Fiqih Dua Rakaat:

Setiap manusia memiliki 360 persendian, dan setiap sendi wajib disedekahi setiap harinya. Dua rakaat Sholat Dhuha berfungsi sebagai sedekah yang mencukupi seluruh kewajiban ini. Hadis dari Aisyah RA juga menguatkan hal ini, di mana Rasulullah SAW bersabda: "Setiap sendi pada salah seorang dari kamu terdapat kewajiban sedekah setiap harinya..." dan kemudian menjelaskan bahwa dua rakaat Dhuha mencukupi sedekah tersebut.

Oleh karena itu, bagi Muslim yang sibuk atau memiliki keterbatasan waktu, melaksanakan dua rakaat Dhuha adalah amal minimal yang sangat dianjurkan dan pasti mendapatkan pahala besar, serta menunaikan hak syukurnya atas kesehatan tubuh.

2. Jumlah Empat Rakaat: Keutamaan yang Lebih Tinggi

Meningkatkan jumlah rakaat menjadi empat adalah tingkatan berikutnya dalam keutamaan. Banyak ulama, terutama dari mazhab Syafi'i dan Hanbali, memandang empat rakaat sebagai jumlah yang sangat dianjurkan karena riwayat menunjukkan bahwa Nabi SAW terkadang melakukan empat rakaat.

Dalil yang populer mendukung empat rakaat adalah hadis dari Aisyah RA:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ
"Rasulullah SAW biasa sholat Dhuha empat rakaat, dan beliau menambahkannya sesuai kehendak Allah." (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan Empat Rakaat: Hadis Qudsi

Selain hadis di atas, terdapat Hadis Qudsi yang secara khusus mengaitkan empat rakaat Dhuha dengan kecukupan rezeki dan perlindungan sepanjang hari:

يَا ابْنَ آدَمَ، صَلِّ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
"Wahai anak Adam, sholatlah untuk-Ku empat rakaat di permulaan siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhirnya (sepanjang hari)." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Berdasarkan Hadis Qudsi ini, para ulama menyimpulkan bahwa empat rakaat Dhuha membawa janji pemenuhan kebutuhan dan perlindungan dari kesulitan duniawi hingga malam tiba. Ini menjadikan empat rakaat sebagai pilihan populer bagi mereka yang mencari keberkahan rezeki dan kelancaran urusan sehari-hari.

3. Jumlah Enam Rakaat: Rakaat Penghapus Dosa

Enam rakaat adalah tingkatan yang membawa fadhilah khusus, terutama yang berkaitan dengan pengampunan dosa. Ini sering kali dikaitkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, meskipun hadis ini memiliki tingkat keabsahan yang diperdebatkan oleh beberapa ulama hadis, namun tetap dijadikan dalil oleh banyak fuqaha (ahli fiqih) untuk anjuran ibadah.

Umat Islam yang melaksanakan enam rakaat Dhuha dengan tata cara yang benar (tiga kali salam, dua-dua rakaat) dipandang telah menunaikan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah, khususnya dalam rangka memohon ampunan atas kelalaian yang mungkin terjadi sejak Shubuh.

Dalam pandangan mazhab tertentu, enam rakaat adalah titik tengah antara minimalis dan maksimalis, menunjukkan kesungguhan seorang hamba tanpa harus mencapai batas tertinggi yang mungkin memberatkan secara rutin.

4. Jumlah Delapan Rakaat: Sunnah Penaklukan Makkah

Delapan rakaat adalah jumlah yang paling kuat dalilnya dalam konteks pelaksanaan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, terutama yang berkaitan dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah).

Hadis dari Ummu Hani' binti Abi Thalib RA, sepupu Nabi SAW, menjadi rujukan utama:

"Rasulullah SAW masuk ke rumah Ummu Hani' pada hari Penaklukan Makkah, kemudian mandi, dan sholat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat beliau sholat sesingkat itu, namun beliau menyempurnakan ruku' dan sujudnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Analisis Fiqih Delapan Rakaat:

Terdapat perbedaan pendapat apakah sholat delapan rakaat yang dilakukan Nabi SAW pada hari Fathu Makkah adalah Sholat Dhuha murni atau Sholat Syukur atas kemenangan (Sholat Fath). Mayoritas ulama, termasuk Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad, berpendapat bahwa itu adalah Sholat Dhuha, sebab waktunya memang tepat pada waktu Dhuha.

Oleh karena itu, delapan rakaat dianggap sebagai jumlah rakaat tertinggi yang paling otentik dan paling pasti dicontohkan oleh Nabi SAW sendiri, dan menjadi batas tertinggi yang disepakati oleh sebagian besar fuqaha. Melaksanakannya menandakan puncak dari keseriusan dalam menjalankan ibadah sunnah Dhuha.

5. Batas Maksimal: Dua Belas Rakaat (Riwayat yang Diperdebatkan)

Beberapa riwayat, meskipun umumnya diklasifikasikan sebagai *dha’if* (lemah) atau *munkar* (mungkar) oleh para ahli hadis, menyebutkan keutamaan melaksanakan Sholat Dhuha hingga dua belas rakaat.

Salah satu riwayat yang sering dikutip (meski lemah) menyatakan bahwa barangsiapa yang sholat Dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya istana di Surga. Meskipun fadhilah ini sangat besar, para ulama fiqih umumnya menyarankan agar Muslim tetap berpegang pada jumlah yang dalilnya kuat (2 hingga 8 rakaat) dan menggunakan 12 rakaat sebagai batas opsional tertinggi jika benar-benar ingin memperbanyak ibadah, selama sholatnya dilakukan dua rakaat sekali salam.

Kesimpulan Spektrum Rakaat:

  1. Minimal (Sah): 2 Rakaat (Sedekah Sendi)
  2. Dianjurkan (Cukup): 4 Rakaat (Kecukupan Rezeki)
  3. Paling Utama (Otentik): 8 Rakaat (Mengikuti praktik Fathu Makkah)
  4. Maksimal (Opsional): 12 Rakaat (Hanya didukung oleh riwayat lemah, perlu hati-hati).
Simbol Tangan Berdoa

Tata Cara Pelaksanaan dan Kaifiyah (Metode)

Terlepas dari jumlah rakaat yang dipilih (2, 4, 6, atau 8), kaifiyah atau tata cara pelaksanaan Sholat Dhuha adalah sama. Sholat Dhuha harus dilaksanakan secara individual (munfarid) dan tidak disyariatkan berjamaah. Ini adalah ciri khas sholat sunnah non-rawatib.

Niat (Niyyah)

Niat harus dibacakan di dalam hati saat memulai takbiratul ihram. Meskipun ada variasi niat dalam bahasa Arab, intinya adalah niat melaksanakan sholat sunnah Dhuha:

أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku niat sholat sunnah Dhuha dua rakaat, karena Allah Ta'ala.” (Jika memilih 4, 6, 8 rakaat, maka niat ini diulang setiap dua rakaat.)

Metode Salam: Dua Rakaat Sekali Salam

Seluruh ulama sepakat bahwa Sholat Dhuha, bahkan jika dilakukan 8 rakaat, harus dilaksanakan dengan metode mutsanna-mutsanna (dua rakaat salam, dua rakaat salam). Tidak diperbolehkan melaksanakan Dhuha dengan 4 rakaat sekali salam, seperti Sholat Ashar atau Zhuhur.

Bacaan Surat yang Dianjurkan

Walaupun tidak ada ketentuan wajib mengenai surat yang harus dibaca, para ulama menyarankan pembacaan surat-surat tertentu karena fadhilahnya, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab fiqih:

  1. Rakaat Pertama: Dianjurkan membaca Surah Asy-Syams (Surat ke-91).
  2. Rakaat Kedua: Dianjurkan membaca Surah Adh-Dhuha (Surat ke-93).

Pilihan lainnya yang sering dianjurkan adalah membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua, seperti sholat sunnah lainnya. Namun, inti dari ibadah ini adalah kekhusyukan, bukan semata-mata menghafal surat tertentu.

Doa Setelah Sholat Dhuha

Setelah selesai salam dan berzikir, dianjurkan untuk membaca doa khusus Dhuha yang masyhur. Meskipun riwayat doa ini memiliki perbedaan status hadis di kalangan ulama, namun isi doanya sangat mulia, memohon rezeki dan pertolongan dari Allah:

اللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
"Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, keelokan adalah keelokan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku ada di langit, turunkanlah. Jika ada di bumi, keluarkanlah. Jika sukar, mudahkanlah. Jika haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah, dengan kebenaran Dhuha-Mu, keindahan-Mu, keelokan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu. Berikanlah padaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih."

Fadhilah dan Keutamaan Sholat Dhuha yang Luar Biasa

Fadhilah Sholat Dhuha adalah motivasi utama bagi umat Muslim untuk rutin melaksanakannya, bahkan melebihi sunnah-sunnah lainnya. Keutamaan ini mencakup aspek spiritual, duniawi, dan persiapan menuju akhirat.

1. Pahala Setara Haji dan Umrah Sempurna (Jika Dikerjakan Bersyarat)

Salah satu fadhilah tertinggi Dhuha adalah janji pahala yang setara dengan haji dan umrah yang sempurna. Fadhilah ini didapatkan dengan syarat tertentu, yaitu melaksanakan sholat Shubuh berjamaah, dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit, kemudian melaksanakan Sholat Dhuha (minimal dua rakaat).

"Barangsiapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu sholat dua rakaat (Dhuha), maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi)

Fadhilah ini sangat besar nilainya, menekankan pentingnya sinergi antara ibadah fardhu (Subuh) dan ibadah sunnah (Dhuha) di permulaan hari. Ini menunjukkan bahwa Dhuha bukan sekadar sholat pengisi waktu luang, melainkan puncak dari amalan pagi hari.

2. Pengganti Sedekah Seluruh Persendian Tubuh

Seperti yang telah dijelaskan, dua rakaat Dhuha telah menggugurkan kewajiban sedekah atas 360 sendi dalam tubuh. Ini berarti sholat Dhuha adalah cara termudah dan paling komprehensif untuk berterima kasih atas anugerah tubuh yang sehat dan berfungsi.

3. Dijamin Kecukupan Rezeki (Kafayatan)

Hadis Qudsi mengenai empat rakaat ("Aku akan mencukupimu di akhirnya") adalah janji langsung dari Allah SWT. Kecukupan di sini tidak hanya berarti kekayaan materi, tetapi juga ketenangan hati, kemudahan urusan, dan keberkahan dalam waktu dan harta. Seorang hamba yang memulai hari dengan Dhuha menunjukkan ketergantungan penuh kepada Allah, dan Allah pun menjamin kebutuhan hidupnya.

Beberapa ulama menafsirkan *kafayatan* sebagai perlindungan dari musibah dan kesulitan finansial. Jika seseorang rutin melaksanakan empat rakaat Dhuha, ia akan mendapatkan perlindungan dan jaminan kemudahan yang tak terduga, yang jauh lebih berharga daripada harta yang melimpah.

4. Pengampunan Dosa dan Kembali kepada Allah (Awwabin)

Sholat Dhuha disebut juga sebagai Sholat Awwabin, yaitu sholatnya orang-orang yang kembali dan bertaubat kepada Allah. Melaksanakan ibadah ini di tengah kesibukan pagi adalah tanda taubat dan penyesalan atas dosa-dosa kecil yang mungkin dilakukan, khususnya dosa yang terjadi antara fajar hingga waktu Dhuha.

"Barangsiapa yang menjaga sholat Dhuha, dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Konsep pengampunan dosa ini adalah fadhilah spiritual yang paling dicari. Ini memberikan motivasi besar untuk memulai hari dengan hati yang bersih, siap menghadapi tantangan dunia tanpa membawa beban kesalahan masa lalu.

5. Istana di Surga bagi Pelaksana 12 Rakaat

Meskipun dalil 12 rakaat dianggap lemah secara sanad, fadhilahnya tetap tinggi bagi mereka yang ingin memaksimalkan ibadah. Keyakinan bahwa Allah akan membangunkan istana bagi hamba-Nya yang rutin melakukan 12 rakaat Dhuha menjadi dorongan untuk memperbanyak amal sholeh, meskipun ulama menyarankan untuk fokus pada kualitas, bukan hanya kuantitas.

Perbandingan Pandangan Empat Mazhab Mengenai Jumlah Rakaat

Pembahasan mengenai jumlah rakaat Dhuha menjadi lebih kaya ketika kita meninjau pandangan dari empat mazhab fiqih utama (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali). Meskipun semua sepakat bahwa Dhuha adalah sunnah, terdapat sedikit perbedaan mengenai jumlah yang dianggap paling utama.

1. Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi cenderung memandang Sholat Dhuha sebagai sunnah yang tidak terlalu ditekankan (Sunnah Ghairu Mu'akkadah) dibandingkan dengan sholat-sholat rawatib lainnya, meskipun mereka mengakui keutamaannya. Pandangan mereka sering kali melihat bahwa Nabi SAW tidak selalu rutin melaksanakannya, sehingga statusnya sedikit di bawah sholat sunnah yang sangat ditekankan (seperti rawatib Fajr).

2. Mazhab Maliki

Mazhab Maliki sangat menekankan pentingnya Dhuha. Imam Malik menganggap Dhuha sebagai Sunnah Mu’akkadah yang sangat penting. Mereka berhati-hati terhadap riwayat yang menyebutkan angka terlalu tinggi, khawatir ibadah tersebut disalahpahami sebagai wajib.

3. Mazhab Syafi'i

Mazhab Syafi'i (yang dominan di Indonesia) secara tegas menggolongkan Sholat Dhuha sebagai Sunnah Mu’akkadah. Pandangan mereka sangat fleksibel dan mengakui seluruh rentang jumlah rakaat yang diriwayatkan.

Para ulama Syafi'iyyah berpendapat, semakin banyak rakaat yang dikerjakan, semakin besar fadhilah yang didapatkan, asalkan dilakukan dengan konsisten dan memenuhi syarat *mutsanna-mutsanna* (dua rakaat salam).

4. Mazhab Hanbali

Mazhab Hanbali juga menempatkan Dhuha sebagai Sunnah Mu’akkadah yang penting. Mereka sangat kuat berpegang pada riwayat yang shahih, terutama riwayat Fathu Makkah.

Ringkasan Fiqih: Fleksibilitas ini adalah kunci. Seorang Muslim tidak perlu merasa terbebani untuk selalu melaksanakan 8 rakaat. Rutin 2 atau 4 rakaat setiap hari jauh lebih baik daripada melaksanakan 8 rakaat sekali sebulan.

Pertanyaan Umum dan Isu Kontemporer Seputar Dhuha

Dalam praktik sehari-hari, muncul beberapa pertanyaan yang seringkali membingungkan umat Islam mengenai pelaksanaan Dhuha. Berikut adalah jawaban berdasarkan kaidah fiqih:

1. Apakah Sholat Dhuha Boleh Diqadha (Diganti) jika Terlewat?

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang terikat waktu. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sholat sunnah yang terikat waktu (seperti Dhuha atau rawatib) tidak diqadha jika waktunya telah berlalu, kecuali rawatib Subuh yang sangat ditekankan.

Waktu Dhuha berakhir tepat saat masuk waktu Zhuhur (zawal). Jika seseorang terbangun setelah waktu Zhuhur, Sholat Dhuha tidak lagi disyariatkan untuk diqadha. Sebaliknya, yang disyariatkan adalah memperbanyak sholat sunnah mutlak atau qadha sholat fardhu yang terlewat.

2. Apakah Sholat Dhuha Boleh Berjamaah?

Hukum asal Sholat Dhuha adalah dikerjakan secara individual (munfarid). Rasulullah SAW tidak pernah secara rutin melaksanakannya di masjid secara berjamaah. Melakukannya secara berjamaah secara rutin dianggap makruh (dibenci) oleh beberapa mazhab, karena dikhawatirkan menyerupai sholat wajib.

Namun, jika dilakukan secara insidental, misalnya beberapa orang kebetulan sholat Dhuha bersamaan tanpa ada niat rutin membentuk jamaah, atau jika seseorang menjadi makmum kepada orang lain yang sedang sholat Dhuha, maka hal itu diperbolehkan, seperti yang dilakukan oleh Anas bin Malik ketika ia dan seorang budak sholat Dhuha bersama.

3. Perbedaan Antara Sholat Dhuha, Isyraq, dan Syuruq

Sering terjadi kerancuan antara istilah Isyraq, Syuruq, dan Dhuha. Secara fiqih, Syuruq adalah waktu terbitnya matahari. Sholat Syuruq adalah nama lain dari Sholat Dhuha yang dilaksanakan di awal waktu Dhuha, yaitu segera setelah waktu Syuruq berakhir dan matahari meninggi (sekitar 15-20 menit setelah terbit).

Sholat Isyraq secara umum merujuk pada dua rakaat Sholat Dhuha yang dilaksanakan setelah berdiam diri berzikir pasca-Subuh (untuk mendapatkan fadhilah haji/umrah). Jadi, Isyraq adalah Dhuha, tetapi dibedakan berdasarkan waktu pelaksanaannya di fase paling awal waktu Dhuha.

4. Konsistensi Versus Jumlah Rakaat

Penting bagi seorang Muslim untuk memahami bahwa konsistensi (istiqamah) lebih dicintai oleh Allah daripada kuantitas yang berlebihan namun tidak berkelanjutan. Jika seseorang mampu konsisten dengan 4 rakaat setiap hari, itu jauh lebih utama daripada mencoba 8 rakaat lalu berhenti total karena merasa berat.

Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling berkelanjutan (rutin), meskipun sedikit." (HR. Muslim)

Fleksibilitas jumlah rakaat Sholat Dhuha adalah solusi syar’i untuk mencapai konsistensi. Pada hari yang lengang, seseorang bisa melaksanakan 8 rakaat. Pada hari yang sibuk, cukup 2 rakaat. Yang terpenting, jangan sampai terlewatkan.

Kesimpulan: Memilih Jumlah Rakaat yang Tepat

Setelah meninjau seluruh dalil dan pandangan mazhab, dapat disimpulkan bahwa tidak ada jumlah rakaat tunggal yang bersifat wajib dalam Sholat Dhuha. Keindahan syariat Islam terletak pada keluasan (rahmat) yang diberikan kepada hamba-Nya untuk memilih tingkat ibadah sesuai dengan kemampuan dan kondisi hidup.

Rekomendasi praktis dalam menentukan jumlah rakaat:

  1. Pilihan Minimalis (Harian Sibuk): 2 rakaat. Ini sudah menunaikan kewajiban sedekah seluruh sendi dan mengikuti wasiat Nabi kepada Abu Hurairah.
  2. Pilihan Optimal (Pencari Rezeki): 4 rakaat. Ini adalah janji kecukupan rezeki dari Allah (Hadis Qudsi) dan merupakan jumlah yang banyak dilakukan oleh Rasulullah.
  3. Pilihan Terbaik (Mengikuti Sunnah Penuh): 8 rakaat. Ini adalah jumlah tertinggi yang dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW pada momen penting (Fathu Makkah) dan disepakati oleh mayoritas ulama sebagai batas tertinggi yang shahih.

Inti dari Sholat Dhuha bukanlah semata-mata menghitung jumlah rakaat, melainkan memanfaatkan waktu emas di pagi hari yang penuh berkah untuk menghubungkan diri dengan Sang Pencipta, sebelum kesibukan duniawi mengambil alih. Pilihlah jumlah rakaat yang mampu Anda istiqamahkan, dan laksanakanlah dengan khusyuk serta penuh penghayatan.

Dengan demikian, Sholat Dhuha akan menjadi sumber kedamaian, keberkahan, dan jaminan kecukupan rezeki bagi setiap Muslim yang menjalankannya.

🏠 Homepage