Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan hukum, perjanjian, dan sejarah umat-umat terdahulu. Ayat ke-13 dalam surah ini, Al-Maidah ayat 13, membawa pesan yang sangat kuat mengenai pentingnya mengingat nikmat Ilahi, terutama dalam menghadapi ancaman dan permusuhan. Ayat ini seringkali dikaitkan dengan peristiwa spesifik dalam sejarah Islam, meskipun pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan abadi bagi setiap mukmin.
Panggilan "Yā ayyuhal-ladhīna āmanū" (Hai orang-orang yang beriman) adalah panggilan kehormatan yang langsung menyentuh hati komunitas Muslim, mengingatkan mereka akan status spiritual mereka. Pesan pertama yang disampaikan adalah perintah untuk "udzkurū ni’matallāhi ‘alaikum"—ingatlah nikmat Allah atas kalian. Dalam konteks ayat ini, nikmat terbesar yang harus diingat adalah penyelamatan dari bahaya besar.
Ayat ini menyoroti momen genting ketika "suatu kaum bermaksud hendak menumpahkan tangan mereka kepadamu." Meskipun tafsir klasik menyebutkan bahwa ini merujuk pada upaya kaum Yahudi Bani Qainuqa' atau peristiwa lain yang mengancam keselamatan kaum Muslimin, esensinya adalah bahwa ada pihak luar yang berniat jahat dan destruktif terhadap komunitas beriman. Ancaman ini nyata dan terukur, bukan sekadar khayalan.
Namun, Allah subhanahu wa ta'ala menunjukkan kuasa-Nya: "falakaf aydiyahum 'ankum"—lalu Allah menahan tangan mereka daripadamu. Ini menunjukkan intervensi ilahi yang nyata. Pertolongan ini bisa datang dalam berbagai bentuk: melalui kegagalan rencana musuh, timbulnya rasa takut pada hati mereka, atau melalui mekanisme takdir yang tak terduga. Bagi orang beriman, ini adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada jumlah senjata atau strategi, melainkan pada perlindungan dari Sang Pencipta.
Setelah mengingatkan tentang pertolongan masa lalu, ayat ini memberikan dua pedoman praktis untuk masa depan: takwa dan tawakkal.
Pertama, Wattaqullāh (Dan bertakwalah kepada Allah). Takwa adalah pondasi spiritual yang memungkinkan seorang mukmin untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Allah. Takwa berarti melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sehingga menjadikan diri layak menerima bimbingan ilahi, terutama ketika menghadapi kesulitan. Takwa adalah perisai internal.
Kedua, Wa 'alallāhi falyatawakkalil-mu'minūn (Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman itu bertawakal). Tawakkal bukanlah pasifisme atau penyerahan diri tanpa usaha. Tawakkal sejati adalah mengoptimalkan segala potensi dan usaha yang diperintahkan (seperti persiapan militer, diplomasi, atau pencegahan), kemudian meyakini dan menyerahkan hasil akhirnya sepenuhnya kepada kehendak dan kekuasaan Allah. Setelah usaha maksimal dilakukan, seorang mukmin menempatkan hatinya pada ketenangan karena ia tahu bahwa Dialah yang mengendalikan segala urusan.
Al-Maidah ayat 13 memiliki resonansi kuat dalam kehidupan modern. Dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, atau bahkan ancaman keamanan, umat Islam diajak untuk meniru pola pikir yang diajarkan ayat ini. Kita harus selalu merefleksikan nikmat yang telah diberikan—mulai dari nikmat iman hingga kemampuan berpikir dan bergerak—dan menyadari bahwa banyak masalah yang tampak besar dapat diatasi oleh kekuatan yang lebih besar.
Peringatan ini mengajarkan bahwa ketakutan terhadap musuh harus diimbangi dengan kepatuhan kepada Allah (takwa), dan bahwa kerja keras serta perencanaan harus selalu diakhiri dengan penyerahan diri penuh (tawakkal). Mengingat sejarah pertolongan Allah di masa lalu akan memperkuat keyakinan kita bahwa Dia akan selalu hadir bersama hamba-hamba-Nya yang teguh memegang prinsip ketakwaan dan penyerahan diri sejati.