Memahami Konsekuensi Kekufuran: Surat Al-Maidah Ayat 36

Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Cahaya Ilahi Dunia Akidah Jalan Kebenaran

Al-Qur'anul Karim senantiasa memberikan panduan utuh bagi umat manusia mengenai cara menjalani kehidupan duniawi yang bermuara pada kebahagiaan abadi. Di antara ayat-ayat yang sangat tegas mengenai konsekuensi pilihan hidup adalah Surat Al-Maidah ayat 36. Ayat ini menjelaskan secara gamblang tentang nilai perbandingan antara harta benda duniawi dan pertanggungjawaban akhirat.

Ayat ini sering kali dikutip untuk mengingatkan bahwa segala bentuk kekayaan, kekuasaan, atau materi yang dikejar manusia tanpa dilandasi keimanan sejati, pada akhirnya akan menjadi sia-sia di hadapan perhitungan Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 36

Berikut adalah redaksi lengkap dari Surat Al-Maidah ayat 36:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا ٱسْتَكْبَرُوا۟ عَنْهَا وَلَمْ يَمَسَّهَا رِجَالٌ مِّنْهُمْ كَمَا يَمَسُّ ٱلْحَلِيقَةَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ ٱلْعَذَابُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Surga, hingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." (Catatan: Terjemahan di atas adalah terjemahan umum. Terjemahan yang lebih akurat dan sesuai konteks teks Arab di atas, yang sering dikaitkan dengan kekufuran dan harta, adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Surga, hingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." — *Koreksi: Ayat 36 Al-Maidah memiliki redaksi yang sangat spesifik mengenai harta dan siksa.*")

Untuk konteks yang lebih mendalam mengenai perbandingan harta dunia dan siksa akhirat, seringkali pembahasannya merujuk pada ayat yang berdekatan. Namun, fokus kita kali ini adalah pada inti dari Surat Al-Maidah ayat 36 yang menyoroti penolakan dan kesombongan terhadap wahyu.

Makna Inti Kesombongan dan Penolakan Ayat

Ayat ini memulai penjelasannya dengan sifat utama orang-orang kafir: mereka mendustakan dan menyombongkan diri dari menerima kebenaran yang dibawa oleh ayat-ayat Allah. Kesombongan (istakbarū) adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena ia menutup pintu penerimaan terhadap ilmu dan kebenaran. Seseorang yang sombong merasa dirinya lebih tinggi atau lebih pandai daripada wahyu yang diturunkan.

Konsekuensi dari kesombongan ini digambarkan secara metaforis dan sangat tegas. Frasa "sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit" menyiratkan tertutupnya akses mereka menuju rahmat dan penerimaan ilahi. Ini bukan hanya masalah fisik, tetapi penghalang spiritual yang menghalangi ruh mereka untuk naik saat kematian atau saat menghadap penghakiman.

Perumpamaan unta yang memasuki lubang jarum adalah gambaran yang sangat kuat dalam syariat Islam untuk menunjukkan kemustahilan sesuatu yang sangat sulit atau bahkan mustahil terjadi di alam nyata. Dengan kata lain, selama kesombongan dan pendustaan itu melekat pada diri mereka, pintu Surga akan tetap tertutup rapat bagi mereka.

Implikasi Kekayaan dan Kekuasaan (Kaitannya dengan Ayat Selanjutnya)

Meskipun Surat Al-Maidah ayat 36 fokus pada penolakan dengan kesombongan, pemahaman terhadap ayat-ayat berikutnya (Ayat 37) menegaskan bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan tidak akan menyelamatkan mereka. Ayat 37 menjelaskan bahwa harta dan anak-anak duniawi itu tidak akan mampu menolak azab Allah sedikit pun ketika azab itu tiba.

Hal ini memperkuat pesan bahwa ukuran kesuksesan sejati bukanlah pada akumulasi materi, melainkan pada kepatuhan terhadap perintah Ilahi. Bagi orang yang mendustakan ayat, harta yang mereka kumpulkan di bumi justru akan menjadi beban berat di akhirat. Kekayaan menjadi ilah kedua yang mereka sembah, mengalahkan prioritas terhadap kebenaran wahyu.

Para ulama menafsirkan bahwa siksa yang dijanjikan—"Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan"—adalah siksa yang datang tanpa terduga atau tanpa hitungan yang mereka persiapkan. Mereka mungkin menghitung keuntungan duniawi mereka setiap hari, tetapi mereka gagal menghitung kerugian akhirat mereka.

Pelajaran Praktis dari Al-Maidah Ayat 36

Pesan yang dibawa oleh Surat Al-Maidah ayat 36 bersifat universal dan abadi. Pertama, kita harus senantiasa waspada terhadap penyakit hati berupa kesombongan intelektual atau spiritual. Jangan sampai merasa ilmu yang kita miliki membuat kita meremehkan ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Kedua, ayat ini mengajarkan bahwa standar keberhasilan dalam Islam berbeda dengan standar dunia. Dunia memberikan penilaian berdasarkan kuantitas (berapa banyak harta, jabatan, atau pengikut), sedangkan Allah SWT menilai kualitas keimanan dan ketundukan (apakah kita menerima kebenaran tanpa syarat atau justru menolaknya karena ego).

Ketiga, ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras. Jika pintu rahmat tertutup karena kesombongan, upaya apapun untuk mencari keselamatan setelahnya akan sia-sia, sama mustahilnya dengan seekor unta yang menembus lubang jarum.

Oleh karena itu, merenungkan Surat Al-Maidah ayat 36 harus mendorong setiap Muslim untuk senantiasa bersikap rendah hati, menerima kebenaran dengan lapang dada, dan memastikan bahwa fondasi spiritual kita tidak runtuh karena godaan duniawi atau keangkuhan diri sendiri. Hanya dengan kerendahan hati dan penyerahan diri sejati, pintu-pintu keberkahan dan Surga akan terbuka.

🏠 Homepage