Surat Al-Hijr, ayat ke-96, merupakan salah satu penutup penting dalam surat yang banyak membahas tentang keesaan Allah, peringatan keras kepada pendusta, dan janji bagi orang-orang yang beriman. Ayat ini secara spesifik menyoroti salah satu prinsip fundamental dalam akidah Islam, yaitu larangan menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain.
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿٩٦﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ ﴿٩٧﴾
Latin: Walaqad na'lamu annaka yadhiqu shudruka bima yaqulun(a).
Terjemahan: Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan mereka.
(Catatan: Seringkali ayat 96 dan 97 dibahas bersama karena terkait erat dalam konteks penghiburan dan perintah).Konteks Penurunan dan Makna Inti
Ayat 96 dari Surat Al-Hijr turun dalam suasana yang penuh tekanan bagi Nabi Muhammad SAW. Pada periode Mekkah, tantangan dan penolakan dari kaum Quraisy sangat intens. Mereka melontarkan berbagai tuduhan, ejekan, dan bahkan ancaman yang membuat Rasulullah merasa sangat terbebani. Frasa "yadhiqu shudruka" (dadamu menjadi sempit) adalah ungkapan yang sangat mendalam, menunjukkan tekanan psikologis dan emosional yang dirasakan Nabi.
Allah SWT, melalui firman-Nya ini, menunjukkan empat hal krusial:
- Pengetahuan Ilahi (Na'lamu): Allah Maha Mengetahui segala yang dirasakan hamba-Nya, bahkan sebelum hamba itu menyatakannya. Ini adalah bentuk kasih sayang dan validasi atas penderitaan yang diemban Rasulullah.
- Keterbatasan Manusiawi: Meskipun Rasulullah adalah manusia pilihan, beliau tetap merasakan kesulitan dan kesedihan layaknya manusia biasa ketika menghadapi penolakan terhadap kebenaran.
Solusi Ilahiah: Penghiburan dan Instruksi
Setelah mengakui dan memvalidasi kesempitan dada Nabi, Allah segera memberikan jalan keluar dan solusi spiritual yang abadi, yang kemudian berlanjut pada ayat 97 (yang seringkali menyertai pembahasan ayat 96). Solusi tersebut adalah:
- Tasbih dan Tahmid: "Fasabbih bihamdi Rabbika..." (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu). Mengalihkan fokus dari kegaduhan duniawi kepada keagungan Sang Pencipta adalah cara tercepat untuk melapangkan dada. Pujian kepada Allah menegaskan bahwa segala kekuasaan ada di tangan-Nya, bukan di tangan para pencela.
- Sujud (Kepatuhan Mutlak): "...wa kun minas saajidin" (dan jadilah termasuk orang-orang yang bersujud). Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba. Dalam keadaan paling sulit sekalipun, bersujud mengingatkan Nabi bahwa hanya kepada Allah tempat kembali dan memohon pertolongan.
Ayat ini memberikan pelajaran universal bahwa ketika menghadapi kritik pedas, tekanan sosial, atau keraguan yang membuat hati terasa sesak, umat Islam diperintahkan untuk kembali kepada ibadah mahdhah. Dunia dan cemoohan manusia bersifat sementara, sedangkan hubungan dengan Allah bersifat kekal.
Relevansi Kontemporer
Kajian surat al hijr ayat 96 sangat relevan di era modern. Banyak individu yang menyebarkan kebenaran (dakwah, aktivisme sosial, atau sekadar menjalani keyakinan) seringkali menghadapi cyberbullying, fitnah, atau penolakan keras di media sosial maupun lingkungan nyata. Perasaan "dada sempit" akibat ujaran kebencian adalah pengalaman umum.
Oleh karena itu, pesan dalam ayat ini berfungsi sebagai penyembuh jiwa:
- Validasi Emosi: Akui bahwa merasa tertekan itu wajar. Jangan menekan perasaan tersebut tanpa menyalurkannya pada jalan yang benar.
- Aktivasi Spiritual: Segera pindahkan energi negatif itu menjadi energi positif melalui zikir, salat sunnah, atau sujud panjang.
Ketika hati telah lapang karena mengingat kebesaran Allah, pandangan terhadap masalah duniawi akan menjadi lebih jernih dan proporsional. Penghinaan akan terasa ringan karena fokus utama telah kembali pada ridha Ilahi. Inilah inti dari keteguhan spiritual yang diajarkan Al-Qur'an melalui kisah para Nabi.
Ilustrasi simbolis dari tekanan hati yang diatasi dengan dzikir.
Kesimpulannya, Surat Al-Hijr ayat 96 adalah janji penghiburan dari Allah yang disusul dengan kunci ketenangan: berpegang teguh pada pujian dan ibadah kepada-Nya.