Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan kisah, hukum, dan hikmah ilahiah. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, **Surat Al-Isra ayat 45** memegang peranan krusial dalam menjelaskan bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan realitas dunia yang tidak beriman. Ayat ini sering kali menjadi landasan bagi umat Islam untuk memahami mengapa orang-orang kafir menolak kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Konteks Penolakan Kebenaran
Ayat 45 Surat Al-Isra ini menjelaskan sebuah fenomena spiritual yang sering terjadi ketika Al-Qur'an dibacakan atau direnungkan di hadapan mereka yang hatinya telah tertutup oleh kesombongan atau penolakan keras terhadap hari akhir. Allah SWT menyatakan bahwa Dia menjadikan "hijab (penghalang) yang tertutup" antara Rasulullah SAW dan mereka yang tidak percaya pada hari kebangkitan.
Hijab di sini bukan hanya penghalang fisik, melainkan sebuah penghalang spiritual dan pemahaman. Meskipun telinga mereka mendengar lafaz ayat-ayat suci tersebut, proses pemahaman dan penerimaan kebenaran terhalang. Mereka mendengar, namun tidak mengerti; mereka melihat, namun tidak mau melihat kebenaran. Ini adalah bentuk hukuman sekaligus konsekuensi alami dari pilihan mereka sendiri untuk berpaling dari petunjuk ilahi.
Penyebab Hati Tertutup
Mengapa hati mereka menjadi tertutup? Penolakan terhadap ayat-ayat Allah seringkali berakar pada kesombongan intelektual atau keengganan untuk mengubah gaya hidup yang telah mapan, terutama jika gaya hidup tersebut bertentangan dengan ajaran tauhid dan moralitas Islam. Bagi kaum Quraisy pada masa kenabian, misalnya, menerima Al-Qur'an berarti meruntuhkan tatanan sosial, ekonomi, dan spiritual yang telah mereka bangun di sekitar penyembahan berhala.
Surat Al-Isra ayat 45 memberikan ketenangan bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Ketika dakwah terasa tidak sampai, ayat ini mengingatkan bahwa kegagalan penerimaan bukan semata-mata karena kelemahan penyampaian, melainkan karena adanya intervensi ilahi berupa penutupan hati sebagai akibat dari penolakan keras mereka sebelumnya terhadap petunjuk-petunjuk Allah. Hal ini menempatkan tanggung jawab dakwah pada penyampaian risalah, sementara hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.
Pentingnya Iman pada Hari Akhir
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan mereka yang "laa yu'minuuna bil-akhirah" (tidak beriman kepada hari akhir). Keyakinan akan adanya pertanggungjawaban di akhirat adalah salah satu fondasi terpenting dalam Islam. Ketika seseorang menafikan konsep kehidupan setelah kematian, motivasi mereka untuk hidup lurus sangat berkurang, dan mereka cenderung menolak ajaran yang menuntut pengorbanan dan pengendalian diri di dunia ini. Penolakan terhadap hari akhir adalah pintu gerbang menuju penolakan terhadap wahyu itu sendiri, karena ajaran Al-Qur'an sangat menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia dan persiapan untuk akhirat.
Implikasi untuk Dakwah Modern
Bagi umat Islam kontemporer, **Surat Al-Isra ayat 45** mengajarkan kita untuk bersikap bijaksana dalam berdakwah. Ketika kita menghadapi individu atau kelompok yang sangat resisten terhadap kebenaran Islam, kita perlu menyadari bahwa terkadang penghalang tersebut bersifat metafisik, yaitu hati yang telah terbiasa menolak.
Kita harus terus berupaya menyampaikan kebenaran dengan cara terbaik, menggunakan hikmah dan mauidzah hasanah (nasihat yang baik), namun juga harus siap menerima bahwa tidak semua orang akan menerima. Kita berdoa agar Allah SWT membuka hati mereka, karena hanya Dia yang mampu menghilangkan hijab spiritual tersebut. Ayat ini menegaskan bahwa usaha manusia terbatas, dan keberhasilan dakwah sejati bergantung pada izin dan pembukaan hati dari Sang Pencipta. Ini adalah pengingat akan batas-batas ikhtiar manusia di hadapan kehendak mutlak Allah SWT.