Fokus pada Surat Al-Isra Ayat 79 dan Maknanya

Waktu Terbaik untuk Memperoleh Kedamaian

Ilustrasi visual malam hari dan refleksi diri.

Pengantar Ayat

Al-Qur'an adalah petunjuk bagi kehidupan umat manusia, dan setiap ayatnya mengandung hikmah yang mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan umat Islam, khususnya dalam konteks ibadah dan upaya meraih ketenangan spiritual, adalah Surat Al-Isra ayat 79. Ayat ini merupakan bagian dari serangkaian perintah dan anjuran yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Ayat ini secara spesifik menekankan pentingnya melaksanakan shalat malam (Tahajjud) sebagai bentuk pengabdian puncak di mana hati cenderung lebih hening dan jiwa lebih dekat kepada Sang Pencipta. Ayat ini bukanlah sekadar perintah ritual, melainkan ajakan untuk membangun koneksi pribadi yang mendalam di saat dunia sedang terlelap.

Teks Arab Surat Al-Isra Ayat 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Transliterasi dan Artinya

Transliterasi

*Wa minal-laili fatahajjad bihi nafilatan laka 'asaa ay yab'atsaka Rabbuka maqaaman mahmuuda.*

Terjemahan dan Makna

"Dan pada sebagian dari malam, maka rukuklah kepada-Nya (shalatlah malam), sebagai suatu nafilah (tambahan bagimu). Mudah-mudahan Rabb-mu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji (Maqam Mahmudah)."

Makna dari ayat ini sangat kaya. Kata kunci utama adalah "fatahajjad bihi", yang berarti melaksanakan shalat Tahajjud. Ini adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah tidur di malam hari. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakannya sebagai ibadah tambahan (*nafilah*), bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri secara esensial.

Janji yang menyertai perintah ini sungguh luar biasa: "mudah-mudahan Rabb-mu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji (Maqam Mahmudah)". Maqam Mahmudah adalah kedudukan mulia yang dijanjikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu kedudukan syafaat kubra (pertolongan terbesar) pada Hari Kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa ketekunan dalam ibadah sunnah, khususnya di malam hari saat keheningan dominan, membawa ganjaran spiritual dan kehormatan tertinggi di sisi Allah.

Hikmah Mendalam dari Shalat Malam (Tahajjud)

Mengapa shalat malam begitu ditekankan dalam Surat Al-Isra ayat 79? Ada beberapa alasan mendasar yang relevan bagi setiap Muslim hingga kini:

  1. Ketenangan Jiwa: Malam hari adalah waktu ketika kesibukan dunia mereda. Pikiran menjadi lebih jernih, emosi lebih stabil, dan godaan duniawi berkurang. Dalam keheningan inilah, hati paling siap menerima petunjuk dan merasakan kehadiran Ilahi.
  2. Kualitas Ibadah yang Murni: Shalat Tahajjud seringkali dilakukan dalam keadaan mengalahkan rasa kantuk. Tindakan mengalahkan hawa nafsu demi ketaatan menunjukkan ketulusan yang tinggi di hadapan Allah. Ini adalah bentuk jihadun nafs (perjuangan melawan diri sendiri).
  3. Mencari Kedekatan Spiritual: Dalam tafsir disebutkan bahwa ketika seseorang melakukan ibadah sunnah melebihi batas minimal kewajiban, ia menempuh jalan untuk menjadi *'abdan nafilan'* (hamba yang mendekat melalui kelebihan ibadah). Allah kemudian membalasnya dengan kedudukan yang istimewa.
  4. Persiapan Menghadapi Tanggung Jawab Besar: Bagi Nabi Muhammad SAW, Tahajjud adalah bekal energi spiritual untuk menanggung beban risalah kenabian yang luar biasa berat. Bagi kita, ini adalah bekal spiritual untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

Ayat ini mengajarkan bahwa kesuksesan sejati—bukan hanya di dunia, tetapi di akhirat dalam bentuk Maqam Mahmudah—ditempa melalui disiplin diri dan pengorbanan waktu tidur demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Membangun kebiasaan ini memerlukan kesabaran dan konsistensi, sebagaimana Rasulullah SAW senantiasa melakukannya.

Relevansi Kontemporer

Di era modern yang penuh hiruk pikuk informasi dan kecepatan, menemukan waktu hening menjadi tantangan tersendiri. Namun, pesan dalam Surat Al-Isra ayat 79 tetap relevan. Jika kita tidak dapat sepenuhnya melaksanakan Tahajjud seperti Nabi, setidaknya kita dapat mengambil semangatnya: menyisihkan waktu khusus di mana kita benar-benar fokus beribadah tanpa gangguan.

Ini bisa berupa shalat Witir yang dilaksanakan mendekati waktu Subuh, atau sekadar waktu kontemplasi mendalam sebelum tidur. Tujuannya adalah memprioritaskan hubungan vertikal kita dengan Allah, yang pada akhirnya akan memancarkan ketenangan dan keberkahan dalam seluruh aktivitas horizontal kita di siang hari. Mengikuti sunnah Tahajjud adalah investasi spiritual terbesar menuju tercapainya keridhaan Allah.

🏠 Homepage