Mengkaji Surat Al-Isra Ayat 87

Ilmu & Wahyu Ayat 87

Visualisasi konsep wahyu dan misteri Ilahi.

Surat Al-Isra (juga dikenal sebagai Bani Israil) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah, kisah para nabi, serta prinsip-prinsip dasar keimanan. Di antara ayat-ayatnya, **Surat Al-Isra ayat 87** memiliki kedalaman makna yang luar biasa mengenai peran Al-Qur'an dalam kehidupan manusia. Ayat ini menjawab pertanyaan mendasar tentang hakikat penurunan kitab suci dan pengetahuan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 87

Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan bukan karena kebetulan, melainkan atas kehendak dan rahmat Allah SWT. Berikut adalah teks Arab beserta terjemahannya:

وَلَا إِن شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ۖ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَنَا عَلَيْكَ بِهِ عَنْدًا

"Dan sungguh, jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan menghilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Al-Qur'an). Kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang pun yang dapat menjamin pemeliharaannya untuk dirimu terhadap Kami." (QS. Al-Isra: 87)

Kekuatan dan Jaminan Pemeliharaan Wahyu

Ayat 87 Al-Isra ini mengandung penegasan yang kuat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Inti pesannya adalah jaminan keabadian Al-Qur'an. Allah menegaskan bahwa jika Dia berkehendak, Dia bisa saja menarik kembali wahyu yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya. Ini adalah sebuah cara untuk menunjukkan kebesaran dan otoritas mutlak Allah atas segala sesuatu, termasuk sumber pengetahuan tertinggi.

Namun, penegasan ini diikuti dengan konsekuensi: "Kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang pun yang dapat menjamin pemeliharaannya untuk dirimu terhadap Kami." Frasa "menjamin pemeliharaannya" (عَنْدًا - 'andan) mengindikasikan bahwa tidak ada kekuatan, baik itu malaikat, jin, maupun manusia, yang mampu mempertahankan atau memulihkan wahyu tersebut jika Allah telah memutuskan untuk mencabutnya. Hal ini menekankan bahwa pemeliharaan Al-Qur'an dari perubahan, penyelewengan, dan hilangnya adalah murni atas penjagaan langsung dari Allah SWT.

Implikasi Teologis dan Spiritual

Makna dari ayat ini memberikan beberapa implikasi mendalam bagi umat Islam:

  1. Kebenaran Ilahiyah: Al-Qur'an bukan sekadar karangan manusia atau hasil pemikiran Rasulullah SAW, melainkan firman yang dijamin pemeliharaannya oleh Pencipta semesta. Jika penjagaannya bergantung pada manusia, maka potensi kesalahan dan kehilangan sangat besar.
  2. Kekuasaan Tunggal Allah: Ayat ini menegaskan tauhid dalam konteks pemeliharaan risalah. Tidak ada entitas lain selain Allah yang memiliki kemampuan untuk memberikan dan menarik kembali wahyu ilahi.
  3. Keteguhan Hati Nabi: Meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, ia juga menjadi penenang bagi umatnya. Mereka tidak perlu khawatir akan keaslian atau keutuhan Al-Qur'an karena pemeliharanya adalah Al-Malik (Raja) yang Maha Kuasa.

Perbedaan dengan Kitab Sebelumnya

Para mufassir sering mengaitkan ayat ini dengan nasib kitab-kitab suci terdahulu. Dalam sejarah kenabian, banyak kitab yang diwahyukan Allah—seperti Taurat dan Injil—mengalami perubahan, penambahan, atau pengurangan seiring berjalannya waktu karena pemeliharaannya diserahkan kepada para pengikutnya. Meskipun mereka berusaha keras, keterbatasan manusia membuat naskah asli tidak terjamin keutuhannya seratus persen.

Surat Al-Isra ayat 87 menjadi penanda keistimewaan Al-Qur'an. Allah SWT secara khusus menjamin bahwa Al-Qur'an akan dijaga kesuciannya hingga hari kiamat ("Inna nahnu nazalna adz-dzikra wa inna lahu lahafidzun" - Al-Hijr: 9). Ayat 87 ini adalah salah satu sumpah Allah yang menegaskan janji penjagaan tersebut. Setiap huruf, setiap kalimat dalam Al-Qur'an adalah otentik sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Refleksi Pribadi terhadap Ayat Ini

Ketika seorang Muslim merenungkan Al-Isra ayat 87, seharusnya timbul rasa syukur yang mendalam. Rasa syukur ini harus mendorong kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Al-Qur'an, membacanya, memahaminya, dan mengamalkan ajarannya. Jika Allah saja menjamin pemeliharaannya dengan cara yang paling luar biasa, maka sudah sepantasnya kita sebagai penerima rahmat ini memberikan perhatian terbaik kita.

Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa iman yang sejati bersandar pada sumber yang tak tergoyahkan. Dalam kegoyahan zaman dan banjir informasi, pegangan yang paling teguh adalah firman Allah yang telah dijamin keasliannya. Menjauh dari Al-Qur'an berarti menjauh dari jaminan ilahi, dan berusaha mencari sumber kebenaran lain yang tidak memiliki jaminan pemeliharaan sekuat ini. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap Surat Al-Isra ayat 87 adalah fondasi penting dalam memperkuat keyakinan terhadap kemuliaan dan keotentikan Al-Qur'anul Karim.

🏠 Homepage