Surat Al-Maidah, yang berarti "Alas Hidang" atau "Makan-Makan," adalah surat Madaniyah yang kaya akan tatanan hukum, kisah kenabian, dan peringatan keras terhadap umat. Fokus pada ayat 10 hingga 20 membawa kita pada sebuah narasi penting mengenai konsekuensi perbuatan, janji Allah, dan urgensi untuk menepati perjanjian. Ayat-ayat ini seringkali mengingatkan tentang kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Kesesuaian Janji dan Balasan (Al-Maidah: 10)
Ayat kesepuluh Al-Maidah menjadi landasan etika sosial dan spiritual. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dilimpahkan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerang kamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu dan menghindarkan kamu dari mereka di Mekah, padahal Allah Maha Melihat segala sesuatu." Ayat ini merupakan pengingat akan perlindungan Ilahi pada masa-masa paling genting dalam sejarah Islam.
Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran bahwa iman yang tulus akan selalu mendapatkan pertolongan dari-Nya, terlepas dari seberapa besar ancaman yang dihadapi. Pengingat ini berfungsi untuk memperkuat hati orang-orang beriman agar tidak gentar menghadapi musuh di masa depan.
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dilimpahkan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerang kamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu dan menghindarkan kamu dari mereka di Mekah, padahal Allah Maha Melihat segala sesuatu."
Kewajiban Memegang Perjanjian dan Konsekuensi Pelanggaran (Ayat 11-14)
Setelah mengingatkan nikmat masa lalu, ayat-ayat berikutnya menekankan pentingnya memegang teguh perjanjian, baik perjanjian dengan Allah maupun perjanjian antar sesama manusia. Ayat 11 mengingatkan bahwa ketika musuh telah dihalau, maka seorang mukmin harus bersyukur dan tidak boleh melanggar janji yang telah dibuat.
Selanjutnya, perhatian beralih pada kisah Bani Israil yang melanggar perjanjiannya. Ayat 12 dan 13 menjelaskan bahwa pelanggaran perjanjian ini berakibat pada dikutuknya mereka dan kerasnya hati mereka. Pelajaran bagi umat Islam sangat jelas: kedurhakaan dan pengkhianatan terhadap janji adalah sifat yang dicela dan dapat mendatangkan laknat.
Bahkan disebutkan bahwa di antara mereka terdapat kelompok yang cenderung merusak perjanjian tersebut. Ini menggambarkan bahwa dalam setiap komunitas, akan selalu ada pihak yang berusaha merusak tatanan yang baik. Ayat 14 menegaskan bahwa meskipun mereka berpaling dari peringatan, Allah tetap memberi mereka kesempatan untuk bertobat, namun ancaman azab tetap nyata jika mereka terus berbuat salah.
Kisah tentang Pelanggaran Hukum di Sabat (Ayat 17-20)
Bagian ini menyoroti kisah lain dari Bani Israil terkait pelanggaran hari Sabat. Allah menetapkan hari Sabat (Sabtu) sebagai hari untuk berhenti dari segala urusan duniawi dan beribadah. Namun, ketika diuji dengan godaan duniawi (ikan yang muncul hanya pada hari itu), sebagian dari mereka melanggar ketentuan tersebut.
Ayat 18 memberikan respons tegas dari kaum mukmin kepada mereka yang melanggar: "Katakanlah (Muhammad): 'Maukah kamu memberitahukan kepada kami tentang (sebab-sebab) yang paling rugi perbuatannya?'" Pertanyaan retoris ini menunjukkan betapa merugikannya perbuatan yang menentang perintah Allah, meskipun tampak sepele.
"Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, kenanglah nikmat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu raja-raja, dan Dia memberikan kepadamu apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara alam (pada masanya).'"
Ayat 20 beralih ke seruan Nabi Musa AS kepada kaumnya, mengingatkan mereka tentang nikmat besar yang telah diberikan Allah: diutusnya para nabi dan dijadikan penguasa. Seruan ini adalah pengingat bahwa setiap kemuliaan dan keistimewaan yang dimiliki adalah anugerah yang harus dibalas dengan ketaatan, bukan kesombongan atau pelanggaran.
Refleksi Moral dan Spiritual
Rangkaian ayat Al-Maidah 10 hingga 20 secara keseluruhan mengajarkan bahwa keimanan sejati terwujud melalui konsistensi tindakan. Perlindungan yang diberikan Allah harus dibalas dengan loyalitas terhadap janji-janji-Nya. Umat Islam diingatkan agar tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu yang cenderung melanggar batasan-batasan syariat demi kepentingan duniawi sesaat.
Ketaatan kepada perjanjian, integritas dalam bermasyarakat, dan kesadaran akan nikmat yang diterima adalah pilar utama yang ditekankan dalam petikan ayat ini. Surat Al-Maidah terus menuntun pembacanya menuju jalan yang lurus, menjauhi jalan mereka yang telah dikutuk karena pembangkangan dan pengkhianatan. Menginternalisasi hikmah ini adalah kunci untuk meraih keberkahan dan ridha Allah SWT.