A10 Simbol Keadilan dan Perjanjian

Keutamaan dan Peringatan dalam Surat Al-Maidah Ayat 10

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dilimpahkan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerang kamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari (gangguan) kamu. Bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. Al-Maidah: 10)

Konteks Historis dan Inti Ayat

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum, perjanjian, dan kisah-kisah penting dalam Islam. Ayat ke-10 dari surat ini membawa pesan yang sangat mendalam mengenai pentingnya mengingat nikmat Allah, khususnya dalam menghadapi ancaman dan permusuhan.

Ayat ini diawali dengan panggilan akrab dan mulia: "Wahai orang-orang yang beriman". Panggilan ini menunjukkan bahwa pelajaran yang akan disampaikan adalah pelajaran fundamental bagi komunitas Muslim yang telah menyatakan keimanan mereka. Inti dari ayat ini adalah perintah untuk mengingat nikmat Allah (Dzikrullah an-Ni'mah).

Para mufasir sepakat bahwa momen spesifik yang dimaksudkan adalah ketika kaum Muslimin berada dalam situasi genting, di mana sekelompok musuh (sering diidentikkan dengan kabilah-kabilah musyrik atau Bani Ghatfahan dalam beberapa riwayat) berniat jahat untuk menyerang dan membinasakan kaum mukminin. Namun, atas kehendak dan pertolongan langsung dari Allah SWT, niat jahat tersebut berhasil digagalkan, dan tangan mereka "ditahan" sehingga tidak bisa melancarkan serangan.

Pelajaran Kunci dari Penahanan Tangan Musuh

Peristiwa penahanan tangan musuh ini bukanlah sekadar kebetulan sejarah, melainkan sebuah demonstrasi nyata dari kekuasaan dan pertolongan ilahi. Ada beberapa dimensi penting yang bisa diambil dari narasi ini:

  1. Kebergantungan Penuh (Tawakkal): Ayat ini ditutup dengan penegasan, "dan hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." Hal ini menggarisbawahi bahwa meskipun mukminin wajib berusaha (misalnya dengan mempersiapkan pertahanan), hasil akhir mutlak berada di tangan Allah. Tawakal sejati muncul dari kesadaran bahwa kekuatan manusia terbatas, sementara kekuatan Allah Maha Mutlak.
  2. Tujuan Dzikir Nikmat: Mengingat pertolongan Allah di masa lalu berfungsi ganda. Pertama, sebagai rasa syukur (syukur) yang menumbuhkan kecintaan kepada-Nya. Kedua, sebagai penguat mental dan spiritual. Ketika mukmin menghadapi kesulitan baru, mereka teringat bahwa Allah pernah menyelamatkan mereka dari bahaya yang jauh lebih besar di masa lalu.
  3. Perintah untuk Bertakwa (Taqwa): Setelah mengingatkan nikmat, Allah langsung memerintahkan "Bertakwalah kepada Allah." Taqwa adalah fondasi dari segala kebaikan. Setelah diselamatkan, kewajiban seorang mukmin adalah meningkatkan kualitas ketaatan dan kepatuhan mereka kepada perintah-Nya, sebagai bentuk balasan atas perlindungan yang telah diterima.

Relevansi Kontemporer

Meskipun konteks spesifik ayat ini terjadi pada masa Rasulullah SAW, pesan fundamentalnya abadi. Dalam kehidupan modern, "tangan musuh" bisa mengambil banyak bentuk: krisis ekonomi, fitnah sosial, tekanan ideologi, atau ujian pribadi yang terasa menekan. Surat Al-Maidah ayat 10 mengajarkan bahwa di balik setiap ancaman yang tampak besar, terdapat kekuatan iman yang harus dipegang teguh.

Muslim didorong untuk tidak putus asa atau jatuh ke dalam kepanikan saat menghadapi tekanan. Sebaliknya, mereka harus kembali merenungkan sejarah iman mereka, bersyukur atas setiap naungan yang pernah diberikan, dan memperkuat fondasi takwa mereka. Ketika hubungan dengan Allah diperkuat melalui taqwa dan tawakal yang tulus, seorang mukmin akan menemukan ketenangan batin, menyadari bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat, meskipun terkadang tidak terlihat oleh mata manusia pada saat bahaya mengancam. Ayat ini adalah sumber ketenangan sekaligus motivasi untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Sang Pencipta.

🏠 Homepage