*Ilustrasi Konsep Keadilan dalam Pengambilan Keputusan*
Di antara lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang berfungsi sebagai pilar utama dalam membangun moralitas dan etika sosial umat Islam. Salah satu ayat yang sarat dengan peringatan tegas mengenai konsekuensi dari perpecahan dan pengabaian nilai-nilai kebenaran adalah Surat Al-Maidah ayat 28.
Ayat ini secara spesifik diturunkan dalam konteks peringatan kepada kaum Bani Israil yang saat itu mengalami keruntuhan moral dan politik akibat seringnya mereka berpaling dari perjanjian Allah dan menyimpang dari ajaran tauhid. Namun, relevansi ayat ini melampaui konteks historisnya; ia menjadi pelajaran universal tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perbuatan yang merusak sendi kehidupan bersama.
Ayat ini berbunyi:
"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?', niscaya mereka menjawab: 'Allah.' Katakanlah: 'Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah itu; jika Allah menghendaki kemudaratan kepadaku, dapatkah berhala-berhala yang kamu seru itu menghilangkan kemudaratan-Nya? Atau jika Allah menghendaki rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmat-Nya itu?' Katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal itu bertawakal.'" (QS. Al-Maidah: 28)
Poin pertama yang disoroti oleh ayat 28 Al-Maidah adalah kontradiksi mendalam dalam keyakinan kaum musyrikin, baik di masa lalu maupun yang serupa di masa kini. Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bertanya kepada mereka tentang siapa Pencipta alam semesta. Jawaban mereka pasti: Allah. Pengakuan ini menunjukkan bahwa secara akal sehat, mereka mengakui keesaan Allah sebagai Khaliq (Pencipta).
Namun, ironisnya, pengakuan lisan ini tidak diikuti oleh pengakuan amal dan ketaatan total. Mereka kemudian menyembah selain Allah, membangun sesembahan atau tandingan yang mereka yakini mampu memberikan manfaat atau menolak mudharat. Ayat ini kemudian membongkar kemahaluasan Allah SWT melalui dua pertanyaan retoris yang sangat kuat: bisakah sesembahan selain Allah menyingkirkan bencana (mudharat) yang Allah kehendaki, atau menahan rahmat (kebaikan) yang Allah tetapkan?
Tentu saja, jawabannya adalah tidak. Kunci dari segala sesuatu—baik penderitaan maupun kebahagiaan—hanya berada di genggaman tunggal Allah SWT. Kesalahan fatal mereka adalah memberikan status ilahi (rububiyyah) kepada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kuasa atas nasib mereka sendiri.
Setelah membantah logika sesat tersebut, ayat ini memberikan solusi definitif, sebuah pilar utama dalam spiritualitas Islam: "Katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal itu bertawakal.'"
Frasa "Hasbiyallāh" (Cukuplah Allah bagiku) adalah pernyataan penyerahan diri total. Ini bukan berarti pasif, melainkan aktif mengusahakan yang terbaik sambil meyakini sepenuhnya bahwa hasil akhir berada di luar kendali manusia dan sepenuhnya milik Allah. Tawakal yang benar lahir dari pemahaman mendalam bahwa segala potensi mudharat dan rahmat terpusat pada Zat Yang Maha Kuasa.
Ketika seseorang telah mencapai derajat tawakal ini, ia akan terbebas dari rasa takut berlebihan terhadap ancaman manusia, tekanan sosial, atau ketidakpastian masa depan. Ketakutan utama digantikan oleh kecintaan dan ketaatan total kepada Allah.
Dalam konteks sosial, Al-Maidah ayat 28 menjadi peringatan bagi komunitas Muslim agar tidak terjerumus dalam sikap yang sama. Perpecahan, mencari perlindungan kepada kekuasaan duniawi yang fana melebihi mencari perlindungan kepada Allah, atau mencari solusi di luar syariat-Nya, semuanya adalah bentuk "menjadikan tandingan bagi Allah" dalam lingkup praktik kehidupan.
Ayat ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati sebuah komunitas tidak terletak pada jumlah persenjataan atau kekayaan materi, melainkan pada kedalaman iman dan keyakinan bahwa hanya Allah yang menjadi pelindung dan penentu segala urusan. Dengan memegang teguh prinsip ini, seorang Muslim dapat menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya dengan hati yang tenang, karena ia tahu bahwa di sisinya ada Zat yang Maha Kuasa, yang keberpihakannya adalah kecukupan yang paling utama.