Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pelajaran hidup, hukum, dan peringatan. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 100 hingga 120, menyoroti tema sentral mengenai perbedaan antara orang mukmin dan orang kafir, pentingnya pertimbangan akal sehat, serta otoritas mutlak Allah SWT atas seluruh alam semesta, termasuk kedudukan Nabi Isa AS.
Ayat-ayat awal bagian ini dimulai dengan penekanan bahwa sebanyak apapun kejahatan disembunyikan atau tampak banyak, ia tidak akan pernah bisa menyamai kebaikan. Allah SWT menegaskan:
Ayat ini adalah pengingat fundamental bahwa standar kebenaran dalam Islam tidak diukur dari kuantitas atau kemewahan tampilan, melainkan kualitas dan keberkahannya di sisi Allah. Orang-orang beriman diajak menggunakan akal sehat (ulu al-albab) untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil, karena keselamatan sejati hanya dicapai melalui takwa.
Ayat-ayat selanjutnya membahas tentang pentingnya persaksian yang adil, terutama dalam urusan wasiat. Ini menunjukkan bagaimana Islam sangat menghargai integritas dan kejujuran dalam setiap transaksi sosial dan spiritual.
Bagian ini juga memuat dialog penting antara Allah dan Nabi Isa AS pada hari kiamat. Allah bertanya kepada Nabi Isa mengenai bagaimana ia mengajarkan kaumnya untuk menyembahnya dan ibunya, bukan Allah. Jawaban Nabi Isa menunjukkan penolakan total terhadap klaim ketuhanan dan penegasan bahwa beliau hanya seorang rasul yang diutus untuk menyeru manusia mentauhidkan Allah.
Ayat ini menjadi bantahan tegas terhadap doktrin Trinitas dan pengkultusan figur tertentu, menegaskan kembali prinsip dasar Islam: Tauhid murni.
Menjelang akhir surat, pembahasan beralih kepada mukjizat yang diberikan kepada para rasul, terutama mukjizat Nabi Isa AS berupa hidangan (Al-Ma'idah) yang diturunkan dari langit. Meskipun mukjizat ini disaksikan langsung, Allah mengingatkan bahwa hati manusia mudah berbalik jika tidak ditopang iman yang teguh.
Ayat 118 dan 119 merupakan puncak penekanan pada kekuasaan Allah. Setelah menegaskan ketiadaan ilah selain-Nya, Nabi Isa AS menyerahkan segala urusan kepada-Nya, dan Allah menjamin bahwa Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.
Konteks kekuasaan ini sangat penting. Ia mengajarkan kaum mukmin untuk selalu bersandar kepada Allah dalam segala kesulitan, menyerahkan hasil akhir kepada kebijaksanaan-Nya yang maha luas. Baik dalam pemberian nikmat (rezeki, kekuasaan) maupun dalam penghakiman, otoritas tunggal berada di tangan Sang Pencipta.
Secara keseluruhan, rentang ayat Al-Maidah 100 hingga 120 berfungsi sebagai panduan untuk membedakan antara kebenaran yang langgeng dan ilusi duniawi. Ia menyeru umat Islam untuk tidak terpedaya oleh kemegahan kebatilan, menjaga integritas moral, dan memegang teguh prinsip tauhid, menyadari bahwa pada akhirnya, semua kembali kepada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, Pemilik segala kekuasaan dan kebijaksanaan.