Surat Al-Maidah adalah surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, kisah para nabi, serta ajaran akidah. Salah satu ayat penting di dalamnya yang sering menjadi sorotan para mufassir adalah ayat ke-19. Ayat ini secara tegas berbicara tentang kedatangan Rasulullah Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, serta penegasan bahwa risalah Islam adalah wahyu terakhir yang membawa kebenaran mutlak setelah periode panjang kenabian sebelumnya.
Ayat 19 Surat Al-Maidah dibuka dengan penegasan yang keras: "Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.'" Ayat ini diturunkan sebagai bantahan tegas terhadap keyakinan ekstrem sebagian kelompok dari Bani Israil, khususnya kaum Nasrani tertentu, yang menganggap Nabi Isa bin Maryam sebagai personifikasi dari Tuhan (Allah) atau bahkan sebagai Tuhan itu sendiri.
Islam sangat menjunjung tinggi tauhid murni, yaitu mengesakan Allah SWT dalam segala hal. Mengaitkan ketuhanan dengan makhluk, sekecil apa pun itu, adalah bentuk syirik terbesar. Nabi Isa adalah seorang rasul yang mulia, diberi mukjizat luar biasa sebagai bukti kebenarannya, namun beliau tetaplah seorang hamba Allah, bukan Tuhan.
Setelah membantah klaim tersebut, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengajukan pertanyaan retoris yang sangat kuat sebagai pembuktian: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam dan ibunya serta semua orang yang ada di bumi?"
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa jika Nabi Isa adalah Tuhan, maka kekuasaan-Nya mutlak dan tidak terbatasi. Namun, jika Dia adalah makhluk, maka Dia tunduk pada kehendak Pencipta-Nya. Fakta bahwa Isa bin Maryam telah wafat dan dikuburkan (sebagaimana diyakini oleh mayoritas ulama tafsir, meskipun ada perbedaan pandangan mengenai penyaliban) adalah bukti empiris bahwa beliau adalah makhluk yang membutuhkan izin dan kehendak Allah. Jika beliau adalah Tuhan, mustahil bagi siapa pun, bahkan Tuhan sendiri (menurut klaim mereka), untuk membinasakan beliau. Kenyataan bahwa Allah memiliki kuasa penuh untuk membinasakan semua makhluk, termasuk Isa dan ibunya, menegaskan bahwa Isa adalah hamba, bukan Ilah.
Ayat ini ditutup dengan penegasan inti keesaan Allah: "Milik Allah-lah segala kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Kepada-Nyalah kembali segala sesuatu."
Penegasan ini berfungsi sebagai fondasi tauhid. Segala sesuatu yang ada—materi, energi, kehidupan, kematian, alam semesta yang tak terhingga luasnya—semuanya berada di bawah kepemilikan (mulk) dan kekuasaan Allah semata. Tidak ada entitas lain yang memiliki kekuasaan independen atas ciptaan-Nya.
Frasa "Kepada-Nyalah kembali segala sesuatu" (إِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ) adalah pengingat akan Hari Kebangkitan dan Penghakiman. Setelah kehidupan duniawi ini berakhir, semua entitas akan kembali kepada Sumber segala kekuasaan untuk menerima pertanggungjawaban. Ini berlaku bagi orang yang beriman, yang mengingkari, dan juga mereka yang menyekutukan Tuhan.
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 19 adalah ayat yang penuh dengan bantahan teologis yang logis dan penegasan kembali akan superioritas dan kemutlakan kekuasaan Allah SWT atas seluruh alam semesta, termasuk para nabi dan rasul yang telah diutus-Nya.