Pelajaran Berharga dari Surat Al-Maidah Ayat 62

Simbol buku terbuka dan cahaya
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan benar-benar menjadikan kamu lupa (akan hal ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah kamu mengingatnya."

Konteks dan Kedudukan Ayat

Surat Al-Maidah (Al-Ma'idah) adalah surat kelima dalam urutan mushaf Al-Qur'an, yang merupakan salah satu surat Madaniyah. Ayat ke-62 dari surat ini membawa pesan yang sangat penting mengenai bagaimana seorang Muslim harus bersikap ketika berhadapan dengan orang-orang yang meremehkan atau mencela ajaran agama, khususnya ayat-ayat Allah SWT.

Ayat ini turun sebagai respons terhadap perilaku sebagian orang pada masa Rasulullah SAW yang seringkali mencari-cari celah untuk menghina dan merendahkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Mereka melakukannya, terkadang karena kedengkian, terkadang karena kesombongan, dan terkadang karena ketidakpahaman yang disengaja.

Perintah untuk Menjauhi Cercaan Ayat Allah

Poin utama yang ditekankan dalam ayat ini adalah perintah eksplisit dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang secara otomatis berlaku bagi seluruh umat Islam, yaitu "fɑ'riḍ 'ɑnhum" (palingkanlah dirimu dari mereka). Perintah ini bukan sekadar saran, melainkan sebuah ketegasan dalam menjaga kehormatan firman Allah.

Tindakan menjauh atau berpaling ini harus dilakukan sampai mereka beralih dari topik pembicaraan yang menghina ayat-ayat Allah menuju pembicaraan lain yang lebih netral atau bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa interaksi dan pergaulan harus dibatasi ketika inti dari perbincangan tersebut adalah pelecehan terhadap kebenaran ilahiyah. Kehadiran fisik di tengah-tengah mereka, meskipun diam, dapat diartikan sebagai bentuk toleransi pasif atau bahkan persetujuan diam-diam terhadap kemungkaran tersebut.

Bahaya Kelalaian dan Godaan Setan

Bagian kedua ayat ini memberikan peringatan keras tentang bagaimana setan dapat berperan dalam menjerumuskan manusia. Allah berfirman, "Waimma yunsiyannaka asy-syaithānu fa-lā taq'ud ba'da Adz-Dzikrā ma'al qaumizh zhalimīn." (Dan jika syaitan benar-benar menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersamanya sesudah kamu mengingatnya).

Ini adalah pengakuan bahwa manusia, termasuk Nabi yang terjaga dari dosa, dapat saja teralihkan fokusnya atau lupa akan perintah tersebut karena tipu daya setan. Jika hal ini terjadi—yaitu, seseorang tanpa sadar ikut berkumpul atau duduk bersama kelompok tersebut setelah teringat bahwa mereka sedang memperolok ayat Allah—maka ia wajib segera bangkit dan meninggalkan majelis tersebut.

Mengapa harus segera pergi setelah teringat? Karena duduk bersama orang-orang yang terang-terangan melakukan kezaliman—kezaliman yang paling besar di sini adalah menentang atau meremehkan ayat Allah—dapat dianggap sebagai bentuk dukungan atau minimal pembiaran terhadap perbuatan maksiat tersebut. Dalam pandangan syariat, sikap diam terhadap kemungkaran yang nyata adalah bagian dari kemungkaran itu sendiri.

Implikasi Sosial dan Etika Bergaul

Surat Al-Maidah ayat 62 mengajarkan prinsip penting dalam etika sosial Islam, yaitu prinsip al-wala' wal-bara' (loyalitas dan berlepas diri) pada tingkat yang paling mendasar terkait akidah. Ayat ini mengajarkan bahwa batas pergaulan harus jelas, terutama jika pergaulan tersebut mengancam integritas keimanan seseorang atau kemuliaan ajaran yang diyakininya.

Ini bukan berarti Islam menganjurkan isolasi total. Tentu, umat Islam diperintahkan untuk berdakwah dan berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat. Namun, interaksi tersebut harus dibingkai dengan batasan yang menjaga prinsip-prinsip dasar keimanan. Ketika pertemanan atau perkumpulan telah berubah menjadi arena penghinaan terhadap prinsip tauhid, maka kewajiban agama menuntut adanya pemisahan diri.

Pelajaran untuk Generasi Kontemporer

Di era modern, pelecehan terhadap ajaran agama seringkali terjadi melalui media sosial, forum diskusi daring, atau bahkan dalam percakapan sehari-hari. Konteks ayat ini sangat relevan. Ketika kita melihat atau mendengar konten yang secara terang-terangan merendahkan ayat-ayat suci:

  1. Tinggalkan Interaksi Negatif: Jangan terpancing untuk ikut dalam perdebatan yang destruktif atau menghabiskan waktu di kolom komentar yang penuh penghinaan.
  2. Hindari Majelis Zhalim: Secara sadar, hindari berlama-lama dalam grup atau komunitas digital yang menjadikan penghinaan terhadap agama sebagai hiburan utama.
  3. Ingat dan Segera Bertindak: Jika tanpa sadar terjebak dalam diskusi semacam itu, segera tarik diri begitu Anda menyadari bahwa pembicaraan telah melampaui batas-batas etika Islami.

Keselamatan akidah jauh lebih utama daripada menjaga hubungan sosial yang bersifat basa-basi. Surat Al-Maidah ayat 62 adalah benteng pelindung bagi hati orang beriman agar tidak terkontaminasi oleh keraguan dan ejekan yang dilontarkan oleh kaum yang lalai atau zalim.

🏠 Homepage