Merenungkan Surat Sebelum Al-Zalzalah

Simbol Kedahsyatan dan Kekuatan Visualisasi abstrak dari lari kencang dan api yang menyembur, merepresentasikan kekuatan kuda perang dalam Surat Al-'Adiyat. Al-'Adiyat

Visualisasi energi dari Surat Al-'Adiyat.

Pengantar Surat Al-'Adiyat

Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, dan setiap surat memiliki konteks, pesan, serta kedalaman spiritualnya masing-masing. Salah satu surat yang sering dibaca sebelum Surat Az-Zalzalah (Surat ke-99) dalam urutan mushaf adalah Surat Al-'Adiyat (Surat ke-100). Surat ini, yang terdiri dari sebelas ayat pendek, membawa peringatan keras tentang hakikat kesombongan dan kekufuran manusia terhadap nikmat Tuhannya. Memahami Al-'Adiyat sebelum membahas guncangan bumi dalam Az-Zalzalah memberikan perspektif yang utuh mengenai pertanggungjawaban amal perbuatan.

Nama Al-'Adiyat sendiri berasal dari kata dalam ayat pertama, yang secara harfiah berarti "kuda-kuda yang berlari kencang". Dalam tafsir klasik, ayat-ayat awal ini sering dihubungkan dengan gambaran metaforis atau harfiah mengenai kuda perang yang berlari dalam medan jihad atau perlombaan untuk meraih kemenangan duniawi. Namun, inti pesannya jauh lebih dalam daripada sekadar deskripsi peperangan.

Sumpah Pembuka yang Menggugah

Surat Al-'Adiyat dibuka dengan sumpah yang sangat dramatis: "Demi kuda perang yang berlari terengah-engah." Sumpah Allah SWT ini berfungsi untuk menarik perhatian penuh pembaca terhadap apa yang akan disampaikan selanjutnya. Kuda-kuda ini digambarkan dengan karakteristik tertentu: berlari kencang (yang menunjukkan kecepatan usaha dan ambisi), terengah-engah (menunjukkan kelelahan fisik yang luar biasa), dan menghasilkan percikan api dari telapak kakinya saat memijak batu.

Gambaran ini mengarah pada dua penafsiran utama. Pertama, interpretasi harfiah mengenai kuda-kuda yang digunakan dalam peperangan membela agama Allah (jihad fi sabilillah), di mana mereka berlari demi mencari keridhaan Allah. Kedua, dan yang lebih relevan sebagai pengantar Az-Zalzalah, adalah metafora bagi ambisi duniawi manusia. Manusia berlari mengejar harta, kekuasaan, dan popularitas di dunia ini dengan semangat yang luar biasa, seolah-olah itu adalah tujuan akhir mereka, hingga mereka kelelahan (terengah-engah) dan meninggalkan jejak panas (percikan api) ambisi mereka di bumi.

Hakikat Kekufuran Manusia

Setelah membangun gambaran tentang usaha keras ini, Allah SWT langsung menanyakan inti persoalannya: "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (Ayat ke-6). Kata "ingkar" (kafur) di sini memiliki makna mendalam, yaitu tidak hanya tidak bersyukur, tetapi juga mengingkari nikmat-nikmat besar yang telah diberikan secara kontinyu.

Ironisnya, meskipun manusia mengerahkan seluruh tenaganya untuk hal-hal fana—laksana kuda perang yang kelelahan—ia lupa bahwa semua kekuatan dan kesempatan itu berasal dari Sang Pemberi nikmat. Manusia sangat loyal dan bersemangat dalam mengejar dunia, namun sangat pelit dan lalai dalam menunaikan hakikat perbudakannya kepada Allah SWT. Mereka rela berkorban demi harta yang akan hilang, namun enggan bersyukur untuk kehidupan yang kekal.

Harta Sebagai Saksi Bisu

Surat ini kemudian menyoroti kecintaan manusia terhadap harta: "Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat mencintai harta dengan kecintaan yang sangat." (Ayat ke-8). Kecintaan yang berlebihan ini mendorong mereka untuk melakukan segala cara, menomorduakan ketaatan kepada Allah demi akumulasi materi.

Ayat penutup surat ini berfungsi sebagai jembatan peringatan menuju hari kiamat yang dibahas dalam Al-Zalzalah. Allah SWT berfirman: "Tidakkah dia mengetahui, bahwa apabila apa yang ada di dalam kubur-kubur dikacaukan, dan apa yang ada di dalam dada (pikiran) disingkapkan, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka."

Keterkaitan dengan Az-Zalzalah

Peringatan di akhir Al-'Adiyat sangat selaras dengan tema utama Surat Az-Zalzalah. Al-'Adiyat mengingatkan bahwa kesombongan dan ingkar saat mengumpulkan harta akan dipertanggungjawabkan. Ketika Az-Zalzalah (Guncangan) terjadi, semua yang tersembunyi, termasuk motivasi terdalam manusia dalam mengejar harta dan kekuasaan, akan disingkapkan dari dada mereka. Kuda-kuda yang berlari kencang mencari dunia akan berhenti total ketika bumi diguncang hebat. Semua simpanan duniawi tidak akan berguna saat pertanggungjawaban mutlak tiba. Oleh karena itu, Al-'Adiyat berfungsi sebagai panggilan introspeksi agar kita tidak menjadi hamba yang berlari terengah-engah mengejar fatamorgana dunia, melupakan Sang Pemberi segalanya, yang kelak akan meminta pertanggungjawaban penuh di Hari Perhitungan.

🏠 Homepage