Ilustrasi: Simbolisasi dokumen dan negosiasi diplomatik.
Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu isu geopolitik paling kompleks di dunia, dan sejarahnya tertuang dalam berbagai surat, deklarasi, resolusi, dan perjanjian resmi. Dokumen-dokumen ini tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menjadi landasan hukum dan politik yang diperdebatkan hingga hari ini. Memahami surat-surat yang berhubungan dengan isu ini sangat penting untuk menelusuri akar permasalahan.
Salah satu titik tolak utama dalam narasi modern adalah Surat Deklarasi Balfour tahun 1917. Surat ini, yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, kepada Lord Rothschild, menyatakan dukungan pemerintah Inggris terhadap pendirian "rumah nasional bagi bangsa Yahudi" di Palestina. Meskipun terdapat syarat bahwa hak-hak warga non-Yahudi yang sudah ada tidak boleh dilanggar, redaksi ambigu dalam surat ini membuka jalan bagi imigrasi Zionis berskala besar dan klaim teritorial yang saling bertentangan di kemudian hari.
Menyusul Deklarasi Balfour, Mandat Britania atas Palestina (dikeluarkan oleh Liga Bangsa-Bangsa) secara resmi mengamanatkan Inggris untuk melaksanakan janji tersebut. Periode mandat ini dipenuhi dengan ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi, yang kemudian memuncak pada kebutuhan intervensi internasional.
Ketika Inggris menyerahkan masalah Palestina kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hasilnya adalah Resolusi Majelis Umum PBB 181 pada tahun 1947. Resolusi ini mengusulkan rencana pembagian wilayah menjadi negara Yahudi dan negara Arab, dengan Yerusalem berada di bawah administrasi internasional. Surat-surat dan tanggapan resmi dari negara-negara Arab saat itu mayoritas menolak rencana ini, menganggapnya sebagai pelanggaran hak penentuan nasib sendiri bagi mayoritas penduduk Arab Palestina. Penolakan ini, dikombinasikan dengan penarikan pasukan Inggris, secara langsung memicu perang Arab-Israel pertama.
Dalam upaya meredakan konflik, banyak surat resmi dan perjanjian bilateral yang ditandatangani. Salah satu contoh paling terkenal adalah serangkaian surat yang mengarah pada Perjanjian Oslo pada tahun 1990-an. Proses Oslo melibatkan surat pengakuan timbal balik antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Israel, yang merupakan langkah penting dalam membangun Otoritas Palestina. Surat-surat ini menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi status akhir, meskipun banyak klausul penting—seperti perbatasan definitif, status Yerusalem, dan hak kembali pengungsi—tetap belum terselesaikan.
Selain itu, ada juga berbagai surat informal atau catatan diplomatik yang bocor atau diungkapkan di kemudian hari yang memberikan wawasan tentang posisi negosiasi rahasia. Misalnya, korespondensi antara para pemimpin selama krisis atau selama negosiasi di Camp David atau Wye River seringkali mengungkapkan kompromi yang sulit dan garis merah yang tidak dapat dilintasi oleh pihak-pihak yang berkonflik.
Di luar dokumen resmi antara negara, surat-surat yang dikirim oleh aktivis, tokoh agama, atau kepala negara kepada mitra internasional mereka juga berperan besar. Surat-surat ini berfungsi sebagai upaya diplomasi publik untuk mempengaruhi opini global. Misalnya, surat dari delegasi Palestina ke PBB yang secara rinci menguraikan pelanggaran hak asasi manusia atau surat dari diplomat Israel yang menyoroti ancaman keamanan, semuanya membentuk narasi yang disajikan kepada komunitas internasional.
Intinya, memahami surat-surat yang berhubungan dengan Israel dan Palestina memerlukan pembacaan kritis terhadap konteks waktunya. Dari janji-janji kolonial, resolusi PBB yang memicu perang, hingga upaya perdamaian yang terhenti, setiap dokumen adalah sebuah babak dalam narasi yang masih terus ditulis. Surat-surat ini adalah artefak sejarah yang menunjukkan bagaimana harapan, ketakutan, dan klaim teritorial diabadikan dalam bahasa formal.
Meskipun perundingan damai kontemporer sering menggunakan protokol digital, warisan dari surat-surat fisik abad ke-20 tetap menjadi rujukan utama bagi para negosiator dan sejarawan saat mencoba mencari jalan menuju resolusi permanen di wilayah yang penuh gejolak ini.