Keutamaan Keadilan dalam Islam

Tuliskan Surat Al-Maidah Ayat 8 Beserta Artinya

Ayat 8 dari Surat Al-Maidah adalah salah satu pilar penting dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya bersikap adil, bahkan ketika menghadapi kebencian atau permusuhan. Ayat ini menjadi panduan moralitas tertinggi bagi setiap Muslim dalam interaksi sosial dan politik.

Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Tangan yang Saling Berbagi Keadilan 😠 Kebencian

Bacaan Arab Al-Maidah Ayat 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Terjemahan dan Makna Ayat

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah, (ketika menjadi) saksi terhadap diri sendiri atau (dan) ibu bapa dan kaum kerabatmu. (Baik orang yang kaya maupun yang miskin), maka Allah lebih tahu kemaslahatan mereka. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin berpaling dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata (dalam persaksian) atau enggan (memberikan kesaksian), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui atas segala apa yang kamu kerjakan."

*(Catatan: Terjemahan di atas adalah gabungan makna dari beberapa tafsir populer untuk konteks yang lebih utuh)*

Penjelasan Mendalam Tentang Surat Al-Maidah Ayat 8

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan peraturan dan etika kehidupan bermasyarakat. Ayat kedelapan dalam surat ini adalah fondasi moral yang sangat kuat. Poin utama yang ditekankan adalah perintah langsung dari Allah SWT kepada orang-orang yang beriman (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا) untuk menjadi penegak keadilan (qawwamina lillahi).

Perintah "menjadi penegak keadilan" tidak hanya berlaku dalam situasi netral, tetapi diperkuat dengan penekanan bahwa kesaksian harus ditegakkan demi Allah. Ini berarti keadilan harus menjadi tujuan utama, bukan sekadar alat untuk mencapai keuntungan pribadi atau kelompok. Keadilan ini harus diterapkan bahkan ketika menjadi saksi yang memberatkan diri sendiri, atau melibatkan orang-orang terdekat seperti orang tua dan kerabat.

Melawan Hawa Nafsu dan Kebencian

Bagian kedua ayat ini sangat relevan dengan tantangan emosional dalam menegakkan kebenaran. Allah SWT memberikan peringatan keras: "Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil." (Sebagaimana tercantum dalam terjemahan populer).

Ini adalah ujian tertinggi bagi keimanan. Ketika kita berhadapan dengan individu atau kelompok yang kita benci (mungkin karena perbedaan ideologi, suku, atau sejarah konflik), dorongan alami manusia adalah bersikap diskriminatif atau bahkan zalim. Namun, ayat ini secara eksplisit melarang hal tersebut. Rasa benci tidak boleh menjadi pembenaran untuk menanggalkan prinsip keadilan.

Prinsip yang ditawarkan adalah: "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." Keadilan adalah manifestasi nyata dari ketakwaan (kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Allah). Ketika seseorang memilih jalur yang sulit—yaitu bersikap adil kepada musuh—ia telah membuktikan bahwa Tuhannya lebih ia takuti dan agungkan daripada pendapat manusia atau emosi pribadinya.

Keadilan Sebagai Landasan Takwa

Mengapa keadilan dianggap dekat dengan ketakwaan? Karena ketakwaan sejati memerlukan kejujuran mutlak dan objektivitas tertinggi. Dalam Islam, keadilan adalah bentuk ibadah yang paling agung karena melibatkan pengorbanan ego. Ayat ini memberikan landasan hukum yang kokoh, tidak hanya untuk sistem peradilan, tetapi juga untuk etika sosial dalam berinteraksi sehari-hari. Integritas seorang Muslim diukur dari kemampuannya menerapkan ayat ini, terlepas dari siapa subjek yang sedang diadili atau dibela.

Penutup ayat ini menegaskan pengawasan Ilahi: "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Tidak ada satu pun tindakan, niat tersembunyi, atau pengecualian yang terlewat dari pengetahuan-Nya. Hal ini berfungsi sebagai penguat terakhir agar umat Islam selalu berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan mereka, memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada kebenaran, bukan perasaan atau bias pribadi. Keberlanjutan masyarakat yang adil sangat bergantung pada implementasi prinsip dalam Al-Maidah ayat 8 ini.

Implikasi Jangka Panjang

Memahami dan mengamalkan Al-Maidah ayat 8 membawa dampak luas. Dalam lingkup personal, ia melatih kontrol diri dan objektivitas. Dalam lingkup komunitas, ia menjadi perekat sosial yang mencegah fragmentasi akibat permusuhan yang tidak terselesaikan secara adil. Bagi umat secara keseluruhan, ayat ini adalah cetak biru untuk tata kelola yang berintegritas, di mana hukum ditegakkan secara konsisten tanpa memandang status atau afiliasi. Dengan menjadikan keadilan sebagai standar yang tidak dapat dinegosiasikan, seorang mukmin mendekatkan dirinya pada derajat tertinggi ketaatan kepada Allah SWT.

🏠 Homepage