Simbol perjalanan malam dan wahyu Ilahi.
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj (Perjalanan Malam dan Kenaikan), adalah salah satu surat terpenting dalam Al-Qur'an yang sarat makna historis dan spiritual. Ayat 1 hingga 6 pada surat ini memberikan landasan mengenai keagungan Allah SWT dan beberapa peristiwa penting yang menjadi cikal bakal tegaknya risalah Islam. Memahami terjemahan surat Al Isra ayat 1 6 adalah kunci untuk mengapresiasi mukjizat Isra' Mi'raj serta peringatan-peringatan awal bagi Bani Israil.
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Terjemahan: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pembuka ini menegaskan keMaha Suci-an Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) dan menginformasikan tentang perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' (perjalanan malam dari Mekkah ke Baitul Maqdis/Yerusalem). Ayat ini menjadi bukti otentik akan mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya, sekaligus menunjukkan keberkahan tempat-tempat suci tersebut.
"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): 'Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.'"
Terjemahan: Dan Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (seraya berfirman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku."
Ayat kedua mengaitkan mukjizat Isra' Mi'raj dengan sejarah kenabian sebelumnya, khususnya Nabi Musa AS. Pemberian Taurat dimaksudkan sebagai pedoman. Pesan utama yang ditekankan di sini adalah tauhid—larangan keras untuk tidak menjadikan selain Allah sebagai pelindung atau penolong utama.
"Hai keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama-sama menaiki bahtera Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur."
Terjemahan: Hai keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.
Ayat ketiga melanjutkan pengingat ini dengan menyapa keturunan orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh AS dari banjir besar. Penggunaan kata 'hamba yang sangat bersyukur' (Abd-an Syakura) ini menggarisbawahi pentingnya rasa syukur sebagai sifat fundamental seorang Muslim sejati. Rasa syukur adalah kunci penerimaan nikmat Ilahi.
Dua ayat berikutnya berisi peringatan keras dari Allah kepada Bani Israil mengenai perilaku mereka setelah menerima Taurat. Peringatan ini seringkali menjadi relevan untuk direnungkan oleh umat Islam hari ini mengenai bahaya kesombongan dan pengkhianatan janji.
"Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di muka bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar.'"
Terjemahan: Dan Kami tetapkan bagi Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di muka bumi ini sebanyak dua kali, dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan (keangkuhan) yang besar."
Ayat ini memprediksi dua kali kerusakan besar (fasad) yang akan dilakukan Bani Israil di muka bumi. Kerusakan pertama sering diartikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis oleh Nebukadnezar dan pembuangan mereka. Kesombongan yang dimaksud adalah penolakan mereka terhadap kebenaran dan perbuatan melampaui batas yang di luar norma ketuhanan.
"Maka apabila datang saatnya (pelaksanaan) yang pertama dari kedua kedahsyatan itu, Kami kirimkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang sangat keras siksaan-Nya, lalu mereka merajalela di kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana."
Terjemahan: Maka apabila datang saatnya (pelaksanaan) yang pertama dari kedua kedahsyatan itu, Kami utus hamba-hamba Kami yang sangat keras siksaan-Nya, lalu mereka (hamba-hamba Kami) menyusup ke dalam kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Allah mengancam akan mengirimkan tentara yang keras (yang diyakini adalah bangsa Babil) sebagai balasan atas kerusakan pertama mereka. Ini menunjukkan bahwa meskipun Allah Maha Pengampun, hukuman atas pelanggaran perjanjian-Nya pasti akan datang jika keangkuhan dan kerusakan terus dilakukan.
"Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami dukung kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya)."
Terjemahan: Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami dukung kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya).
Ayat terakhir dari segmen ini menjelaskan fase kedua: pemulihan kekuasaan bagi Bani Israil setelah kehancuran pertama, sebagai bentuk rahmat tambahan dari Allah. Mereka diberi pertolongan, kekayaan, dan peningkatan jumlah. Namun, ayat ini sekaligus menjadi peringatan bahwa rahmat tambahan ini tidak serta merta menjamin mereka akan taat selamanya. Jika mereka kembali melakukan kerusakan dan kesombongan (kerusakan kedua yang disebutkan di ayat 4), maka hukuman kedua juga akan menanti.
Enam ayat pembuka Surat Al-Isra ini memberikan narasi padat: dimulai dengan pengukuhan mukjizat Nabi Muhammad SAW, kemudian beralih pada pelajaran sejarah Bani Israil melalui Musa dan Nuh, dan diakhiri dengan peringatan ilahi tentang konsekuensi rusaknya moralitas dan keangkuhan. Intinya, Al-Qur'an tidak hanya berisi perintah ibadah, tetapi juga pelajaran sejarah sosial dan etika yang universal, menegaskan bahwa pertolongan dan kekuasaan hanya datang dari Allah SWT, dan kesyukuran harus selalu menjadi sifat utama manusia.