Ilustrasi simbolis perjalanan spiritual
Peristiwa Isra' Mi'raj adalah mukjizat agung yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan luar biasa ini, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an, dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra'), dan dilanjutkan naik ke langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Meskipun kisah lengkapnya sering dirangkum dalam beberapa ayat, salah satu ayat yang memberikan konteks penting mengenai keadaan Nabi setelah peristiwa besar ini adalah Surah Al-Isra ayat ketiga.
لِّيُثْبِتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Terjemahan: "Kami wahyukan (kisah-kisah itu) agar Kami menguatkan hatimu dengannya. Dan Kami membacakannya kepadamu dengan tartil (perlahan dan jelas)." (QS. Al-Isra: 3)
Ayat ini, meskipun terletak dalam konteks umum tentang wahyu dan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sering kali dihubungkan erat dengan peristiwa besar yang baru saja disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu Isra' Mi'raj. Ayat 1 dan 2 Surah Al-Isra secara eksplisit menyebutkan perjalanan malam Nabi SAW. Kemudian, ayat ketiga muncul sebagai penjelas mengenai hikmah di balik pewahyuan kisah-kisah tersebut, termasuk kisah Isra' Mi'raj itu sendiri.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "لِّيُثْبِتَ بِهِ فُؤَادَكَ" (agar Kami menguatkan hatimu dengannya). Peristiwa Isra' Mi'raj bukanlah perjalanan biasa; ia adalah uji coba keimanan yang tak tertandingi. Nabi Muhammad SAW diperlihatkan kebesaran Allah SWT di alam semesta, bertemu dengan para nabi terdahulu, dan menyaksikan hal-hal yang melampaui pemahaman akal manusia biasa pada saat itu.
Menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat di Makkah, di mana beliau sering kali mendapat penolakan keras, penganiayaan, dan olok-olok, Allah SWT memberikan penguatan melalui wahyu dan mukjizat nyata. Isra' Mi'raj berfungsi sebagai penegasan ilahi bahwa misi beliau adalah benar dan bahwa di balik kesulitan duniawi, ada realitas keagungan ilahi yang mendukungnya. Penguatan hati ini sangat krusial agar beliau tidak gentar atau goyah dalam menyampaikan risalah Allah.
Bagian kedua ayat, "وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا" (Dan Kami membacakannya kepadamu dengan tartil), menyoroti cara penyampaian Al-Qur'an. Tartil berarti membaca dengan perlahan, jelas, teratur, dan penuh pemahaman. Ini menunjukkan bahwa wahyu yang dibawa kepada Nabi SAW bukanlah sekadar informasi mentah, melainkan pesan ilahi yang disampaikan dengan metode terbaik untuk memastikan penerimaan, penghayatan, dan penyampaian yang sempurna kepada umat manusia.
Dalam konteks penguatan hati, pembacaan tartil ini membantu menanamkan keyakinan secara bertahap dan mendalam. Ketika kisah-kisah besar seperti Isra' Mi'raj disampaikan dengan kejelasan yang sempurna, dampaknya pada hati orang yang menerimanya—yaitu Nabi Muhammad SAW—menjadi lebih kokoh. Ia memberikan kepastian bahwa sumber dari semua wahyu tersebut adalah Zat Yang Maha Kuasa, yang mengatur segalanya dengan ketelitian sempurna.
Banyak ulama menafsirkan bahwa ayat 3 ini menjadi penutup logis dari narasi Isra' (ayat 1-2). Setelah melalui perjalanan yang sangat menguji dan menakjubkan tersebut, penguatan spiritual melalui pembacaan wahyu adalah mekanisme ilahi untuk menjaga keseimbangan psikologis dan keimanan Nabi.
Mukjizat Isra' Mi'raj menjadi bukti nyata kekuasaan Allah, namun validitas risalah Islam tidak hanya bergantung pada mukjizat indrawi. Ia juga bergantung pada kebenaran mutlak yang terkandung dalam wahyu. Dengan menguatkan hati Nabi melalui ayat-ayat yang diturunkan secara tartil, Allah memastikan bahwa fondasi Islam dibangun di atas keyakinan yang kokoh, baik melalui pengalaman supernatural (Isra' Mi'raj) maupun melalui firman yang jelas dan terstruktur (Al-Qur'an). Ayat Al-Isra 3 mengajarkan kita bahwa di tengah peristiwa luar biasa atau kesulitan hidup, ketaatan dan pemahaman yang mendalam terhadap firman Allah adalah sumber kekuatan hati yang sejati.
Kesimpulannya, Al-Isra ayat 3 menegaskan bahwa Al-Qur'an dan kisah-kisah di dalamnya (termasuk Isra' Mi'raj) diturunkan dengan tujuan utama mengukuhkan hati Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan melalui pembacaan yang jelas dan teratur (tartil), memastikan bahwa pondasi keimanan beliau tetap teguh menghadapi tantangan dakwah.