(Gambar mewakili perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yerusalem)
Memahami Mukjizat Agung Al Isra
Kisah Al Isra wal Mi'raj merupakan salah satu peristiwa paling fenomenal dalam sejarah Islam. Kata 'Al Isra' (الإسراء) secara harfiah berarti 'perjalanan di malam hari'. Ini merujuk pada perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Al Quds) dalam semalam suntuk. Peristiwa ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah mukjizat agung yang meneguhkan keimanan para pengikutnya dan menjadi ujian nyata bagi mereka yang belum yakin. Dalam konteks Al Isra Arab, peristiwa ini tercatat secara eksplisit dalam Al-Qur'an, memberikan landasan kuat akan kebenaran risalah kenabian.
Rute Malam: Dari Makkah ke Al Quds
Perjalanan Al Isra dimulai setelah Nabi SAW mengalami tahun kesedihan (Amul Huzn), di mana beliau kehilangan dua pilar utama pendukungnya: istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Ditinggal dalam kesepian, Allah SWT menghibur beliau dengan perjalanan ini. Menurut riwayat yang paling masyhur, Nabi SAW terbangun ketika sedang beristirahat di dekat Ka'bah. Beliau kemudian didatangi oleh Malaikat Jibril yang membersihkan hati beliau sebelum memulai perjalanan menaiki kendaraan surgawi yang disebut Buraq. Buraq digambarkan lebih cepat dari kilat, mendarat di tempat-tempat yang kelak akan menjadi saksi sejarah kenabian di masa lalu.
Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu. Beliau menjadi imam shalat (salat) bersama para rasul tersebut. Momen ini memiliki makna simbolis yang sangat mendalam: menegaskan kesinambungan risalah kenabian yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para rasul. Dari Al Quds inilah, perjalanan berlanjut ke fase kedua, yaitu Mi'raj (kenaikan ke langit), namun fokus utama pada fase pertama adalah Al Isra itu sendiri—penghubung geografis antara dua kota suci utama dalam Islam.
Implikasi Spiritual dan Historis Al Isra
Perjalanan malam ini bukan hanya sekadar tontonan visual; ia membawa beberapa implikasi krusial. Pertama, penetapan kewajiban salat lima waktu sehari semalam, yang diterima langsung oleh Nabi SAW di tingkatan langit tertinggi selama Mi'raj, menjadikan ibadah ini pilar utama. Kedua, ini adalah validasi ilahi atas kesabaran dan ketabahan Nabi dalam menghadapi penolakan kaum Quraisy. Ketika beliau menceritakan perjalanannya, banyak yang mengejek, namun Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkannya, sehingga mendapatkan gelar 'As-Shiddiq' (yang membenarkan).
Kisah Al Isra Arab ini juga memperkuat posisi Yerusalem, yang hari ini dikenal sebagai Al Quds, sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya kiblat dipindahkan ke Ka'bah di Makkah. Keutamaan Masjidil Aqsa disebutkan dalam hadis sebagai tempat kedua yang paling utama untuk melakukan perjalanan spiritual setelah Masjidil Haram. Dengan demikian, Al Isra adalah jembatan spiritual yang menghubungkan tiga masjid suci (Al Haram, Al Aqsa, dan masjid di mana Mi'raj terjadi) dan menjadi penegasan bahwa Islam adalah penyempurnaan dari ajaran para nabi sebelumnya. Perjalanan ini mengingatkan umat Islam akan kebesaran Allah yang mampu melakukan apa pun yang Dia kehendaki, melampaui batas-batas logika dan fisika duniawi yang kita kenal.