Pengantar Surah Al-Isra (Bani Israil)
Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Nama ini diambil dari ayat pertamanya yang menceritakan kisah Isra' (perjalanan malam) Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Surah ini sangat kaya akan pelajaran moral, hukum, dan kisah-kisah penting mengenai Bani Israil (keturunan Yakub).
Mempelajari terjemahan Al-Isra membantu kita memahami fondasi etika Islam, pentingnya berbakti kepada orang tua, keadilan, dan peringatan keras terhadap perbuatan syirik dan kerusakan di muka bumi. Berikut adalah rangkuman terjemahan beberapa ayat kunci dari Surah Al-Isra.
Terjemahan Ayat Kunci Al-Isra
(1) Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(23-24) Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
(29) Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
(32) Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.
Pelajaran Moral dan Etika Sosial
Surah Al-Isra berfungsi sebagai konstitusi moral bagi umat manusia. Selain perintah tunggal untuk mentauhidkan Allah (hanya menyembah-Nya), ayat-ayat selanjutnya memberikan perintah-perintah konkret mengenai perilaku sosial. Ayat tentang berbakti kepada orang tua (ayat 23-24) ditempatkan segera setelah perintah tauhid, menunjukkan betapa tingginya kedudukan berbakti dalam Islam. Sikap hormat ini meluas bahkan ketika orang tua sudah tua dan mungkin merepotkan.
Lebih jauh, surah ini membahas keadilan ekonomi dan sosial. Larangan membunuh anak karena takut kemiskinan (ayat 29) menegaskan bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam genggaman Allah, dan kecemasan materi tidak boleh mendorong tindakan keji. Demikian pula, larangan mendekati zina (ayat 32) menekankan pentingnya menjaga kesucian hubungan dan menghindari segala pintu yang mengarah pada perbuatan terlarang tersebut.
Kisah Bani Israil dan Peringatan
Bagian besar surah ini mengisahkan kerusakan moral dan sejarah kelam Bani Israil setelah mereka mendapatkan kemerdekaan di Baitul Maqdis. Mereka diingatkan dua kali akan kesenangan yang mereka dapatkan dari Allah setelah sebelumnya dihancurkan. Namun, mereka cenderung kembali melakukan kezaliman, penindasan, dan pembangkangan terhadap para nabi.
Allah memberikan peringatan tegas bahwa jika kaum tersebut berbuat kerusakan di bumi (yaitu, melakukan kezaliman besar), maka Allah akan mengirimkan musuh yang menghancurkan mereka untuk kedua kalinya. Terjemahan bagian ini menjadi pelajaran abadi bagi umat Islam: kemakmuran dan keamanan bukanlah jaminan mutlak jika pondasi keadilan dan ketaatan kepada prinsip-prinsip Ilahi telah runtuh.
Penutup dan Kesimpulan
Surah Al-Isra mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia). Dari keagungan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW hingga detail etika harian dalam berinteraksi dengan orang tua dan masyarakat, surah ini memberikan peta jalan yang komprehensif. Membaca dan memahami terjemahan Al-Isra secara mendalam akan memperkaya iman dan mengarahkan perilaku kita menuju keridhaan Ilahi.