Ilustrasi: Ketetapan dan Jalan Yang Ditetapkan
Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, kisah para nabi, dan perjanjian-perjanjian ilahi. Ayat 24 dari surat ini secara spesifik menyoroti momen krusial dalam sejarah kenabian, yaitu interaksi antara Allah SWT dengan Nabi Musa AS di Bukit Tursina. Ayat ini seringkali muncul setelah pembahasan mengenai penolakan kaum Bani Israil untuk memasuki Baitul Maqdis (Palestina) yang telah diperintahkan Allah.
Pernyataan ilahi ini menegaskan status istimewa Nabi Musa AS. Frasa "إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ" (Sesungguhnya Aku telah memilihmu di antara manusia) menunjukkan bahwa Allah memilih beliau bukan karena kehebatan pribadinya semata, melainkan sebagai bentuk kemurahan dan kebijaksanaan-Nya untuk memikul beban risalah yang berat. Pemilihan ini dilakukan untuk membawa umatnya keluar dari perbudakan Firaun dan membimbing mereka menuju janji Allah.
Ayat ini menyebutkan dua elemen utama yang menjadi keistimewaan Nabi Musa: "بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي" (dengan risalah-risalah-Ku dan dengan kalam-Ku).
Risalah (Risalah-risalah-Ku) merujuk pada wahyu-wahyu yang dibawa Nabi Musa, termasuk syariat, hukum, dan petunjuk hidup yang harus disampaikan kepada kaumnya. Ini adalah tanggung jawab formal seorang rasul.
Sementara itu, Kalam (Kalam-Ku) merujuk pada komunikasi langsung Allah dengan Nabi Musa, yang paling terkenal adalah ketika Allah berbicara kepadanya tanpa perantara, seperti yang terjadi di Tursina saat Taurat diturunkan. Keistimewaan ini membuat kedudukan Nabi Musa sangat tinggi di antara para nabi lainnya.
Setelah menegaskan kehormatan dan amanah besar yang diberikan, Allah memberikan dua perintah inti: "فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ" (Maka ambillah apa yang telah Aku berikan kepadamu) dan "وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ" (dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur).
Perintah "Ambillah" mengandung makna menerima amanah tersebut dengan sungguh-sungguh, melaksanakannya, dan mengajarkannya kepada kaumnya, terlepas dari tantangan yang akan dihadapi. Ini adalah seruan untuk aktif dalam menjalankan tugas kenabian.
Bagian kedua, yaitu bersyukur, adalah penutup yang universal bagi setiap nikmat. Rasa syukur di sini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi perwujudan dalam tindakan (amal saleh) dan ketenangan jiwa dalam menghadapi ujian. Bagi seorang nabi, syukur berarti menunaikan tugas dengan sempurna, dan bagi umatnya, syukur berarti mengikuti ajaran yang dibawanya.
Meskipun ayat ini ditujukan langsung kepada Nabi Musa, maknanya meresap hingga kepada kita sebagai umat Islam. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap keistimewaan atau nikmat yang kita terima, baik ilmu, posisi, maupun kemampuan, adalah titipan (amanah) dari Allah.
Pertama, kita harus sadar bahwa setiap kelebihan yang kita miliki berasal dari pilihan dan karunia Ilahi, bukan semata-mata hasil jerih payah sendiri. Kedua, setelah menerima karunia tersebut, kita wajib menjalankannya secara maksimal (bertindak/beramal), dan yang paling penting, selalu menyertai tindakan tersebut dengan rasa syukur. Rasa syukur inilah yang menjaga nikmat tersebut tetap utuh dan bahkan bertambah, sebagaimana janji Allah dalam surat Ibrahim.
Kisah Nabi Musa dalam Al-Maidah 24 adalah pengingat abadi bahwa kepemimpinan spiritual tertinggi selalu diiringi tanggung jawab terbesar, dan keberhasilan sejati hanya diraih oleh mereka yang mampu menerima pemberian Allah dengan rasa syukur yang mendalam.