Kisah Habil dan Qabil: Pelajaran dari Al-Ma'idah Ayat 27

Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang sarat akan makna hukum, syariat, dan pelajaran sejarah penting bagi umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang fundamental, ayat ke-27 menyimpan kisah dramatis tentang dua anak Adam: Habil dan Qabil (Kabil).

Ayat ini tidak hanya menceritakan konflik pertama antarmanusia, tetapi juga menjelaskan tentang hakikat ketaatan, keadilan ilahi, dan konsekuensi fatal dari kebencian yang berujung pada pembunuhan. Memahami konteks dan pelajaran di dalamnya sangat krusial, terutama di tengah realitas sosial yang kerap dipenuhi konflik.

Teks dan Terjemahan Al-Ma'idah Ayat 27

وَاَتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima (kurban) dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Berkata (Qabil): 'Aku pasti akan membunuhmu.' Berkata (Habil): 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Ma'idah: 27)

Kisah Awal Perselisihan Manusia

Kisah ini dimulai dengan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan berita tentang dua putra Adam kepada kaumnya. Meskipun Al-Qur'an tidak menyebutkan nama mereka secara eksplisit, tafsir merujuk pada Habil dan Qabil. Mereka adalah anak-anak pertama Adam dan Hawa yang tumbuh dewasa dan menjalankan syariat sederhana yang diwahyukan saat itu, yaitu berupa persembahan atau kurban kepada Allah SWT.

Dalam tradisi yang diwarisi, kurban dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Habil, yang digambarkan sebagai seorang penggembala yang saleh, mempersembahkan hewan ternaknya yang terbaik. Sementara itu, Qabil, yang konon seorang petani, mempersembahkan hasil buminya yang mungkin kurang berkualitas atau ia lakukan tanpa ketulusan hati.

Konsekuensi yang terjadi adalah murni kehendak Ilahi: kurban Habil diterima, sementara kurban Qabil ditolak. Penerimaan ini bukanlah sekadar masalah formalitas persembahan, melainkan cerminan dari kondisi batin para pelakunya. Penerimaan kurban menunjukkan bahwa Allah SWT melihat niat dan ketakwaan di dalam hati.

Pemicu Hasad dan Pembunuhan Pertama

Penolakan kurban tersebut memicu reaksi yang sangat negatif dalam diri Qabil. Dalam dirinya tumbuh rasa iri, dengki, dan hasad yang mendalam. Reaksi Qabil adalah sebuah indikasi bahwa ia lebih mementingkan pengakuan diri dan gengsi daripada ketaatan murni kepada Sang Pencipta. Ia kemudian meluapkan kekecewaan dan amarahnya dengan ancaman pembunuhan yang sangat tegas: "Aku pasti akan membunuhmu."

Ayat ini mencatat momen krusial: lahirnya kejahatan terbesar—pembunuhan—ke muka bumi. Kejahatan ini berakar dari rasa iri akibat kegagalan dalam ibadah dan kurangnya pengakuan atas superioritas orang lain dalam hal ketakwaan.

Jawaban Habil: Pilar Ketakwaan

Jawaban Habil adalah inti ajaran moral dari ayat ini. Alih-alih membalas ancaman dengan ancaman, Habil menunjukkan kedewasaan spiritual dan pemahaman mendalam tentang prinsip ketuhanan. Ia menjawab dengan tenang dan bijak:

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa."

Ini adalah definisi singkat namun padat tentang ketakwaan (al-muttaqin). Ketakwaan bukan hanya terlihat dari ritual luar, melainkan kesadaran batin yang membuat seseorang tunduk dan patuh pada perintah Allah, bahkan jika hal itu berarti ia harus mengalah atau menerima kenyataan yang pahit. Habil menekankan bahwa standar Allah adalah kualitas hati, bukan kuantitas atau keindahan materi persembahan.

Pelajaran Abadi untuk Umat Kontemporer

Kisah Al-Ma'idah ayat 27 relevan hingga hari ini. Pertama, ayat ini mengajarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan—ibadah, kompetisi, atau pencapaian—niat yang tulus dan landasan takwa adalah penentu utama penerimaan di sisi Allah. Kegagalan sering kali bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena kemurnian hati yang tercemari iri hati dan ego.

Kedua, ayat ini menjadi peringatan keras terhadap bahaya kebencian yang tidak dikelola. Pembunuhan Habil adalah contoh nyata bagaimana hasad bisa merusak hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (antar sesama manusia). Dampak pembunuhan pertama ini sangat besar, menandai dimulainya tragedi pertumpahan darah manusia yang terus berlanjut.

Oleh karena itu, ayat ke-27 Surat Al-Ma'idah ini berfungsi sebagai cermin moral, mengajak setiap mukmin untuk selalu mengintrospeksi diri, menjaga hati dari sifat dengki, dan memastikan bahwa setiap amal perbuatan didasari oleh fondasi ketakwaan yang kokoh, sebagaimana dicontohkan oleh Habil.

Visualisasi Dua Sosok dengan Persembahan yang Berbeda Qabil Kurban Habil Diterima VS
🏠 Homepage